Belajar Jurnalistik dari SpongeBob

‎Dibandingkan serial kartun Barat lainnya, saya suka SpongeBob Squarepants, makhluk rekaan berwarna kuning yang bentuknya mirip spon cuci piring kita. Serial The Simpsons sebenarnya juga menarik dan guyonan serta satirnya sangat menohok dan cerdas. Pada kenyataannya, bagi saya The Simpsons dan SpongeBob sama menariknya karena buktinya diputar berulang kali pun kita tak akan bosan (bahkan Doraemon pun kalah).Jalan ceritanya lumayan menarik dan leluconnya segar, bisa dinikmati semua usia. Dan yang penting bagi audiens mainstream Indonesia, SpongeBob tidak terlalu blak-blakan mendukung LGBT seperti The Simpsons yang dalam satu film layar lebarnya pernah menggambarkan dua orang polisi pria yang tengah mengendap-endap. Seolah mereka hendak menangkap seseorang di kamar hotel, tak tahunya saat lampu patroli meredup, mereka malah berciuman dan masuk ke kamar itu. Mengena sekali bukan? Saya sampai tak sempat bereaksi dan cuma menganga karena begitu terpukau.

IMG_2521.PNG

Becermin dari Krabby Kronicle

Dari ratusan episode Spongebob Squarepants yang saya saksikan sejak pertengahan 2000-an, saya paling suka dengan “Krabby Kronicle” (musim keenam) yang ditayangkan perdana 8 Agustus 2008. Alasannya sederhana saja:karena episode ini berkisah tentang jurnalistik atau journalism!‎ Bagi Anda yang belum pernah menonton, begini kisahnya secara ringkas‎.

Mr. Krabs yang terkenal pelit itu ingin mendapat pelanggan baru dan beriklan di surat kabar lokal “Bikini Bottom Examinor” yang dari namanya saja sudah berkonotasi serius dan investigatif. Pembaca kebanyakan tidak begitu menyukai‎nya. Oplah Bikini Bottom Examiner kalah dari oplah The Bottomfeeder, yang dari namanya saja sudah memberikan tema jurnalisme bombatis dengan berbagai berita, yang menurut kalangan awam, “menarik”. Mr. Krabs yang selalu jeli dengan peluang bisnis yang bisa menjadi tambang uang itu kemudian terinspirasi oleh The Bottomfeeder yang bisa meraup uang dari basis pembaca yang luas meski hanya menyebarluaskan berita yang kurang benar dan berlebihan. Krabs menganggap dunia jurnalisme sebagai sumber pundi-pundi uangnya setelah bisnis restoran yang mulai stagnan. Dan Krabs yang rakus kekayaan itu pun nekat mendirikan bisnis korannya yang pertama:Krabby Kronicle. Lalu siapa karyawannya? Bukan Krabs namanya kalau ia tak bisa memeras tenaga 2 karyawannya yang setia. SpongeBob dan Squidward Tentacle diangkat menjadi reporter-reporternya sembari tetap menjalankan pekerjaan mereka di Krusty Krab yang mulai sepi pengunjung (karena itulah Krabs mengiklankan restorannya di koran). Protagonis kita SpongeBob pun dibekali kamera agar bisa turun ke lapangan dan memotret kejadian-kejadian menarik sebagai bahan berita. Karena terlatih sebagai koki, naluri pencarian berita SpongeBob belum terasah dan ia cuma memberitakan hal-hal yang kurang menarik padahal ada begitu banyak kejadian yang lebih layak diberitakan. Alih-alih ‎memberitakan perampokan bank, ia malah menceritakan Patrick yang sedang memandangi sebuah tiang di jalan. Membaca berita tadi, Mr. Krabs sebagai pemilik modal sekaligus pimpinan redaksi Krabby Kronicle marah besar. Pada reporter barunya, ia mewajibkan penggunaan imajinasi sebagai ‘bumbu’. “When you write these stories, you’ve gotta use a little imagination, boy,”ucap kepiting tua mata duitan itu. Mr. Krabs mengubah berita Patrick menjadi “seorang warga menikahi tiang” agar lebih menarik pembaca. SpongeBob ragu bahwa yang dilakukannya itu etis karena tidak jujur, yang melanggar etika jurnalisme. Mr. Krabs berkelit,”Think of it as…uh… a practical joke.” SpongeBob menelan mentah-mentah nasihat Mr. Krabs. Di hari berikutnya, SpongeBob meliput orang-orang di sekitarnya lalu memberitakannya di Krabby Kronicle dengan menggunakan pemutarbalikan fakta agar terkesan lucu, menarik dan sensasional, yang pada akhirnya menaikkan oplah dan jumlah pembeli. Mr. Krabs tak peduli bahwa berita-berita yang termuat di surat kabarnya menyebar kebohongan dan masa bodoh dengan konsekuensi pemberitaan yang bernuansa fitnah itu pada tiap individu yang diberitakan. Larry dipecat setelah ia diberitakan oleh Krabby Kronicle bahwa ia dipukuli habis-habisan oleh Pipsqueak yang berbadan kecil dan lemah. Reputasinya sebagai lobster perkasa jatuh dan manajer gym tempatnya bekerja merumahkannya karena takut reputasi Larry mencemari nama baik gym miliknya. SpongeBob merasa bersalah tetapi Mr. Krabs yang sedang terbuai keuntungan dari penjualan Krabbby Kronicle yang menanjak itu malah mengabaikannya. Ia hanya peduli keuntungannya sebagai pebisnis dan pemodal. SpongeBob ingin menulis berita tanpa harus mencederai nama baik orang dan atasannya tak mengizinkannya. Profit menjadi prioritas utama dan pertama. Plankton menjadi korban berikutnya. Bisnis restorannya Chum Bucket ditutup pihak berwenang karena diberitakan di Krabby Kronicle telah mendapatkan bahan baku yang tidak higienis. SpongeBob tetap bekerja dan menulis berita fitnah meski nuraninya tersiksa. Sandy sang tupai diberitakannya sebagai makhluk dengan IQ jongkok sehingga sejumlah ilmuwan datang untuk mencabut semua penghargaan sains yang Sandy terima. Krabby Kronicle makin sukses, oplahnya kini 5 juta eksemplar. Tetapi SpongeBob makin sedih dan tersiksa karena menyaksikan hidup banyak temannya hancur karena pemberitaan Krabby Kronicle yang bernada fitnah.

Hingga suatu saat, tibalah SpongeBob pada suatu titik saat ia merasa tidak ada bahan pemberitaan lagi. Semua penghuni di Bikini Bottom sudah ia liput dan hancurkan hidupnya. Mr. Krabs menantang SpongeBob untuk menelurkan berita yang paling spektakuler. Esoknya, benar saja. SpongeBob menuliskan berita yang paling menggemparkan di Bikini Bottom dengan mengabarkan secara detil ekspolitasi tenaga kerja yang berlangsung di bisnis restoran dan surat kabar Mr. Krab. Spongebob menuliskan di halaman depan Krabby Kronicle:”Krabs overworks employees, reaps reward. Krabby Kronicle mastermind behind bogus stories pays his tired, under-age reporter pennies while he rakes in the dough.” Kerumunan massa pembaca yang marah mendatangi Krusty Krab dan meminta kebenaran dari Mr. Krabs. Mereka nekat mengambil semua keuntungan penjualan Krabby Kronicle untuk dibagikan kembali untuk semua orang yang sudah merasa dirugikan oleh pemberitaan surat kabar tersebut. Dasar Krabs tak mau rugi, mesin cetak koran yang sudah terbengkalai karena bisnis korannya ambruk pun jadi ia gunakan untuk mencetak uang saja.

‎Untuk ukuran sebuah episode serial kartun yang dipasarkan untuk pemirsa anak, kisah Krabby Kronicle itu sungguh menohok dalam pengamatan saya. Isu-isu yang disorot memang bukan hal yang baru di dunia pers nasional dan global tetapi toh sampai saat ini masih sangat relevan dan aktual. Apalagi kalau kita kaitkan dengan kondisi pers dalam negeri pra, selama dan pasca Pilpres yang teramat hiruk pikuk, penuh dinamika dan kejutan-kejutan. Sejujurnya, kondisinya sangat memprihatinkan karena berbagai pelanggaran prinsip jurnalisme kategori berat dan fatal sudah kita saksikan dalam skala yang luar biasa kolosal dan berulang-ulang.

Pewarta ‎yang ‘Salah Asuh’

Kita patut maklumi bahwa era kebebasan pers sejak masa Gus Dur memberikan implikasi tersendiri. Semua orang tiba-tiba bisa mendirikan bisnis media dan pers sendiri. Semua orang bisa menerbitkan apapun, baik cetak hingga digital lalu mendistribusikannya. Faktor pendorong utama ialah tujuan ekonomi, sehingga motivasi ekonomi sangat menonjol dibandingkan idealisme dan prinsip jurnalisme. Akibatnya, prinsip-prinsip jurnalisme terlanggar setiap saat oleh banyak pelaku pers sendiri, karena acuannya adalah PROFIT semata. Pemodal lebih kuat daripada para jurnalis bahkan dalam struktur internal perusahaan mereka sendiri.

‎Satu prinsip jurnalisme yang kita lihat paling sering dilanggar selama ini ialah kewajiban berpihak pada kebenaran. Ini adalah prinsip pertama jurnalisme sebagaimana disimpulkan oleh Comittee of Concerned Journalist. Sebagaimana dilakukan oleh SpongeBoob dan sejumlah pewarta di negeri ini, fakta sering dimanipulasi, konteks juga kerap diubah sedemikian rupa sehingga pewarta dan medianya tak bisa lagi dipercaya sepenuhnya. Banyak orang dan entitas pers memilih memihak salah satu calon presiden padahal seharusnya mereka mengutamakan keberpihakan pada kebenaran. Lain dari prinsip jurnalisme abal-abal ala Krabby Kronicle, kebenaran jurnalistik harus disertai disiplin profesional dalam mengumpulkan dan verifikasi data. Wartawan hanya bertugas membeberkan peristiwa secara deskriptif, bukan persuasif apalagi agitatif dan provokatif. Apalagi imajinatif, seperti yang disarankan Mr. Krabs pada SpongeBob yang naif.

‎Karena itu, wartawan-wartawan baru kita perlu diasuh oleh sosok-sosok jurnalis yang kompeten dan berdedikasi dala‎m bidangnya. Bukannya ditatar dan diberi wejangan oleh para pemilik modal, atau jurnalis yang senior tetapi hanya menjadi corong instruksi pemilik modal.

Konflik antara pemilik modal dan ruang redaksi (newsroom) sudah sering dijumpai. Menurut Abdullah Alamudi (mantan wartawan Bisnis Indonesia dan The Jakarta Post), haruslah ada otonomi bagi newsroom untuk mengambil keputusan, yang membuatnya tidak bisa diganggu gugat oleh pihak pemodal demi menjaga idealisme jurnalismenya.

Jadi, jangan kita biarkan reporter-reporter ‘hijau’ seperti SpongeBob yang masih berhati nurani begitu saja disetir oleh pemilik modal nan rakus seperti Mr. Krabs‎! Karena di tangan para jurnalis inilah, nasib pers kita sebagai tiang penyangga demokrasi dan nasib bangsa dipertaruhkan.

Leave a comment

Filed under journalism

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s