5 Fakta Unik tentang Ukiran Khas Kudus

Bila ingin melihat kompleksitas budaya dan pemikiran sebuah masyarakat, amatilah produk fisiknya. Begitulah yang terlintas saat mencermati gebyok atau ukiran gerbang depan rumah khas Kudus. Ukirannya berbeda dari daerah-daerah lain karena lebih rumit dan sulit dibuat. Karenanya, harganya relatif lebih mahal.

Sebagai warga asli Kudus, saya seperti memanggul kewajiban untuk menjelaskan bahwa kekayaan budaya lokal ini semestinya diketahui oleh lebih banyak orang, seperti Anda. Berikut saya rangkumkan 10 fakta menarik tentang ukiran khas Kudus. Semoga menambah wawasan Anda.

Fakta 1: Ukiran khas Kudus merupakan hasil percampuran berbagai budaya
Meskipun Kudus terlihat relatif homogen, pada realitanya dahulu kala ia diperkaya dengan beberapa budaya yaitu Eropa, Tiongkok, Hindu dan Islam. Di masyarakat Kudus kontemporer, kebudayaan Hindu sudah jauh pudar. Sangat jarang ditemukan orang Kudus dengan kepercayaan satu ini.

Fakta 2: Ukiran Kudus dirintis oleh seorang ulama Tiongkok
Saya kerap melewati satu ruas jalan bernama Kyai Telingsing. Nama yang amat aneh untuk telinga Jawa saya. Usut punya usut, ternyata nama jalan tadi diambil dari nama seorang warga Tiongkok yang menetap di Kudus pada sekitar abad ke-15. The Ling Sing, begitu namanya, memiliki pengetahuan Islam yang baik sehingga pantas disebut sebagai ulama. Begitu ia berada di Kudus, The Ling Sing mulai mengembangkan bakatnya dalam seni ukir. Konon, ia mempraktikkan aliran seni ukir Sun Ging yang terkenal karena halus dan indahnya. Nama Sun Ging ini pun kemudian diadopsi menjadi sebuah nama desa di Kudus; Sunggingan. Sang kyai Tiongkok itu kemudian menyebarkan pengetahuan agamanya dengan membuka perguruan, atau pesantren. Karena itu, jangan heran kalau beberapa orang yang mengaku asli Kudus dan beragama Islam serta bermukim di dekat Menara Kudus memiliki penampilan fisik yang mirip orang Tiongkok. Rambut mereka kejur, mata mereka cenderung kecil dan sipit, dengan kulit kuning bersih. Beberapa teman dan kenalan saya ada yang demikian dan saya akhirnya memahami bahwa mungkin mereka memiliki sisa-sisa gen The Ling Sing.

Fakta 3: Ukiran Kudus berfokus pada rumah.Berbeda dari ukiran Jepara yang lebih banyak dipakai dalam perabotan rumah (almari, kursi dan meja misalnya)‎, ukiran‎ Kudus memfokuskan diri pada rumah. Ukirannya menunjukkan kehalusan dan keindahan. Bila diamati cermat, bunganya kecil-kecil dan bisa 2 atau 3 dimensi.

Fakta 4: Motif ukiran Kudus ada 4.
Ukiran rumah khas Kudus biasanya memiliki 4 jenis motif.‎ Dari motif Tiongkok, Hindu, Persia atau Islam sampai Eropa. Nuansa Tiongkok tampak dalam bentuk naga di bangku mungil menuju ruang dalam rumah. Unsur Hindu muncul dalam bentuk pedupaan atau padupan dalam gebyok (pemisah ruang Jogo Satru dan ruang dalam rumah. Elemen Persia/Islam tampil dalam bentuk ‎bunga, terdapat
pada ruang Jogo Satru (ruangan depan yang biasa dipakai menerima tamu). Terakhir motif Eropa yang digambarkan dalam bentuk mahkota yang terdapat
di atas pintu masuk ke gedongan.

Fakta 5: Ukiran Kudus makin langka dipakai di rumah penduduk asli.
Rumah seorang teman SD saya pernah memakai gebyok ukiran khas Kudus tetapi beberapa tahun lalu sudah diganti dengan gaya modern. Satu hal yang memprihatinkan adalah ukiran ini makin jarang ditemui di rumah-rumah warga Kudus sendiri. Kebanyakan gebyok Kudus malah dipakai di museum, di tempat-tempat umum seperti hotel, restoran dan sejenisnya yang ingin menarik pengunjung dengan nuansa etnis.

IMG_2800.JPG

Leave a comment

Filed under miscellaneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s