Kantor Transisi yang Sunyi hingga Celoteh Wartawati Jilboobs

IMG_3507.JPG
Alhamdulillah semua kisruh Mahkamah Konstitusi itu berlalu. Sekarang Indonesia ibarat membuka lembaran baru. Season baru, begitu istilahnya kalau kita merujuk ke dunia sinetron atau serial televisi semacam Tersanjung atau Grey’s Anatomy. Kali ini tokoh antagonisnya sudah tenggelam, tetapi mungkin disimpan sutradara untuk ditampilkan secara mengejutkan di episode atau musim selanjutnya, sejenis Georgina Sparks yang jalang lalu bertobat di Gossip Girl. Tarik ulur yang menyenangkan, bak bermain layang-layang. Seru!

Kenapa saya bandingkan politik Indonesia dengan semua serial ini? Karena keduanya sama persis. Semuanya telah diatur di belakang layar. Skenario berjalan dan para aktor menjalaninya. Peran bisa berubah, watak juga demikian. Semua bisa berubah jika sutradara dan penulis naskah atau skenario berkehendak.

Jadi intinya sepanjang pagi tadi saya di sini, hanya untuk mengintai para pemimpin negeri, yang barangkali muncul tanpa peringatan kemari. Dan untuk itu kami – para jurnalis malang ini – bersiaga di depannya.

Saya sudah sampai pagi pukul 10.30, dan disambut hening. Saya pikir saya akan disuguhi keriuhan massa di sana tetapi saya salah besar. Memang dari jauh sudah terlihat mobil-mobil Metro TV dan TV One serta Kompas TV di dekatnya tetapi begitu saya mendekati, senyap. Seorang polisi tua berkumis tebal mengoceh dengan rekannya di perangkat HT miliknya. Ada juga segelintir pewarta TV hilir mudik resah memandang ke dalam melalui pintu teralis bercat putih itu. Tak ada siapapun di dalam kecuali dua orang anak muda dengan bingkai kacamata kontemporer yang bergaya dan celana pas kaki serta sneakers. Entah siapa mereka itu. Waktu solat Jumat mendekat dan saya harus pergi dari sana. Untungnya di Taman Menteng ada jamaah solat Jumat jadi tidak perlu jauh ke Masjid Sunda Kelapa.

Setengah dua siang menjelang sore, saya selesai bersantap siang kemudian berjalan kaki di rimbunnya pepohonan Taman Kodok di dekat jl. Situbondo, Menteng. Sampai di kantor transisi itu lagi, dan tak menemui kerumunan apapun jua.

Namun terlihat sekelompok pewarta di pojok dalam sana. Di halaman rumah yang sempit itu. Seorang petugas Paspampres menyuruh saya menuliskan nama dan paraf di buku besar berjudul “Wartawan”. Saya masuk dan duduk. Suasananya beku, membosankan. Semua orang itu asyik dengan gawai mereka sendiri. Dua orang di meja tengah itu tampak asyik dengan jari jemari mereka. Satu pria berambut sebahu dan satu wanita ber-jilboobs. Maksud jilboobs, kalau Anda belum paham, adalah jilbab yang masih belum syar’i karena terlalu pas di dada dan bercelana ketat.

Semua membosankan. Hingga tiba-tiba wartawati jilboobs dari stasiun televisi kenamaan itu mengawali celotehnya. Cerita-cerita yang cukup menghibur. Saya ikut mendengarkan sembari tetap mengetik, berpura-pura sibuk padahal mengantuk.

Leave a comment

Filed under journalism

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s