Enaknya Tua

‎Salah satu sisi enaknya jadi tua adalah tidak perlu pusing dengan urusan sekolah. Masa bodoh dengan perubahan kurikulum. Lebih enak belajar sendiri. Sekolah menyediakan guru, tetapi guru yang menyenangkan dan membuat kita pintar sekaligus susah juga.

‎Tetapi itu kalau Anda tua tanpa anak. Kalau punya anak, tetap saja pusing karena anak Anda harus sekolah. Seperti ibu kos saya malam ini.

“Masak anak SD disuruh bikin skripsi,”katanya sendu. Saya hampir tidak percaya, rahang hampir jatuh. Benarkah? Skripsi yang sampai membuat saya meregang otak 10 tahun lalu? Mengerikan.

Itu kurikulum 2013, jelas ibu kos. Dengan berapi-api, ia melanjutkan keluhannya,”Nanti juga penilaiannya kayak anak anak mahasiswa. Pake A, B, C, D, E…. Bukan pake angka lagi kayak sekarang.”

Saya bertanya dalam hati, apa esensi perubahan ini? Perubahan ini apakah akan membawa kebaikan atau sekadar percobaan?

Untungnya, tidak semua perubahan yang diakibatkan penerapan kurikulum 2013 itu membuat anak-anak Indonesia cemberut. Salah satu yang membuat mereka senang adalah tidak perlunya membawa buku setumpuk dalam tas ke sekolah setiap hari. “Cuma bawa buku satu. Satu buat banyak pelajaran,”celotehnya lagi. Ia prihatin kalau anaknya ke sekolah dengan buku begitu banyak. Kasihan. Punggung mereka masih lemah. Postur dan pertumbuhan mereka bisa terganggu.

“Anak-anak ‎boleh rekreasi tapi nggak ke outbound, nggak ke kolam renang. Nggak ada gunanya. Bakal ke museum aja. Ke museum Gajah, ke museum Fatahillah, gitu lah. Yang ada hubungannya ama pelajaran pokoknya,”paparnya panjang lebar. Bu kos lebih suka dengan ide itu, karena bu guru yang dulu menjadi wali kelas anaknya sering membuatnya kesal. “Masak ke outbound aja cepek (seratus ribu- pen), ke kolam renang deket aja cepek, saban ke mana cepek. Gitu aja masih bilang kurang!”

Anaknya berkeluh-kesah juga tentang perubahan kurikulum ini. “Sekarang ada mencongak jugak. Temenku yang juara kelas malah dapet nol. Aku dapet 50. Lumayan…,”mukanya penuh kemenangan. Ibu si juara kelas protes ke kepala sekolah. “Bu, kok anak saya juara kelas bisa dapat nol?!! Ya, itu sampaikan ke guru yang bersangkutan ya, tukas kepala sekolah itu. Mencongak itu sungguh mengerikan. Bayangkan 10 soal berhitung lalu satu soal diberi waktu cuma 2 detik. “Bagaimana bisa??!!”ibu kos tak percaya.‎ Kalau saya di bangku sekolah dasar diharuskan mencongak begitu juga, saya pasti akan gemetaran lemas. Saya benci berhitung. SANGAT.

Suaminya berkomentar‎ singkat seakan ingin mengingatkan anaknya yang malas belajar,”Makanya kamu… Ah, serba salah juga. Udah lah diem aja…”

Leave a comment

Filed under miscellaneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s