Para Pemudik ‘Sadomasokis’ yang Mirip Salmon

‎”Ah nggak tau deh, pusinggg!!!”

Begitu keluhnya saat mengingat-ingat detil perjalanan‎ mudik kemarin. Gila, membuat menderita, sengsara tiada tara. Itulah potret mengenaskan para pemudik seperti bu kos, saya, dan mungkin Anda para pembaca.

“Ah kapok deh kalau begini.! Tahun depan gak bakal mudik lagi…”bu kos mengatakan ‎pada saya. Teman-temannya juga berpikir begitu. “Tapi lihat saja nanti beberapa bulan sebelum Lebaran taun depan pasti pada ribut ngajakin dan nanya-nanya mau pulang nggak,”ia berkata nyinyir tentang orang-orang sekampungnya yang ikut serta dalam perjalanan darat menuju ibukota, yang memakan waktu 26 jam itu.

‎Pemudik-pemudik ini mengingatkan saya pada novel sadomasokis karya E. L. James “Fifty Shades of Grey”. Si karakter utama wanita begitu terpesona dengan ketampanan, kekayaan dan kebinalan si protagonis pria sampai-sampai tidak keberatan disiksa saat berhubungan badan.

Sungguh, mereka yang mudik ini juga sangat tersiksa dengan apa yang dialami sepanjang perjalanan itu. Kegerahan, kelaparan, kehausan, belum lagi harus menahan hajat sampai di luar kemampuan dan pegal di sekujur badan. Tetapi mereka tetap saja kecanduan, tetap terus menikmati semua siksaan, karena kenikmatan juga sudah terbaur rata di dalamnya. Sulit diuraikan lagi. Dapat dikatakan keduanya sudah seperti unsur kimia berbeda yang telah bersenyawa.

Semua daya upaya tampaknya sudah dikerahkan untuk membuat mudik tambah aman, nyaman dan murah. Namun, toh tetap saja ada yang kurang. Apa yang kurang? Kepatuhan pemudik untuk diatur rupanya.

Kabarnya, mudik dengan kapal laut juga ‎disediakan secara cuma-cuma oleh pemerintah kita. “Tetapi dari target 300 orang, masak yang ikut cuma 70,”kata bu kos. Bisa jadi karena mereka takut tenggelam, saya beralasan. Tetapi kalau pun tewas tenggelam, bukankah akan dianggap mati syahid? Apalagi masih bulan Ramadhan kala itu. Entahlah, kadang orang Indonesia susah sekali dipahami jalan pikirannya.

Bersama-sama kami mencerca ambrolnya jembatan Comal yang menjadi akar masalah kacaunya mudik darat tahun ini. Dari berbagai hari dan musim yang ada, mengapa ia harus runtuh sebelum hari raya dan selama musim mudik? Tidak seorang pun bisa menjelaskannya. Volume kendaraan yang luar biasa jahanam? Atau konstruksinya yang kurang meyakinkan? Namun, beruntungnya tak ada orang yang terluka saat menyeberang.

Kampung halaman bu kos itu Sukorejo, Jawa Tengah. Kalau menurut ceritanya, udaranya masih sejuk sekali bahkan di malam pertama menginap, ia dan keluarga harus berselimut tebal saat tidur karena lebih terbiasa udara panas Jakarta. ‎Masih banyak pepohonan di sana, bahkan ada perkebunan karet yang lumayan luas.

Bagi sebagian orang, mudik bisa semudah mengendarai motor ke desa tetangga. Seperti apa yang dialami orang tua saya dan seorang bapak rekan kerja di kantor. “Nggak ke mana-mana. Di Jakarta saja. Orang tua saya kan asli sini,”tukas bapak itu setelah saya bertanya.

Itu yang amat beruntung. Tidak perlu bersusah payah, menyengsarakan diri di tengah aliran lalu lintas jutaan manusia ‎yang mirip ikan-ikan salmon yang hendak bertelur sehingga membahayakan diri menerjang arus sungai yang bukan main derasnya ‘cuma’ untuk bertelur di hulu. Dasar salmon-salmon gila! Padahal sudah tidak terhitung jumlah salmon pendahulu mereka yang gugur di tengah rute akibat terkaman hewan predator seperti beruang. Toh mereka tetap saja begitu. Seolah kebandelan dan kekeraskepalaan itu sudah menjadi tradisi, ciri khas atau malah warisan dalam untaian DNA mereka. Spesies yang mengagumkan dan konyol pada saat yang sama.

Saya mungkin salmon sadomasokis juga tetapi bukan jenis yang keras kepala dan mau mempertaruhkan nyawa. Argumentasi saya, Lebaran kan cuma momen budaya. Tradisi semata. Tidak ada kan ayat suci mengharuskan umat muslim berkunjung di hari raya dengan menghalalkan segala cara. Betul kalau kita harus menjaga tali silaturahmi, tetapi apakah silaturahmi wajib dilakukan saat Idul Fitri saja? Banyak momen-momen lain yang juga bisa dimanfaatkan sebagai ajang mengeratkan hubungan yang merenggang. Jangan hanya membatasi silaturahmi saat Idul Fitri.

Sementara itu, bu kos dan keluarganya masih harus berjuang lebih keras. Dengan berbekal uang Rp145.000, anak bu kos sudah bisa sampai ke Pekalongan meski itu artinya harus terjebak dua hari dua malam di kursi bus yang sempitnya membuat kaki tak leluasa karena kemacetan akibat putusnya akses Pantura via jembatan Comal di Pemalang. Bu kos terus menerus cemas: ia kirim SMS, menelepon beberapa jam sekali, hanya untuk mengetahui sudah sampai mana. “Masih di sini, ma. Nggak gerak dari subuh,”begitu balas anaknya. Siapa yang tidak trenyuh? “Kamu sudah makan? Makan apa?” Beruntung si anak membawa bekal. Lalu bu kos mengeluh SMS-nya tak lekas terkirim, dan ternyata pulsanya ludes. Dan ia gusar karena penjual pulsa jelang lebaran sudah makin jarang dan warung depan tutup. Saya pun kena getahnya dan harus membelikan di AlfaMart terdekat yang syukurnya masih terbuka lebar pintunya menyambut pembeli yang makin sepi di sini.

Tak kalah tragis dari sang anak yang berangkat mudik lebih dulu, ibu kos dan suami serta 2 anak lainnya naik bus juga ke Jawa Tengah. Mereka turun Pekalongan lalu naik mobil sewaan dengan biaya yang katanya “selangit”. Kenaikannya 5 kali lipat, baik ojek dan kendaraan roda 4.‎ Semua -termasuk para awak angkutan itu – mau mendapat THR ekstra, persetan yang lain sengsara. Ditantang akan dilaporkan ke DLLAJR atau Kemenhub, mereka dengan lantang menjawab:”Laporin aja sana!!!”

Susahnya menemukan angkutan yang murah dan nyaman juga masih dialami keluarganya. Mereka harus menyewa mobil-mobil pribadi bermuatan banyak seperti Kijang yang disulap jadi mobil travel. “Satu mobil itu ada 15 orang: 7 anak-anak dan 9 orang dewasa,”bu kos berceloteh lagi. Sekarang bayangkan dalam kondisi seperti itu, Anda harus tinggal berdesakan di dalam kendaraan selama sehari semalam lebih. Joknya ditutup, kemudian dilapisi papan. Sopirnya dua orang supaya bisa berganti-ganti.

Dan karena ongkosnya mahal, semua penumpang tidak mau rugi. Separuh barang-barang ditaruh di atap mobil. Separuhnya diletakkan di tempat duduk. “Ada yang bawa pisang, pete, telur… Aduh! Beras!!! Apa aja dibawa!”

Karena tidak sebesar bus yang bertoilet di dalamnya, mobil yang ditumpangi bus kos dan keluarganya harus berhenti cukup sering. Untungnya WC umum bertebaran di sepanjang jalan. Mereka sempat berhenti untuk mandi juga. “Makan, minum, kencing… makan, minum, kencing… terusss! Asal abis makan minum, pada ‘mau kencing mau kencing’ berenti, makan minum, mau kencing mau kencing…berenti.” Tergelak saya mendengar itu. “Kapan nyampenya??!!”keluh bu kos,”Asal capek dikit, ‘aduh nih pantat panas, pinggang pegel, berentiii! Dengkul pegel, berenti..” Belum lengkap, suami bu kos yang katanya kalau naik bus cuma kencing dua kali selama perjalanan saja malah akhirnya kerap kencing berkali-kali, lebih sering.

Anda pikir mobil itu dilengkapi pendingin udara karena si bapak dan penumpang jadi sering kencing. Salah besar! ‎Sepanjang jalan mereka kepanasan saat siang hari lalu kedinginan di malam harinya. Belum cukup, mobil itu bocor saat hujan menerpanya di Banyuputih, Pekalongan dan Batang. Pintu-pintu bocor, membuat yang di dalamnya kebasahan. “Berhenti lagi deh buat beli baju baru yang kering,”tuturnya diiringi helaan napas.

Sebal dengan omelan sesama penumpang yang luar biasa lelah jiwa dan raga, bu kos mengkritik,”Kalau pas susah begini, pada bilang,’Ah, besok nggak mau pulang. Kapok ya. Tahun besok kapok! Jangan pulang.’ Giliran dah puasa aja pada ribut mikirin hari buat pulang kampung!”

Leave a comment

Filed under miscellaneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s