Menelusuri Riwayat Iowa, Ibukota Sastra Dunia (4)

(Image credit: University of Iowa)

Paul Engle reads before his students. (Image credit: University of Iowa)

Warisan Engle

Sepanjang dekade 1940-an dan 1950-an, Paul Engle memimpin The Iowa Writers’ Worskhop menuju kancah dunia. Memasuki 1960-an, workshop tersebut memasuki sebuah periode yang makin menggembirakan seiring dengan makin luasnya jejaring Engle ke seluruh dunia. Para kenalannya dalam dunia sastra di negeri-negeri lain makin memperkaya lembaga yang ia kelola. Ia mengundang para sastrawan asing seperti Bharati Mukherjee, Sunil Gangopadhay dan Hualing Nieh. Di sini, mereka bekerja bersama dalam wadah baru yang didirikan Engle: Poetry Translation Program. Mulai dari program inilah, Engle ingin memperkenalkan Iowa sebagai sebuah pusat berkumpulnya para sastrawan dunia, tidak hanya menjadi wadah sastra lokal Midwest.

Namun, misi Engle itu tidak akan sedemikian mudah dicapai karena ia makin mendapatkan tentangan dari para pengajar lainnya di University of Iowa. Ia dianggap terlalu berfokus pada The Iowa Writers’ Workshop dan membawa pengaruh yang kurang baik dengan mencampuradukkan bisnis dalam dunia pendidikan. Padahal ia bermaksud menggabungkan bisnis dengan pendidikan dan sastra sebagai cara untuk memajukannya melalui kerjasama yang saling menguntungkan. Perusahaan-perusahaan dirangkul oleh Engle dalam memberikan sponsor berupa beasiswa bagi para mahasiswa, yang tentunya akan sangat meringankan beban mereka dalam menempuh pendidikan di lembaga yang dipimpin Engle. Ia menjadi bagian dari program kebudayaan pemerintahan Kennedy saat itu dan banyak bepergian ke ibukota karena tugas negara. Perseteruan di antara para pengajar lainnya dengan Engle makin memuncak hingga Engle mengundurkan diri tahun 1965 dari The Iowa Writers’ Workshop. Namun, di saat-saat terakhirnya menjadi pucuk pimpinan workshop, Engle telah mewariskan sebuah pondasi yang amat berharga bagi perkembangan lembaga tersebut selanjutnya.

Keluar dari The Iowa Writers’ Workshop, langkah Engle dalam dunia sastra tidak berhenti begitu saja. Ia memfokuskan dirinya membangun International Writing Program, yang ia sudah rintis sejak akhir dekade 1950-an bersama penyair Tiongkok Hualing Nieh. Program baru ini resmi lahir tahun 1967. Mereka dan sejumlah sastrawan bersama-sama menerjemahkan puisi-puisi berbahasa asing dari beberapa negara lain. Para pegiat sastra asing diundang ke Iowa untuk merasakan kehidupan di sana dan berbagi dan berdiskusi mengenai sastra. Engle mendirikan International Writing Program sebagai respon atas tiadanya wadah berskala dunia yang menyatukan sastrawan dari berbagai pelosok dunia. Engle dan Nieh kemudian menikah tahun 1971. Atas sumbangsih pasangan itu dalam menghubungkan para sastrawan dari berbagai negara, mereka dicalonkan sebagai penerimah Anugerah Nobel Perdamaian (Nobel Peace Prize) tahun 1976.

Paul Ingram, seorang penulis AS, mengatakan tahun dua dunia yang berbeda terbentuk di Iowa: politik dan sastra. “Dan keduanya bercampur dengan sempurna,”kenang Ingram. Para muda-mudi di Iowa beramai-ramai berunjuk rasa untuk menyatakan penentang mereka dengan pengiriman tentara ke luar negeri dan menyerukan untuk menghindari peperangan dan kekerasan berdarah.

Baca juga:

“Menelusuri Riwayat Iowa, Ibukota Sastra Dunia (1)”

“Menelusuri Riwayat Iowa, Ibukota Sastra Dunia (2)”

Menelusuri Riwayat Iowa, Ibukota Sastra Dunia (3)”

(bersambung)

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s