Jurnalisme ‘Positif’ vs Jurnalisme Investigatif

‎Sekitar setahun yang lalu, saya berkesempatan menghadiri sebuah seminar yang digelar IFC (International Finance Corporation) dan sempat ada pertentangan antara para jurnalis yang ada di dalamnya. Salah satunya ialah karena satu orang pembicara di depan mengatakan pihaknya hanya akan mendukung publikasi berita yang “positif”, sementara untuk publikasi berita yang bersifat investigatif, mereka tidak akan mempublikasikannya. “Kami ingin menyebarkan kabar baik, bukan kabar buruk,”begitu katanya pada kami yang hadir.

Opininya itu disanggah oleh seorang jurnalis lainnya yang menganggap hal semacam itu sebagai penyia-nyiaan hak pers media yang bisa mengabarkan hal-hal yang tak kalah penting daripada berita-berita manis dan normal belaka. ‎Sangat disayangkan kalau wartawan hanya mengangkat hal-hal yang diinginkan tetapi enggan membeberkan hal lain yang kurang mengenakkan tetapi patut diketahui orang, demikian kurang lebih si jurnalis membantah.

Hal yang sama juga terjadi di negeri Paman Sam lho! Kalau Anda pikir kondisi semacam ini cuma ditemui di tanah air, Anda salah besar. Beberapa hari lalu, saya membaca sebuah artikel yang ditulis Paul Carr di blog teknologi dan startup Pando.com yang berisi pergulatan serupa. Dalam sebuah diskusi panel yang melibatkan dua jurnalis perempuan terkemuka di dunia teknologi dan startup, terjadi sebuah pembeberan publik yang bisa dikatakan cukup sadis. Alexia Tsotsis (editor blog Tech Crunch) dan Kara Swisher (pendiri blog Re/Code) masing-masing menunjukkan perbedaan sikap dalam meliput dan bekerja sebagai jurnalis. Tsotsis terkesan lebih lunak, lebih jinak dan mencerminkan kebijakan umum Tech Crunch yang menjilat penguasa, dengan memberitakan hal-hal yang menyenangkan. “Kami hanya penggembira,”begitu kata Tsotsis. Lebih lanjut Tsotsis berkata betapa ia terus berdoa agar dalam kotak masuk surelnya tidak dimasuki bocoran informasi dari pihak-pihak kontra pemerintahan Obama seperti informasi dari Edward Snowden yang amat kontroversial itu. Ia bahkan mengatakan menolak untuk mengangkat informasi seperti itu dalam blog yang dikelolanya.

Lain dengan Kara Swisher yang telah dikenal dengan reputasi jurnalismenya yang telah teruji dan tak peduli dengan pihak yang berisiko dibuat berang dengan pemberitaan yang ia turunkan, yang menolak untuk menulis hanya untuk menjilat satu pihak saja. Carr pun memuji:”Setidaknya Swisher adalah jurnalis yang hebat. Re/Code juga situs berita yang bagus.” Swisher menegaskan dirinya tidak pernah menolak bocoran informasi seperti milik Edward Snowden dan seolah “memaksa” Tsotsis untuk mengakui keunggulan jurnalisme dan integritas editorial Red/Code. Tsotsis pun menyatakan dengan jujur,”Karena itulah kau lebih baik dari kami.” ‎
Berikut kutipannya:

“”I never say that,” Swisher said.

“That’s why you’re better than us,” Tsotsis said sweetly.”

Carr yang menganut idealisme dalam bekerja ini mengatakan betapa memalukannya pengakuan Tsotsis sebagai editor sebuah organisasi media besar seperti Tech Crunch itu. Bagaimana bisa ia mengakui bahwa organisasinya tunduk di bawah kekuasaan lain?

Yang tak kalah menyedihkan: Inilah fakta yang juga merundung banyak organisasi berita di Indonesia dari jaman baheula sampai SBY berkuasa.

20140718-184304-67384137.jpg

1 Comment

Filed under journalism

One response to “Jurnalisme ‘Positif’ vs Jurnalisme Investigatif

  1. The death of decent journalism.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s