Keunggulan Wartawati Dibanding Wartawan

Jurnalis perempuan – apalagi yang rupawan – seringkali mendapatkan keistimewaan. (Image credit: Commons.Wikimedia.org)

Salah satu cara agar mudah mengeruk informasi berharga dari narasumber ialah menghadapi mereka dengan sikap yang menyenangkan, terlepas dari tulus atau tidaknya sikap itu. Namun, bila Anda masih jurnalis baru dan berkelamin laki-laki, lalu Anda harus mencari informasi dari narasumber yang juga laki-laki, tampaknya lika-likunya agar mengakrabkan diri akan lebih sulit.

Berbeda jika Anda adalah wartawati dan narasumber yang Anda buru adalah pria. Narasumber pria – apalagi yang berprofesi politisi – biasanya lebih jinak jika dihadapkan pada wartawati. Entah kenapa, tetapi begitu pengalaman satu wartawati berikut ini.

Suatu ketika wartawati itu, sebut saja Miss Misan, tiba-tiba ditugasi redakturnya untuk mencari narasumber dari parpol Nampol, salah satu partai politik besar yang menggunakan tema agama. Seperti biasa, ia pun menggunakan jejaring kenalan-kenalan wartawannya yang luas untuk memberitahukan nomor kontak para politisi yang berasal dari parpol yang dimaksud. Dengan kepribadiannya yang supel dan cara bicaranya yang ramah, Miss Misan sukses besar menjaring berbagai nomor kontak tadi. Ia kebanjiran nomor bahkan dari para koleganya. Begitu banyak sampai kebingungan mana yang harus ia hubungi lebih dulu. Karena sudah larut malam, ia memutuskan menghubungi semua politisi itu keesokan harinya.

Ia pun mengirimkan pesan pendek ke semua nomor ponsel politisi parpol Nampol dan berpikir, “Saya akan mewawancarai orang yang paling dulu membalas SMS saya.”

Pucuk dicinta, ulam tiba. SMS dibalas oleh satu politisi, lalu Miss Misan membalas gembira:”Asyikkkk…Di mana, pak?” Di kantor saja, jam segini, balasnya lagi pada Miss Misan kita yang sangat periang ini. Ia merasa sedikit bersalah karena pesannya terlalu santai padahal dengan politisi parpol yang juga anggota DPR-RI. Fakta itu sendiri Miss Misan baru ketahui dari hasil menjelajahi Internet. Ia tak berani bertanya ke politisi tadi atau koleganya di kantor karena takut dianggap bodoh. Daripada bertanya dan urusannya jadi panjang dan dikata-katai, ia memilih berpaling ke Google.

Wartawati yang mengaku tak mendapat uang saku dari si politisi ini berkata lagi,”Isi BBM bapak itu suka aneh-aneh.” Misalnya, saat Miss Misan kita ini mengajaknya berbicara tentang kansnya menjabat lagi di periode depan, si politisi Nampol itu malah menjawab:”Nggak tau deh, yang penting masih deket dengan Misan aja…” “Bapak ini apa sih?”Miss Misan bereaksi risih. Di malam hari, si politisi juga sering mengirimkan pesan “Have a nice dream” dilengkapi emoticon bunga-bunga pada Miss Misan. “Hhh, bapak ini sesuatu…”

Jika lain kali Miss Misan digoda seperti itu lagi, teman kerjanya yang lelaki menyarankankan Miss Misan untuk menjawab:”Anak istri sehat, pak?” Rekan kerjanya itu mengakui bahwa narasumber biasanya memang lebih cerewet pada wartawati.

Karena itulah, Miss Misan merasa sering dijadikan senjata andalan oleh redakturnya saat harus mewawancarai narasumber yang berjenis kelamin pria. Kenapa? Karena ia perempuan, dan wajahnya tidak terlalu buruk, pembawaannya serta cara bicaranya kenes, supel, membuat narasumber itu lupa bahwa mereka memiliki rahasia untuk disimpan rapat-rapat. Apakah itu ‘sexist’? Bisa jadi. Karena Miss Misan ini mengaku ia sering tidak kenal dengan narasumber penting. Cuma politisi-politisi yang ‘klimis dan perlente seperti Ferry M. Baldan dari Nasdem  yang ia idolakan.

Leave a comment

Filed under journalism

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s