Menelusuri Riwayat Iowa, Ibukota Sastra Dunia (2)

tabardSebelumnya: “Menelusuri Riwayat Iowa, Ibukota Sastra Dunia (1)”

Kepenulisan Kreatif sebagai Disiplin Ilmu Akademis

Carl Seashore, seorang psikolog yang tertarik dengan pengukuran bakat musik dan skolastik, mengepalai Graduate College (semacam Program Master/ S2) saat 1922 Iowa menjadi kampus besar pertama di AS yang bersedia menerima karya-karya sastra kreatif untuk gelar lanjutan, bukan hanya sarjana/ S1. Mereka memberikan gelar Master of Fine Arts dengan 4 konsentrasi berbeda: Musik, Seni Drama, Seni Plastik dan Grafis, dan Kepenulisan Kreatif.

Dalam lingkup pascasarjana seperti ini, perkembangan seni menjadi makin bergairah. Edward C. Mabie (pengajar Bahasa Inggris dan Pidato 1920-1955) makin dikenal dengan program teaternya. Brent Wood muncul dengan kiprahnya dalam dunia seni lewat program seni University of Iowa karena tema regionalitasnya. Iowa juga tidak hanya makin melejit dalam sastra tetapi juga seni secara umum. Para mahasiswa berlomba-lomba menghasilkan komposisi musik baru, lukisan, koleksi puisi. Dua orang mahasiswa yang paling menonjol saat itu ialah Wallace Stegner dan Paul Engle. Engle menulis sebuah buku koleksi puisi, yang juga adalah bahan tesisnya, yang kemudian dipublikasikan untuk umum untu pertama kalinya di kampus tersebut. Ini berbeda dengan tesis-tesis di Indonesia yang kebanyakan menganalisis karya-karya sastra milik orang lain dan tidak diperkenankan untuk dibaca kalangan umum. Akibatnya, koleksi tesis menjadi kumpulan kertas berdebu di rak perpustakaan.

Tidak Cuma Jadi Kritikus, Tetapi Produsen

Meski kepenulisan kreatif sudah mulai berkembang, kurikulum bahasa Inggris di Iowa masih fokus pada beasiswa. John Towner Frederick, pengajar di University of Iowa dan pegiat klub kepenulisan, menyadari bahwa hal ini bisa kontraproduktif bagi perkembangan sastra Midwest. Jika jati diri sastra Midwest ingin ditegakkan, fokus yang terlalu berlebihan pada studi ilmiah terhadap bahasa dan sastra perlu dibatasi. Dalam sebuah surat pada pimpinan kampus, Frederick menuliskan:

“I know that you are fully aware of the many evidences of a rapidly awakening literary consciousness in Iowa and in the other states of the middle west. Chiefly because of the foundations laid by Professor Ansley and professor Hunt, and in some degree because of the work of Professor Piper, Professor Mott and myself, the University of Iowa is in position of acknowledged leadership in this development. I believe that the people of the state recognize and value this achievement of the university.

In recent years, however, the tendency in our English department has been toward increased emphasis upon philological investigation. It dominates our graduate work to the almost complete exclusion of creative effort. The natural effect is to fill the ranks of our instructors with men and women whose primary interests are in research, and this interets is of course expressed in their teaching. Within a few years, by the continuation of this process, our leadership in creative effort in our region will be lost. […]”

Inilah sebuah keprihatinan yang patut diapresiasi dari seorang akademisi yang ingin agar para mahasiswanya tidak cuma bisa membedah karya milik orang lain dengan perangkat teori dan penelitian kebahasaan tetapi juga mampu menghasilkan karya-karya sastra sendiri. Hal inilah yang sedang kita alami dan saya sendiri rasakan selama menempuh pendidikan di kampus-kampus Indonesia. Kecenderungan untuk menjadikan bangku kuliah sebagai sebuah meja penelitian daripada meja untuk menuangkan ide-ide kreatif terlihat dari preferensi para pengajar dan mahasiswa dalam penyusunan karya akademis untuk menentukan kelulusan. Seseorang dianggap lulus jika mampu menganalisis karya, bukan memproduksi karya. Alhasil, lulusan menjadi ‘kurang tajam’ saat harus menjadi sastrawan, dan berakhir menjadi kritikus semata. Namun, jangankan menjadi kritikus, sebagian besar malah tidak lagi menekuni sastra setelah mengantongi gelar Sarjana Sastra atau Magister Susastra.

Seorang pengajar sepakat dengan gagasan yang dilontarkan Frederick untuk memperkuat aspek produksi kreatif sastra di kampus mereka. Norman Foerster (Direktur School of Letters tahun1930-1944) yang belajar di Harvard University menyadari perlunya perhatian khusus pada kepenulisan kreatif.

Hingga dekade 1930-an, kelompok-kelompok sastra seperti The Times Club mengundang beberapa sosok terkenal dalam dunia sastra untuk berbagi karya dan pandangan mereka di Iowa. Audiens berkerumun untuk menyaksikan, misalnya, Thomas Hart Benton, Langston Hughes dan Stephen Vincent Benet. University of Iowa meneruskan tradisi tersebut.

Secara formal program kepenulisan kreatif (Creative Writing) dibuka tahun 1936. Di tahun 1939, jurusan ini baru memiliki pimpinan. Seorang lulusan Harvard bernama Wilbur Schramm datang ke kampus ini untuk mengikuti pendidikan S3 di bidang Sastra Inggris. Bakat menulis Schramm amat memukau. Ia sering menulis cerita di berbagai media dan sebagai pengajar, Schramm juga mengampu sebuah kelas bernama “Writers’ Workshop”. Istilah “workshop” seolah menjadi penegas bahwa ilmu menulis bukan cuma bakat bawaan seseorang tetapi juga bisa dipelajari, diajarkan dan dapat ditularkan pada sebanyak mungkin orang. Schramm seolah ingin menunjukkan bahwa meskipun bakat diperlukan jika ingin menjadi penulis, bakat itu sendiri bisa dibentuk dan ditempa melalui praktik yang intensif. Semangat utama dalam workshop semacam itu ialah bahwa bakat bisa ditemukan, bisa dibentuk, dan bisa diajarkan. Di saat yang sama, harus diakui bahwa ada elemen-elemen yang tak bisa diajarkan, misalnya seni di dalam sastra. Tetapi sekali lagi, ada juga unsur-unsur yang bisa diajarkan seperti bentuk dan tata cara menulis yang baik dan menarik bagi pembaca. (bersambung)

3 Comments

Filed under writing

3 responses to “Menelusuri Riwayat Iowa, Ibukota Sastra Dunia (2)

  1. Pingback: Menelusuri Riwayat Iowa, Ibukota Sastra Dunia (1) | Akhlis' Blog

  2. Pingback: Menelusuri Riwayat Iowa, Ibukota Sastra Dunia (3) | Akhlis' Blog

  3. Pingback: Menelusuri Rwayat Iowa, Ibukota Sastra Dunia (4) | Akhlis' Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s