Mengkritisi Seremoni Tanpa Esensi

Formalitas, satu hal yang menjemukan dalam hidup yang sebisa mungkin saya hindari. Karena sering ia menjebak kita untuk larut dalam seremoni yang hambar tanpa esensi.

Ah, saya memang suka berpikir muluk-muluk. Kalau saya ditanya mengapa benci upacara bendera, paragraf tadi bisa jadi jawaban yang terkesan dalam, filosofis dan anti mainstream. Saya suka menjadi berbeda, meski dicela karenanya.

Namun, alasan saya sebenarnya sederhana saja. Saya benci berpeluh-peluh di bawah sinar mentari cuma untuk menghormat pada selembar kain, menuruti instruksi seorang manusia bernama komandan, atau menyaksikan orang satu persatu pingsan dehidrasi karena terbakar matahari. ‎Selama saya kepanasan dan berdiri, acap kali saya bertanya dalam hati:”Apakah dengan melakukan seremoni ini, dari mengibarkan bendera, membaca teks proklamasi, sampai berdiri tegak seperti ini akan memperbaiki dan memajukan bangsa ini hingga bisa mengalahkan Amerika Serikat, China, Inggris, bahkan bangsa sekecil Singapura?” Saya mengkerutkan dahi dan menggeleng dalam hati,”Tidak…”

Sungguh tidak nasionalis, mungkin begitu cap yang Anda berikan pada saya. Di tengah perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia hari ini, saya hanya ingin mengajak diri mempertanyakan dan mengkritisi semua ritual dan protokoler itu, yang kadang menjebak manusia Indonesia menjadi pemuja simbol seperti Garuda, Pancasila, bahasa Indonesia dan ‎semua hal semacamnya.

Dan itu mengantar saya pada pertanyaan:”Apakah Anda masih tetap bisa nasionalis tanpa harus melakukan upacara bendera?‎ Bisakah saya memajukan bangsa tanpa harus hapal isi UUD 1945? Akankah dicap pengkhianat jika kita mengingatkan pimpinan bangsa yang berkuasa saat kebijakan mereka berakibat negatif pada keberlangsungan bangsa ini?”

Saya juga nasionalis meski kadarnya berfluktuasi. Jujur, kadang harus saya akui, kecintaan saya pada tanah air dan bangsa ini baru muncul benar-benar saat berada di luar wilayahnya. Itu karena di dalam, saya lebih banyak disuguhi boroknya. Seperti sebuah rumah, atap Indonesia bocor, kunci pintunya cuma sebilah kayu apa adanya , listriknya mati total setelah pukl 9 malam hingga keesokan harinya. Namun, dari luar rumah itu megah dan layak huni juga. Mungkin saya harus lebih banyak melihat dunia agar bisa lebih banyak memberikan apresiasi bagi Indonesia kita.

Selamat hari jadi yang ke-69, Indonesia tercinta!

2 Comments

Filed under miscellaneous

2 responses to “Mengkritisi Seremoni Tanpa Esensi

  1. Liu

    Kalau masalah panas sebenernya ada kesempatan mempermudah manusia-manusia yang menghadiri upacara itu dengan menggunakan benda bernama TENDA. Cuma apakah itu sesuai dengan perjuangan jaman penjajahan itu? Ah entahlah, mungkin nasionalis kita perlu dengan realistis dan optimis dengan sedikit masuk akal untuk memilih waktu upacara bendera

    • Haha. Iya bro. Aku sih orangnya lebih suka kerja saja yang benar dan memberikan yang terbaik buat diri, keluarga dan bangsa. Membuat kontribusi nyata, gitu aja. Upacara bukan segalanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s