Semalam Bersama TouchTen

Anton, salah satu pendiri startup games "Touchten" dan timnya.

Anton, salah satu pendiri startup games “Touchten” dan timnya.

Selama ini saya lebih banyak menulis tentang startup-startup Indonesia sehingga saat saya harus masuk ke kelompok eksekutif  di bidang industri lainnya, rasanya sangat janggal. Kebanyakan di acara yang kebetulan saya hadiri malam ini dipenuhi wajah-wajah senior dan mapan (eufimisme dari “tua”). Sementara di dunia startup, saya lebih banyak menjumpai anak-anak muda, atau jika ada yang sudah menua pun, jiwa dan tindak tanduk mereka masih tetap muda.

Dari jarak jauh, saya mengenal wajah entrepreneur berkacamata tebal ini. Saya pernah mewawancarainya pada tahun 2011.  Malam ini saya menemukan wajahnya di antara banyak orang di kerumunan pebisnis lokal yang bergerak di bidang non-digital. Namanya Anton. Bersama 2 saudara laki-lakinya yang lain, ia merintis TouchTen, startup aplikasi dan games yang termasuk laris manis tahun itu. Saya tidak pernah bertemu dengannya lagi setelah itu.

Tiga tahun berselang. Pastinya makin banyak yang telah berubah dalam startupnya. Dan saya harap itu perubahan yang baik, karena saya berencana akan mewawancarainya. Tetapi saya tahu TouchTen makin berkibar, terbukti sudah mampu masuk ke daftar bergengsi Majalah Forbes Indonesia.

Ia berterima kasih pada saya karena dulu sudah meliput peluncuran kerjasama TouchTen dengan IdeoSource, sebuah perusahaan venture capitalist pimpinan Andi S. Boediman. Tulisan pendek saya ia puji-puji selama kami berbincang padahal menurut saya artikel itu sangat dangkal. Hanya sepenggal reportase pendek, kurang mendalam. Saya saja yang menulis malu membacanya kembali.

Anton memiliki wajah ceria dan selalu penuh semangat saat berbicara. Lain dengan seorang anak muda generasi Y lainnya yang saya temui di ruangan itu yang terlihat tegang dan gagal tersenyum bahkan di saat ia seharusnya mengumbar senyum di panggung untuk menerima penghargaan yang membanggakan itu.

Ia mengajak saya ke kantor Ciputra-GEPI (Global Entrepreneurship Program Indonesia) yang berada di gedung yang sama dengan tempat kerja saya. Ada sebuah pertemuan tentang kiat dan trik membuat games yang menarik di sana. “Sebenarnya saya memilih untuk bisa ke sana daripada di sini,”Anton sedikit menyesali. Tidak heran, karena ia merasa dunia games adalah habitatnya. Di sini, ia seperti ikan di padang pasir.

Bersama saya, Anton berjalan cepat dan bersemangat. “Mengapa tidak ditinggal di mobil saja?”saya bertanya padanya dengan mata mengarah ke tangannya yang menggenggam erat sebuah plakat yang ia terima dari Forbes Indonesia baru saja di Hotel Marriott. “Mau saya tunjukkan ke anak-anak (tim TouchTen- pen). Bagi kami, ini seperti ….,”ia tak menuntaskan kalimatnya lalu mencium plakat itu. Kepalanya kembali tegak, terus melangkah dan napasnya terengah.

Di depan Starbucks Ciputra World Jakarta, matanya yang sudah rabun jauh itu masih tajam mengenali wajah teman-temannya dalam remang malam. “Ah, itu anak-anak,”ia mempercepat langkah.

Timnya sungguh banyak. Mungkin ada 10 orang anak muda, saya memperkirakan. Dibandingkan dengan 3 tahun lalu saat TouchTen masih berawak 3 orang saja, jumlah tim mereka sekarang sudah relatif banyak.

Inilah rasanya bekerja di startup. Saat atasan bertemu dengan anak buah, tidak ada jarak dan batasan rasanya. Anton dan semua brogrammer (karena mereka semua laki-laki) itu mirip sebuah geng anak mahasiswa, dengan Anton sebagai kepala geng mereka.

Ada setitik rasa haru muncul. Malam itu saya seperti menyaksikan sebuah malam puncak penganugerahan Oscar. Hanya bedanya yang menerima adalah startup, yang jika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan penerima lainnya masih seumur jagung dan jumlah SDM yang cuma segelintir. TouchTen bukan perusahaan dengan jumlah buruh 10.000 seperti perusahaan pembuat keramik atau makanan kecil, tetapi karena itulah mereka menjadi bisnis yang sangat lincah dan tahan krisis. “Kalau UMP naik, saya harus pikirkan 10.000 orang buruh saya. Enak kamu usaha digital begitu, ga usah mikir gaji buruh,”seorang pengusaha keramik yang tadi sebentar saja berbincang di lobi dengan Anton berkeluh kesah.

But people see the glory and ignore the story...

Saya yakin membangun startup seperti TouchTen juga tidak mudah. Ada tantangannya tersendiri. Mungkin mereka tidak harus memikirkan gaji 10.000 orang tetapi bagaimana harus terus berinovasi seiring dinamika pasar dan konsumen yang mudah bosan. Memelihara momentum pertumbuhan juga membutuhkan kejelian dan kerja keras. Saat saya tanya bagaimana TouchTen bisa mencetak rekor lagi dengan games barunya, Anton mengaku membutuhkan persistensi dan tekad baja.

Akan tetapi, “sulit” bukanlah “mustahil”. Dan saya yakin Anton dan teman-temannya serta banyak entrepreneur muda Indonesia juga bisa banyak belajar dan gagal untuk dapat mengecap sukses yang manis kelak.

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s