Cipularang, Keindahan di Jalur Selatan

‎Tahun ini berkat bermasalahnya jembatan Comal di Pemalang, Jawa Tengah, saya berhasil menemukan keelokan pemandangan yang sama sekali baru. Saya tidak mau bersumpah serapah atau stres hanya karena jembatan itu tidak bisa dilalui. Inilah mungkin salah satu cara menjadi fleksibel dalam hidup, yakni menikmati yang masih bisa dinikmati, tanpa harus banyak memusingkan hal yang di luar kendali kita.

Melewati tol Cipularang, saya terhibur dengan pemandangannya yang permai. Kalau lewat jalur Pantai Utara, yang bisa disaksikan adalah hamparan sawah berupa ribuan batang padi yang tumbuh sangat subur. Ada yang menguning, ada yang masih hijau, ada pula yang masih pendek batang-batangnya. Cuaca pun lebih basah, untuk ukuran bulan-bulan pertengahan tahun seperti Juli saat ini.

Bila saya melewati Cipularang di malam hari, mungkin yang saya rasakan adalah bergidik ngeri dengan rekam jejaknya yang relatif buram sebagai ruas jalan tol. Pernah terjadi beberapa kecelakaan fatal dan longsornya jalan di sini. Dan memang jika ditilik dari kontur tanahnya yang berbukit-bukit, sepertinya kondisi geologisnya bukanlah yang ideal sebagai lahan untuk jalan tol. Terlalu labil. Tanahnya terbukti penuh gerakan. Saya sempat menyaksikan retak-retak di badan jalan hotmix, yang bisa longsor atau ambles tanpa peringatan.

Namun, di sore dan petang itu pemandangan di luar masih bisa terlihat. Yang mengagumkan adalah menyaksikan bagaimana kokohnya jembatan-jembatan penyambung jalur kereta api peninggalan Belanda yang malang melintang antara satu bukit ke bukit lainnya. Meski hampir seabad berdiri di alam bebas, tak terlindung oleh apapun juga di bawah cuaca yang berubah-ubah dan ekstrim, toh masih berdiri kokoh. Bandingkan dengan banyak proyek saat ini yang menggunakan teknik konstruksi yang terkesan asal-asalan. Lengkungan-lengkungannya sungguh mengagumkan. Jarang dijumpai bangunan bergaya demikian di Indonesia.

Sawah-sawahnya juga mengingatkan saya dengan terasering khas Ubud di Bali. Sangat indah ditimpa sinar matahari sore yang makin redup di akhir bulan Syawal 1435 H.

Selamat Idul Fitri…
Minal aizin wal faidzin …
Taqoballahu minna wa minna wa minkum…

Leave a comment

Filed under miscellaneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s