Perihal Nama

‎Mengutip kalimat Shakespeare, “Apalah arti nama?” Ya, memang sangat penting dan berarti! Setiap benda saja punya nama, mengapa manusia tidak perlu?

Tetapi memilih nama juga bukan sesuatu yang mudah. Ada begitu banyak kata yang bisa dipilih. Bayangkan Anda akan punya anak, dan anak itu tentu ingin memiliki nama agar bisa didaftarkan ke kantor catatan sipil dan kemudian dipanggil teman-teman dan gurunya di sekolah dan di tempat bermain. Kalau dipikir lagi, nama itu juga penting dalam hidup. Tanpa nama, eksistensi orang tidak bisa diakui. Siapa yang tidak sakit hatinya kalau dipanggil,”Heh, kamu… ” atau diingat sebagai “pak kimia” oleh murid Anda yang cuma ingat nama mata pelajaran yang Anda ajarkan di sekolah, atau “mas mas tadi yang ada di sini” oleh orang yang menemukan dompet Anda yang ketinggalan dan frustrasi karena kartu identitas Anda tak memuat nama apapun.

Urusan nama ini menjadi menarik perhatian begitu kemarin saya disentil seorang teman kuliah. Begitu tiba-tiba‎. Saya merasa sekonyong-konyong menohok. “Bukannya dulu kamu pernah bilang namamu artinya ikhlas?”selorohnya. Seingat saya, saya tidak pernah mengklaim demikian. Saya bahkan menampiknya, karena menurut saya “akhlis” adalah anagram “ikhlas”, yang bisa dianggap sebagai saling berlawanan. Saya malu mengakui ikhlas karena sadar sepenuhnya saya bukan orang dengan watak alami ikhlas. Kalau saya ikhlas, bisa dipastikan dinding Facebook dan linimasa Twitter serta Path saya akan jauh lebih hening dan bebas dari keluhan-keluhan sepanjang mudik yang lalu.

‎Berbekal kegelisahan itu, saya bertanya pada seorang teman baru yang kebetulan mendalami bahasa Arab selama bertahun-tahun. Saya ingin memastikan tebakan saya itu betul atau cuma ilusi dalam benak. Jawabnya,”Kholis itu maknanya orang yang ikhlas.” Ah, iya saya pernah memiliki guru bernama Nur Kholis dan ia sabar bukan main saat mengajar muridnya. Ia melanjutkan,”Akhlis itu fi’il amar atau perintah. Jadi disuruh belajar ikhlas kali…” Simpulan dari percakapan saya dengannya: saya sudah disuruh ikhlas sejak kecil oleh orang tua. Padahal saya tipe orang yang jika disuruh makin malas, dan jika dibiarkan makin rajin. Sebuah perintah yang kontraproduktif, bisa dikatakan demikian. Dan saya harus membawa perintah ini hingga mati.

Untuk melengkapi semua itu, di saat saya sudah merasa cukup dengan masalah nama, di Twitter seseorang bernama Akhlis Munazilin menjadi pengikut saya. Saya saja baru mengenal 1 Akhlis sejak lahir, yaitu seorang teman di SMP. Baru saja hari ini ia mengikuti saya. Entah karena apa, tetapi besar kemungkin hanya karena kemiripan nama. Usut punya usut, ia berinisiatif mention semua pengguna Twitter dengan nama Akhlis. Begini cuit si Akhlis di linimasanya:

‎”@akhlismunazilin: Selamat datang para akhlis di sini🙂 @akhlis_p_l @akhlismaulaana @akhlis_tawakal @AKhIis @akhlisrajasa @akhlisHP @akhlis_69 @akhlisae dll y”

Dan ia juga orang Kudus. Sama seperti saya. Bedanya ia dengan bangga berfoto bersama keluarganya di depan Menara Kudus di avatarnya. Saya berfoto di Tembok Besar China sebagai pengisi avatar saya. Saya memang orang yang jarang bangga dengan kelokalan saya. Kalau ada fenomena xenophobia, yang saya alami mungkin kebalikannya:xenofilia.

Semua kebetulan ini terasa begitu mengerikan.‎

Leave a comment

Filed under miscellaneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s