Sapi Tak Boleh, Kerbau pun Jadi (Wisata Kuliner Kudus)

Jika Anda berkunjung ke Kudus, jangan lewatkan warung soto satu ini.

Jika Anda berkunjung ke Kudus, jangan lewatkan warung soto satu ini.

Di Kudus, jarang dijumpai makanan dan olahan daging dari sapi. Semuanya berasal dari daging ayam, daging kerbau atau daging bebek (kami menyebutnya mentok), atau sebagian lainnya yang Anda tidak pernah terpikir, seperti seluruh tubuh burung puyuh mungil yang malang.

Mengapa orang Kudus tidak dibiasakan mengkonsumsi daging sapi?

Konon, dahulu kala sebelum Islam masuk ke daerah ini, lebih banyak pemeluk agama Hindu yang tinggal di Kudus. Itulah mengapa Anda bisa menemukan sebuah masjid dengan menara yang mirip candi di sebelah warung soto yang fotonya saya unggah di sini. Masjid dengan menara itu kami sebut “Masjid Menara Kudus“, tetapi penduduk lokal cukup menyebutnya “Menoro”.  Dan seperti kita ketahui, ajaran agama Hindu meyakini sapi itu binatang suci. Sapi merupakan simbol kekayaan, kekuatan, kelimpahan, semangat memberi yang tulus, dan kehidupan yang makmur dan lengkap dalam bumi (sumber:Wikipedia). Karena itulah, para pemeluk Hindu terutama di Nepal dan sejumlah negara bagian di India mengharamkan mengkonsumsi daging sapi dan olahannya. Sapi disucikan bisa jadi karena mereka adalah hewan ternak yang hasilnya bisa menghidupi manusia. Dari susu dan tenaganya bisa dimanfaatkan untuk memberi makan dan membantu manusia mengolah dan kotoran mereka menyuburkan tanah pertanian. Bahkan menurut Mahatma Gandhi, keyakinan bahwa sapi adalah binatang suci dan tidak boleh dikorbankan ialah ajaran inti Hindu (sumber: Wikipedia). Namun, seiring dengan makin berkurangnya penganut Hindu di Kudus, tradisi dan keyakinan yang menganggap suci sapi memang makin lama makin pudar tetapi toh tidak sepenuhnya hilang.

Sebenarnya cukup banyak warung soto kerbau yang ada di Kudus. Ada soto kerbau (dan ayam) di “Soto Pak Denuh” yang berada di jalan Jepara dan Agil Kusumadya (jalan provinsi ke arah Semarang), warung soto “Karso Karsi” yang ada juga di jalan Agil Kusumadya, tetapi warung soto satu ini unik karena bangunannya yang amat sangat lusuh. Dari dulu sampai sekarang, tidak ada perbaikan mencolok di sana. Sejak saya kecil sampai terakhir berkunjung di sana Lebaran tahun ini, tata ruang warungnya masih sama, dindingnya masih persis. Kuno dan entahlah, vintage mungkin? Namun, saya pikir tidak semua tempat harus terus menerus diperbarui agar tampak segar. Beberapa tempat lebih cocok jika dibiarkan begitu saja apa adanya karena kelak di sinilah kita akan berkunjung sesekali untuk bisa mengenang memori-memori di masa lalu. Dan bagi saya, mengunjungi warung ini bukan hanya memesan dan makan soto kerbau saja tetapi juga menikmati rasa dan ingatan lama.

305

Soto kerbau dan jeruk hangat yang akan mengurangi efek negatif lemak. Kombinasi yang unik kan? Bayangkan perut Anda panci yang baru dipakai membuat sup daging. Untuk mencucinya hingga bersih lagi, Anda akan gunakan jeruk nipis itu mengangkat lemaknya.

Saya sering diolok-olok bahwa orang Kudus, terutama Kudus Kulon (Kudus bagian barat sungai Gelis yang membelah kota), adalah orang-orang yang kikir. Warung ini kebetulan juga berada di sisi barat sungai itu. Anda bisa lihat ukuran mangkuk soto Kudus memang unik karena ukurannya yang mungil. Satu porsi soto kerbau ini harganya termasuk mahal untuk ukuran orang lokal. Dengan bakso sekitar Rp5-6 ribu per porsi dengan ukuran yang mengenyangkan, porsi soto kerbau ini hanya terasa separuh kenyang. Tanggung, begitu kata orang yang suka makan banyak. Soto kerbau di warung ini harganya Rp8.000. Bukan harga yang mengeruk kantung bagi turis ibukota tentunya yang sudah biasa makan di mall dengan harga per sajian yang rata-rata Rp50.000.

Bersama dengan hidangan itu, Anda bisa mencoba krupuk paru. Dan satu rekomendasi lainnya adalah mencicipi krupuk rambaknya yang khas. Krupuk ini terbuat dari kulit. Kulit hewan ternak apa, saya tidak tahu persisnya. Tetapi intinya keduanya sangat amat gurih. Cocok untuk mereka penggemar makanan ringan yang membangkitkan selera makan.

Penjualnya ada dua wanita paruh baya. Mereka bersaudara, jadi tidak heran muka dan perawakan badan pun sangat mirip.

304

Pembeli harus bersabar karena pelayannya hanya 2 orang!

Terbatasnya sumber daya membuat warung ini kurang cepat melayani konsumen. Saat saya meminta tambah 1 mangkok lagi, misalnya, ibu itu tampak sibuk dengan ponsel. Ia mengurus pesanan makanan dari pelanggan setia yang tidak datang tetapi sudah mengubunginya untuk dikirimi makanan. Apalagi saat itu baru Lebaran, saat orang-orang bisa lupa daratan dengan makanan. Karena itu, pesanan saya terlupakan dan saya harus mengulang lagi permintaan saya padanya. Perempuan itu pontang-panting bersama saudaranya melayani pembeli warungnya, lalu menyiapkan makanan untuk dibungkus lalu dikirim ke sana.

303

Mukanya sangat familiar. Ia mungkin pemilik sekaligus pelayan utama di sini.

Kalau dalam pembahasan entrepreneurship, saya jadi teringat dengan kata-kata Sandiaga Uno tentang scaling-up. Saya pikir perempuan-perempuan ini adalah pebisnis yang ulet dan tangguh. Buktinya mereka sudah bertahan selama puluhan tahun. Dan mustahil mereka tidak menikmati untung besar dari sini karena jika bisnis soto kerbau dan sate kerbau ini cuma untung sedikit, kenapa mereka harus repot-repot bertahan sampai selama itu? Mereka bisa saja mencoba bidang bisnis lain. Bisa jadi karena mereka sudah memiliki kekhasan dan jati diri brand bisnis di sini. Orang Kudus yang mana yang tidak tahu lokasi Menara Kudus yang dianggap sebagai ikon kota kretek Kudus? Dan warung ini terletak tepat di sebelahnya. Sangat strategis dan tidak bisa terlupakan oleh mereka yang berkunjung dari luar kota, misalnya. Masalahnya mereka sudah berpuas diri. Tidak ada keinginan atau ambisi untuk membesarkan bisnis itu menjadi, katakanlah, sebuah waralaba yang tersebar ke seluruh Indonesia , bahkan dunia.

302

Dindingnya sejak dulu begitu. Tidak makin putih. Tetap kelabu. Mungkin karena asap masakan.

Tetapi kadang mindset tradisional dan konservatif seperti ini menjadikan UMKM seperti ini menjadi begitu otentik, begitu lokal, khas, tiada duanya. Pengalaman yang bisa dinikmati di sini tidak akan bisa ditemukan di tempat lain di dunia, tak peduli seberapa mewah dan bersihnya. Malah kalau tempat ini direnovasi, memori  – hal yang paling disayang manusia – bisa terhapus. Untuk alasan tertentu, saya bersyukur kapitalisme tidak sampai menyentuh warung ini. Bila dinding warung soto kerbau itu menjadi bersih, rasanya pasti akan lain. Jika soto mereka itu kemudian diwaralabakan, cita rasanya mungkin akan berubah. Membakukan bahan baku dan cara memasak mungkin sukar tetapi yang lebih sukar lagi adalah bagaimana mempertahankan sensasi yang membuat orang bisa melayang dalam benak mereka cuma untuk bernostalgia ke masa lalu mereka saat masih kecil, masih muda. Warung ini bukanlah mesin waktu Doraemon yang bisa membuat pengunjungnya kembali ke masa lalu seenaknya tetapi setidaknya ada kepuasan tersendiri saat memasukinya. Semacam melankoli atau apalah. Sulit mendefinisikannya dengan kata dan logika. Karena ini berkaitan dengan RASA.

6 Comments

Filed under miscellaneous

6 responses to “Sapi Tak Boleh, Kerbau pun Jadi (Wisata Kuliner Kudus)

  1. Rasa itu adalah mencoba, icip-icip, karena rasa kita yg bisa tentukan. Tak ada sapi, kerbau pun jadi😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s