Alkisah di Masjid KPU…

‎Hari Jumat siang tanggal 11 Juli itu suasana begitu teduh. Banyak polisi yang berjaga datang ke masjid satu ini untuk duduk mendengarkan khotbah Jumat. Para pegawai KPU juga ada. Para kuli tinta laki-laki yang muslim juga berdatangan. Semuanya membaur. Di luar matahari bersinar terik. Seterik suhu politik Indonesia.

Sebenarnya ukuran kantor KPU Pusat di Teuku Umar ini terbilang kecil mungil. Saya tak tahu ukuran persisnya tapi yang pasti tak semegah Istana Negara atau Istana Maemun (random saja, teringat pertanyaan kuis Jari-jari yang dipandu Pepeng). Bangunannya kuno dan khas Belanda tetapi dipugar dan dirombak sana-sini di bagian depan. Di dalam cita rasa arsitektur zaman dulu masih terasa. Art Deco mungkin istilahnya. Benarkan jika saya salah. Tetapi bagi saya, meski mungil dan kuno, inilah istana demokrasi termegah di negeri ini. Bagaimana tidak? Saat ini dan besok semua perhatian menuju ke gedung mungil itu.

Saya ‘terpaksa’ solat Jumat di masjid itu karena harus berada di sana pagi dan siang itu untuk mendapatkan informasi untuk saya tulis dan sebarkan dari para narasumber lembaga pemantau pemilu partikelir yang menggelar jumpa pers di sana. Mereka itu selalu berkata:”Pemilu kali ini adalah yang paling banyak menarik animo rakyat.” Tentu saja. Rakyat kita makin ‘terdidik’, makin cerdas, makin cekatan mengakses informasi dan makin MUAK dengan kondisi negeri yang begini-begini saja. Mereka mau perubahan nyata! Bukan reformasi yang cuma retorika!

Saya juga peduli. Saya tidak secuek yang terlihat. Jujur, saya dulu sempat menyebarkan selebaran PAN yang bergambarkan Amien Rais, sosok paling reformis kala itu. Namun, itu saat saya masih kelas dua SMA. Saya bodoh dan saya dicemooh teman-teman sekelas karena membawa selebaran yang kata mereka jelek itu. Kini saya sependapat dengan mereka. PAN jadi sarang selebriti dan cenderung korup karena sudah menjadi bagian inti kekuasaan alias status quo. Amien Rais jadi arogan dan plin-plan. Semuanya mengecewakan. Saat kuliah, saya memilih SBY dan kembali kecewa. Tak usah dibahas mengapa. Toh kita tahu semua.

Jadi saya pikirkan dengan masak-masak,”Berhenti idolakan orang. Nanti akhirnya cuma mendapatkan rasa kecewa.” Dukung ide-ide dan programnya yang paling menarik dan baik di mata saya, itu saja. Cukup. Selebihnya adalah fanatisme. Tak selalu buruk, tetapi jika sudah berkembang liar, pastinya menjadi destruktif.‎ Bukan cuma menghancurkan pihak lain tetapi juga diri sendiri. Karena berusaha mendukung ide itulah, saya bisa perdebatan yang tak perlu dilakukan. Karena kebanyakan debat cuma menyinggung isu personal.

“Semua perbuatan itu tergantung niatnya…”tutur khotib siang itu lembut, membuka khotbahnya. Seperti biasa saya duduk bersila menopang dagu. Kalau pegal di kiri, saya pakai tangan kanan. Kalau pegal di kanan, saya alihkan ke kiri. Begitu seterusnya hingga khotbah selesai.

Saat saya hampir tersungkur ke depan karena kantuk, khotib berkata lagi,”Teliti lagi setiap aktivitas kita. Apakah saat memulainya kita sudah meniatkannya untuk beribadah kepada-Nya?”

Saya merasa angin meniup sepoi dan sedikit terlena, kepala menunduk.

“Seperti saat pemilu seperti sekarang…”

Oh, ia mengkaitkannya dengan kondisi aktual juga. Saya masih berada di ambang sadar dan bawah sadar.

“Bayangkan betapa banyaknya pahala jika seorang polisi yang bekerja mengamankan jalannya pemilu ini meniatkan tugasnya setiap hari atas nama ibadah…”

Suaranya terbawa angin. Ada hening lalu ia mulai lagi.

“Semua aktivitas positif bisa berbobot ibadah‎ jika kita niatkan sebagai cara untuk berbuat kebajikan bagi sebanyak mungkin orang…”

Ah, ya mereka benar. Lalu saya seperti terseret dalam bathtub berisi air hangat. Mata saya tertutup rapat dan telinga saya menjadi kurang peka dengan keriuhan yang menggejala di permukaan.

Tenang, tenang dan tenang…

Tenang sekarang

Tenang besok

Selamanya!

Leave a comment

Filed under miscellaneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s