Selamat Datang Inovasi! E-KTA untuk Sahabat Jaringan Gerindra yang Tech Savvy.

‎I got a scoop… Just right before I switched off my phone tonight. So mind-blowing. From their latest email blast:

“Sahabat Jaringan Gerindra, terima kasih atas dukungan yang terus anda berikan sampai hari ini. Partai Gerindra berkomitmen untuk terus melakukan inovasi dan menjunjung tinggi kreatifitas, untuk itu Partai Gerindra menerbitkan fitur E-KTA pada aplikasi Jaringan Gerindra. E-KTA merupakan Kartu Tanda Anggota Elektronik yang memungkinkan sahabat untuk berinteraksi/kirim pesan kepada sesama pengguna yang sudah memiliki E-KTA.

Setelah sahabat meng-update aplikasi Jaringan Gerindra di IOS atau Android maka sahabat bisa mendaftar untuk E-KTA, pada menu E-KTA yang tersedia. Setelah verifikasi data dilakukan, sahabat akan mendapatkan ‘username’ yang bisa digunakan untuk fitur kirim pesan. E-KTA juga mempermudah dan mempercepat sahabat untuk menjadi anggota Partai Gerindra. Mari sebarkan inovasi ini ke kerabat dan saudara yang sahabat miliki. Salam Indonesia Raya.”

Kalau Anda tertarik…

Tapi saya cuma mau sedikit memberi masukan. iOS kok ditulis IOS???

G 30 S

‎Saya suka G 30 S. Bukan filmnya yang penuh distorsi, intrik politik, darah serta kekerasan silet menyilet itu. Saya benci harus melewatkan satu malam menonton acara TV karena pemutaran film ‘sejarah’ yang membuat tidur saya tak nyenyak itu.

G 30 S ini lebih menyenangkan.‎..

Gift of 30 September. Dua tahun lalu. Saya tidak bisa mengucapkan terima kasih itu dengan kata-kata. Saya hanya menerimanya dengan hati berbunga-bunga. Mulanya saya mau menghabiskannya untuk membeli barang yang mahal tetapi saya menjatuhkan pilihan pada barang yang lebih murah supaya tahun depan saya bisa ikut pelatihan itu.

‎Saya ingat Renee Suhardono mengatakan:”Bila punya uang, belilah pengalaman, bukan barang”. Saya pikir saya sudah melakukan keputusan yang tepat dengan membagi gift itu menjadi dua bagian: membeli pengalaman dan kemudian barang yang pada gilirannya juga membantu saya menikmati dan mencatat pengalaman itu dengan lebih leluasa.

Not Everyone Must Be a Blogger

matt mNot everyone should be a blogger, says WordPress founder Matt Mullenweg. Simply because not everyone has the passion to share things online. “Not everyone’s a creator,”claims he.

But maybe everyone’s a creator, Matt. But not everyone has the passion of sharing.

That reminds me of a friend who happens to like sharing long long updates on Path. She rants a lot once in a while on stuff she cares so much about like parenting but she tends to refuse the idea of blogging because she assumes it’s not what she really is. In many ways, the blogging thing is something  she thinks way too time and intellectual labor intensive. Yet, she can afford the hassle of writing such long updates on Path, which makes me confused. It turns out she doesn’t think sharing ideas to the rest of the world without limit is her thing. That’s something I could never understand. Why writing for only yourself or a limited number of people when you know what you share is useful to not only your inner circle but also everyone who shares the same shoes with you?

Blogging should be done with passion as it’d be tiresome for many without passion to write up like every single day. And this is not everyone can and wants to do. Writing every day is a grind and writing every day to get significant audience is another challenge to conquer.

There’re bloggers who shift path to microblogging like Twitter simply because it’s more succinct and instant a a tool of interaction. The Great Robert Scobble would be one of the examples. In Indonesia, we’ve got Nukman Luthfie, who happened to be an early adopter of blogging and online journalism in the country but as Twitter emerged as a new channel of communication, Nukman spends more time to tweet than blog. It’s all about passion once again. And not all bloggers are all that consistent when it comes to writing consistently. Of course they still write but not in the long form as often as they did before. Instant gratification? I bet.

Blogging may be adopted and then abandoned or vice versa but no one can ddeny that blogging is constant in the way that it serves as our digital home. You can have as many social media accounts as you want but all those lead you to one single place: your site or blog.

9 Jenis Judul yang Menarik Pembaca

Begitu pentingnya sebuah judul sehingga ia bisa turut menentukan menarik tidaknya sebuah tulisan. Kalau bisa saya katakan, judul juga sama pentingnya dengan sampul dan isi sebuah buku, jika tulisan itu bentuknya buku.Jika bentuknya sebuah artikel di media online yang tentu saja tidak memiliki sampul, tentunya judul itulah yang berperan sebagai sampul mukanya. Dalam banyak kasus, penggunaan judul yang berbeda (menggunakan kata-kata yang berbeda, atau menyusun kata dengan urutan berbeda meski maknanya sama) dapat membuat hasil yang berbeda pula. Karena itulah, kadang seorang copywriter harus melakukan eksperimen (A/B testing) terhadap judul naskahnya untuk menemukan tingkat efektivitas yang lebih tinggi dari masing-masing versi judulnya. Artikel yang isinya sama tetapi memiliki dua versi judul yang berbeda bisa menunjukkan jumlah pembaca yang berbeda pula. Itulah pentingnya sebuah judul. Dangkal memang kelihatannya kalau kita menentukan kualitas tulisan dari sebuah judul tetapi memang
demikianlah kenyataannya. Tidak banyak orang memiliki waktu dan kesempatan untuk menelaah semua tulisan atau iklan yang ia temui setiap hari, jadi membaca judul untuk menentukan akan membaca hingga habis atau tidak merupakan hal yang cukup masuk akal.

Menurut copywriter Bob Bly, ada 8 jenis judul yang telah teruji mampu membuat pembaca tertarik dan melakukan sesuatu, entah itu mengklik tautan, melakukan pemesanan/ pembelian, atau melakukan hal lain yang diinginkan oleh si penulis. Dan saya memasukkan 1 jenis lagi yang saya anggap patut kita ketahui sebagai pengetahuan atau sebuah ide untuk diterapkan dalam media Anda, jika Anda mau.

1. Judul langsung
Judul jenis ini seolah merangkum apa yang dikemukakan penulis dalam artikel atau tulisannya. Tidak ada upaya untuk menutup-nutupi atau membuatnya lebih menarik dengan distorsi yang bombastis. Contohnya yaitu “Seminar Copywriting Gratis!” Pembaca langsung bisa mengetahui isi tulisan yang dimaksud. Sayangnya, kadang jika terlalu sering dipakai, judul semacam ini terasa membosankan karena terlalu apa adanya. Orang menjadi tidak tergerak keingintahuannya. Namun, bila Anda memang ingin memberikan penjelasan yang gamblang lewat judul, silakan saja. Asal tidak dipakai terus menerus.

2. Judul tidak langsung
Kebalikan dari jenis pertama, judul semacam ini memberikan ambiguitas yang mendorong keingintahuan pembaca agar mengklik tautan Anda. Judul jenis tidak langsung biasa menggunakan kiasan atau kata-kata yang memberikan makna berbeda dan bermakna ganda. Seperti “Umpan Segar adalah yang Terbaik”. Nah, di sini konteks “umpan” belum diketahui pasti. Tergantung pada banyak faktor. Keingintahuan pembaca atas judul bisa membuatnya terpancing membaca. Bisa jadi ia puas atau kecewa setelah menemukan artikel Anda.

3. Judul berita
Anda bisa menemukan jenis headline seperti ini di situs-situs berita arus utama (mainstream). Misalnya, “Tentang Jurnalisme Warga” atau “Pro Kontra RUU Pilkada”.

4. Judul cara
Dengan menggunakan judul “Cara Me….”, biasanya orang yang sedang ingin tahu bagaimana cara melakukan sesuatu akan penasaran membacanya. “Bagaimana Menghasilkan Uang Online” membuat orang ingin tahu cara yang mungkin mereka belum tahu dalam menghasilkan keuntungan.

5. Judul pertanyaan
Pertanyaan akan membuat pembaca memunculkan empati dalam benak mereka atau menggerakkan mereka untuk melihat jawabannya. Gunakan pertanyaan tertutup (yang membutuhkan jawaban iya atau tidak) dan pertanyaan terbuka (yang membutuhkan jawaban yang lebih panjang) sesuai kebutuhan.

6. Judul perintah
Judul ini dengan lantang memberitahukan pada kita tentang apa yang harus ia lakukan. Pilihan kata kerja yang tepat akan membuat pembaca lebih terdorong berbuat sesuatu setelah membaca. Ambil contoh, “Beli Samsung Galaxy S5 Diskon Sekarang!”

7. Judul alasan
Pernah membaca judul yang menggunakan kata “mengapa” atau “kenapa” atau “alasan”? Inilah yang dimaksud dengan judul alasan. Judul ini memberitahukan pada pembaca bahwa penulis akan menyajikan sejumlah alasan. Contohnya, “Mengapa SBY Diam Plin Plan Soal RUU Pilkada?”

8. Judul testimonial
Jenis yang satu ini efektif dalam meyakinkan calon konsumen atau klien bahwa Anda memiliki kualitas yang mereka harapkan. Menuliskan kesaksian dari orang lain akan menambah kredibilitas Anda. Namun, terlalu banyak menggunakan testimonial juga membuat orang menyangsikan kredibilitas Anda, apalagi jika jangkauan reputasi Anda belum begitu luas. Bentuknya bisa berupa kutipan langsung, misalnya “‘Saya Menulis dengan MacBook Air,’kata Tim Cook” atau “Tim Cook: Saya Menulis dengan MacBook Air.”

9. Judul khas media baru
Judul-judul jenis sebelumnya sudah banyak dipakai di media lama seperti iklan cetak, surat kabar, majalah, tabloid, dan sebagainya. Di media baru seperti blog dan social media, ada juga jenis judul yang khas. Bentuknya tidak lagi berupa frase tetapi sebuah kalimat utuh. Ada subjek dan predikat, bahkan keterangan. Dijejalkan banyak informasi di satu judul. Bila perlu, judul itu bisa berupa dua kalimat terpisah, yang bernada provokatif. Baca saja judul seperti berikut: “Aileen Lee’s Cowboy Ventures Is Raising A $55 Million Second Fund” atau “With Plans of Investing $100M Next Year, Israel’s OurCrowd Forges Its Own Path in Equity Crowdfunding” atau yang berupa dua kalimat misalnya:”Pornhub launches a record label. Wait, what?”

Jurnalisme Emosional

‎Era media baru yang ditandai dengan inovasi-inovasi teknologi yang memudahkan siapa saja membuat publikasi mereka sendiri (via blog, self publishing, dll) membuat norma-norma jurnalisme konvensional mau tidak mau, cepat atau lambat harus bergeser. Terjadi friksi, tumpang tindih, perselisihan di antara para wartawan dan blogger (narablog) yang saling mengklaim bahwa kelompok atau aliran atau medianya adalah yang paling baik. Fenomena ini sungguh menarik untuk diamati bila Anda adalah pewarta atau peminat jurnalisme media baru dan blogging.

Dalam pengamatan saya, ‎sekarang ini muncul sebuah aliran baru dalam jurnalisme:jurnalisme emosional. Para pelopornya adalah pendiri blog TechCrunch.com Michael Arrington, pendiri blog Pando.com Sarah Lacy, dan Kara Swisher yang mendirikan Recode.net. Mereka inilah orang yang membuat terobosan dengan memanfaatkan kanal penerbitan digital semacam blog dan jejaring sosial sebagai pengganti. Mereka membuat dunia jurnalisme menjadi lebih segar, tidak melulu menampilkan onggokan hasil wawancara, fakta dan data. Jurnalis-jurnalis kampiun media baru ini juga memiliki kepribadian (personality) dalam menyampaikan isi kepala mereka mengenai sebuah isu.

Beda yang pertama dan utama aliran jurnalisme emosional ini ialah mereka tidak segan menggunakan kata “I” (saya) dalam berbagai tulisan. Ego mereka memang besar dan mereka tidak menggunakan bahasa yang formal dan kaku bak pewarta media lama yang kerap menghiasi halaman surat kabar. Gaya menulis mereka sangat berkebalikan dengan gaya menulis wartawan di situs-situs berita mapan seperti BBC.co.uk dan VOANEWS.

Karena besarnya ego itulah, jurnalis-blogger di sini diperkenankan (baca : sangat didesak) untuk‎ menunjukkan kepribadian mereka secara blak-blakan. Arrington dan Lacy, misalnya, tidak malu menulis dengan nada memojokkan atau menggunakan kata kasar semacam “f*ck”. Swisher juga terlihat sangat liberal dengan penggunaan kata-katanya di berbagai kesempatan publik meski di tulisannya agak lebih terkendali. Emosi yang menjadi bagian dari watak manusia justru harus dipertontonkan di jurnalisme emosional dan media baru. Padahal di jurnalisme kolot, emosi sebisa mungkin dihindari agar tidak mencemari fakta yang disajikan pada pembaca. Jurnalis adalah mesin penyaji fakta dan peristiwa, tidak dianggap memiliki kepribadian atau sikap atau emosi yang manusiawi. Dalam jurnalisme emosional, justru kepribadian dan emosi harus dieksploitasi karena inilah komoditi.

Kecepatan juga menjadi prioritas di jurnalisme emosional. Sarah Lacy sendiri mengkritik bahwa dunia jurnalisme teknologi akhir-akhir ini menjadi semacam perlombaan bagi jurnalis-jurnalis agar bisa menghasilkan konten baru tentang pernyataan pers yang sama “lebih cepat dua detik” daripada para pesaingnya. Agar jurnalisme tidak semata-mata menjadi lomba kecepatan “salin tempel” (copy paste), ia menyarankan untuk menulis ulang pernyataan pers yang dikirimkan oleh startup atau berita apapun yang sudah ada agar konten yang disajikan lebih segar dan memiliki nilai tambah. Saya amati sendiri metode penulisan di Pando.com yang ia bawahi cukup menarik, karena kontennya lebih kaya referensi dari berbagai sumber. Banyak hyperlink menuju ke laman-laman lain yang bisa memperluas pandangan dan wawasan sehingga bias dalam penyampaian bisa ditekan.

‎Hal lain yang turut membedakan jurnalisme emosional ialah minimnya intervensi tim editorial. Di Techcrunch misalnya, menurut Eric Eldon (mantan editor Techcrunch) sebagaimana dikutip laman Poynter.org di artikel “Techcrunch’s Alexia Tsotsis‎: ‘I Like the Emotional Part of the News’, blog itu tidak memiliki proses ulasan editorial yang formal seperti halnya di media lainnya. Tetapi inilah yang membuat Techcrunch sanggup bertengger di peringkat teratas Techmeme Leaderboard. Artikel-artikel blogger mereka kerap mendapat kecaman, sindiran, olok-olok, karena dianggap bukan pekerjaan jurnalistik yang sesuai pakem. Namun demikian, mereka malah makin berjaya. Salah satunya menurut saya adalah karena blogger-blogger di Techcrunch menulis dengan gaya pribadi mereka sendiri. Dan mereka diberikan ruang yang hampir tanpa batas untuk itu. Begitu bebasnya ruang itu, sampai Tsotsis sendiri mengaku pernah menulis dan mempublikasikan artikel dalam kondisi mabuk setelah minum anggur. “Fuckers I am so sick of reporting on incremental tech news for fucking two years now, so sick I’m pretty much considering reverting full-time to fashion coverage,”tulis Tsotsis yang mabuk di sebuah malam Minggu di Techcrunch. Tulisannya langsung menuai kritik dan kecaman pedas.

Sarah Lacy yang juga pernah bekerja di Techcrunch menyoroti lemahnya pengawasan editorial di media baru seperti Techcrunch dan menerapkan penyempurnaan ‎itu di Pando. Penyuntingan naskah (copy editing) ia anggap sebagai bagian integral penerbitan sebuah artikel hingga pantas dibaca khalayak. Lacy mengatakan sendiri misinya adalah menggabungkan sisi posisif media lama dan media baru. Dan tampaknya ia belajar banyak dari kebebasan yang terlalu tinggi di Techcrunch.

Semua plus minus itulah yang membuat jurnalisme emosional ini menjadi begitu seksi, menantang persis seperti Alexia yang dulunya berprofesi sebagai model. Karena mereka mendobrak aturan formal yang sudah ada, dan makin dicerca, mereka makin disuka juga. Berita yang mereka sampaikan seolah menjadi lebih manusiawi dan tidak mengada-ada. ‎Saya menduga ada kriteria khusus supaya seseorang bisa sukses di jurnalisme emosional seperti ini. Mereka adalah orang-orang yang bersedia menerima kecaman kejam tanpa henti dari troll virtual yang kapan saja bisa meninggalkan komentar pedas di kotak komentar.

Di Indonesia, sepengetahuan saya belum ada yang benar-benar bisa merealisasikan jurnalisme emosional ini. ‎Dibutuhkan orang-orang dengan keberanian seperti Ruhut Sitompul atau Farhat Abbas untuk memancing emosi pembaca tetapi tentu saja, dengan memiliki kepribadian yang unik dan penampilan yang lebih menarik dari keduanya.

{image credit: Alexia Tsotsis/ Business Insider}

Cantik Cantik Bikin Jijik

‎Sebagai penyangkalan atau disclaimer, saya secara tegas menyatakan cerita ini bukan plesetan alias parodi dari sinetron laris Ganteng Ganteng Serigala di SCTV. Tetapi lebih menjadi sebuah anekdot singkat yang menghibur. Berikut ceritanya untuk Anda.

Lift sering menjadi tempat yang ideal untuk mendengar dan menyaksikan potongan-potongan singkat kehidupan orang-orang urban. Di sini mereka mencelotehkan apa saja. Dari masalah pekerjaan, kemacetan, sampai keluarga. Kerap isinya menggelitik karena obrolan lift (lift talk) cuma berlangsung 30 detik atau 1 menit saja. Mirip elevator pitch.

Obrolan singkat lift kali ini melibatkan 3 orang perempuan muda sebagai pelaku aktif, sementara 2 orang pria (termasuk saya) sebagai pendengar semata. Kami diam saja sepanjang peristiwa ini terjadi tetapi tetap saja kami berkomentar di dalam hati.

Mereka adalah tiga karyawati sebuah bank swasta besar Indonesia yang masih muda dan segar. Setelah masuk, suasana lift sontak berubah lebih ceria dan ramai. Apalagi begitu seseorang darinya membuka mulut.

“Enak banget tadi BERAK..”ucap satu orang dari mereka yang berambut panjang dan bercat warna mahogani itu dengan mimik muka dan nada polos.

“Hahh!!”dua orang rekannya tak percaya ia baru saja berkata BERAK. Ekspresi mereka berkata:”Kamu gila ya, ada dua orang pria di sini dan kita semua akan makan siang tapi kamu bilang BERAK dengan santainya!!! Did you drop your manner somewhere?”

Saya maklum saja mendengarnya. Mungkin sudah beberapa hari wanita itu konstipasi sehingga BERAK merupakan momen yang harus dirayakan.‎ ‎

5 Minggu Tanpa Shampoo

‎”Sudah jadi gimbal belum?”sindir seorang teman via WhatsApp. Saya tidak tahu ia sedang menanggapi secara sarkastis pada eksperimen saya untuk menghindari penggunaan shampoo di mahkota kepala ini.

Faktanya yang sebenarnya, TIDAK ADA gimbal dalam bentuk apapun di rambut kepala saya‎. Karena saya bahkan mencuci rambut setiap kali mandi. Tanpa shampoo, hanya air bersih dan pijatan di kulit kepala.

Pagi hari kemarin, seorang teman secara tak sengaja membaui rambut kepala saya. Ia berkata wangi. Tetapi saya menampiknya. Tidak mungkin sewangi itu. Saya tak pernah pakai shampoo sebulan belakangan, tukas saya jujur. Ia terperangah. “Jadi pakai sabun?”tanyanya. Saya menggeleng. “Pakai air bersih saja, dan lemon sesekali.”

Tukang potong rambut yang kemarin merapikan rambut ini juga tidak berkomentar apapun soal rambut. Sehingga bisa saya simpulkan, tidak ada beda dalam hal bau antara rambut yang memakai shampoo dan rambut yang dicuci dengan air bersih dan bahan alami. Itu cuma prasangka dalam otak kita yang berasumsi:”Tanpa shampoo, rambut belum bersih.”‎ Anggap saja ini dekonstruksi pemikiran yang merupakan akumulasi hasil cuci otak kampanye iklan produsen shampoo selama puluhan tahun.

Dan sejujurnya, saya sudah jarang gunakan lemon lagi. Karena selain mahal, terlalu sering memakai lemon membuat kulit kepala dan rambut kering, meski kering yang masih terkendali secara alami. Hanya saja saya tak terlalu suka sensasi kering itu. Membuat rambut terasa terlalu ringan dan tipis. Dan satu lagi akibat menggunakan lemon terlalu sering adalah bisa memudarkan warna rambut. Maksud saya, bukannya menjadi uban, tetapi rambut yang asalnya hitam bisa berubah agak kemerahan atau kusam, kurang legam dan bercahaya saat tertimpa‎ sinar matahari atau lampu. Jadi kesannya kurang sehat. Karena itu saya menggunakan lemon lebih jarang sekarang. Sementara untuk membuat rambut lebih berminyak (karena tipe rambut saya kering) secara alami, saya masih tetap memakai minyak zaitun (olive oil) dan minyak biji wijen (sesame oil). Bisa diusapkan ke rambut setelah diratakan di telapak tangan di malam hari lalu dibilas esok harinya dengan air bersih sehingga tak terlalu berminyak. Jika merasa kering di ruangan berpendingin udara, saya kadang usapkan lagi. Saya pikir ini lebih baik daripada memakai gel rambut atau hairspray apapun.

Menurut hemat saya, penggunaan produk-produk perawatan rambut yang digunakan berlebihan berisiko membuat rambut bermasalah di kemudian hari sehingga saya memutuskan untuk menghindarinya sebisa mungkin. Seaman apapun jika dipakai setiap hari, akan terjadi akumulasi atau penumpukan bahan-bahan kimia di rambut. Dan efeknya pada kesehatan rambut pastinya akan muncul suatu saat.

Misi saya untuk mencoba hidup tanpa shampoo, di samping untuk‎ melepaskan ketergantungan pada intervensi manusia dalam masalah-masalah yang sebetulnya bisa terselesaikan secara alami, adalah juga menghindari kebotakan dini! ‎Mungkin Anda tertawa mengejek sekarang karena belum terasa, tetapi saat menyaksikan foto-foto keluarga yang di dalamnya ada ayah dan kakek biologis Anda yang rambutnya tak selebat saat muda, pastinya ada keinginan untuk bisa menghindarinya atau setidaknya membuat proses itu menjadi jauh lebih lambat. Selama mungkin.

Dan pemakaian shampoo buatan dengan bahan-bahan kimia memang membuat rambut bersih dengan lebih mudah tetapi dampak jangka panjangnya tidak pernah kita pikirkan, atau jika kita pernah memikirkannya, akan kita abaikan begitu saja.

Seorang teman kos yang memakai gel rambut secara intens tiap hari kerja (agar rambutnya bisa membentuk mohawk atau jengger ayam yang memukau itu) ternyata juga mengalami kerontokan. Rambutnya masih tebal sehingga bukan masalah besar tetapi untuk saya yang sudah secara genetis bertekstur lurus dan tipis, kerontokan sedikit pun bisa memicu bencana.

Teman saya yang lain juga mengatakan ia cemas rambutnya menipis, dan memang itu yang terjadi karena saya lihat sendiri. Karenanya ia memakai tonik penyubur rambut. Baiklah pakai tonik tetapi‎ ia juga setiap hari memakai shampoo agar lebih bersih. Lalu saya ceritakan eksperimen saya. Dan saya sarankan ia mengurangi penggunaan shampoo jika tidak ingin penipisan itu berlanjut. Cuci rambut saja dengan cara alami dengan air bersih. Ia tertawa, mengatakan bahwa itu tidak mungkin. Saya katakan saja bahwa mencuci rambut tanpa shampoo dan hanya dengan air bersih bisa membuat rambut bersih asal dibilas berkali-kali dan menggunakan pijatan lembut di kulit kepala.

Sementara saya menemukan tip lain dari teman yang juga tengah berjuang mengatasi kerontokan rambutnya secara alami. Katanya, makan bunga mawar bisa membantu menyuburkan lagi rambut. Saya belum tahu bukti ilmiahnya atau hasil dari rutinitasnya makan mawar itu. Apakah efektif? Kita masih harus menunggunya.

As If Bendgate wasn’t Enough, Apple Released iOS 8.0.2

IMG_3966.PNG

Apple is doomed. The Bendgate proves they are supposed to be working more on the PR aspect and of course the hardware reliability.

This release contains improvements and bug fixes, including:
Fixes an issue in iOS 8.0.1 that impacted cellular network connectivity and Touch ID on iPhone 6 and iPhone 6 Plus
Fixes a bug so HealthKit apps can now be made available on the App Store
Addresses an issue where 3rd party keyboards could become deselected when a user enters their passcode
Fixes an issue that prevented some apps from accessing photos from the Photo Library
Improves the reliability of the Reachability feature on iPhone 6 and iPhone 6 Plus
Fixes an issue that could cause unexpected cellular data usage when receiving SMS/MMS messages
Better support of Ask To Buy for Family Sharing for In-App Purchases
Fixes an issue where ringtones were sometimes not restored from iCloud backups
Fixes a bug that prevented uploading photos and videos from Safari

BlackBerry Still Rocks, so Do iPhone and Android

“Still a huge fan of BlackBerry?”‎he mocked me while I had my handset in hand. I was there, eating my meal and guess what, blogging (now you all know why I blog a little bit too frequently). On my BlackBerry, I find it more convenient to type because the keyboard is still cute and wildly functional to me.

It got me thinking:”Why are people so mean to me just because I’m (and will be) using BlackBerry?”‎ I love it for a strong reason: blogging.

At work, I have a bunch of coworkers who are, let me call them this way, Android maniacs. These folks are those typical fandroid who may be willingly married and having an intercourse with their Android handsets if these gadgets were alive.‎ They sneered as I was found to have a BlackBerry handset at work. “Disappointing… Downgrade,”murmured they.

I don’t get the point of this fanaticism.

On another occasion, when I lashed out on Facebook on how my iPhone failed to receive signals several times a day, ‎I was addressed by a distant friend who happened to think I was a hater of Apple products. He himself is a user of iPhone and would love to voluntarily endorse it to anyone he knows about the huge potential of iPhone in improving our lives. I thanked him for the nice words.

Android fans hate BlackBerry, saying it’s obsolete.
Android fans loathe iPhone, arguing it’s overpriced.
iPhone worshippers mock BlackBerry, claiming it has begun to be part of history.
iPhone worshippers dissed Android, accusing Google Play of having too many crappy and spammy apps to lure us.
BlackBerry owners love the joy of typing so hate the sensation of virtual keyboard use but still long for iPhone or Android to enjoy the web surfing.

This has got to cease. Because it’s ridiculously childish.

Buy anything which suits your needs best! Period.

There I said it.

How Samsung Agressively Eats up Rivals’ Market Share

image

If you reside in Jakarta and own an old iPhone or BlackBerry or even Samsung  handset tha, you already think obsolete, here’s the chance for you to literally get a new phone with less money to spend. Look at the list. And this is apparently Samsung’s latest strategy to remain on top of the sales chart in the market of Indonesia, where it already is favored by most smartphone consumers.

Several weeks ago, at an outlet in Kota Kasablanka Mall they applied the same strategy; i.e. allowing old phones owners to trade their handsets with Samsung latest products like Samsung Galaxy S5 or whatever Tabs they recently released. This week they invade Lotte Shopping Avenue Jakarta, trying hard to win the hearts of many office workers nearby to come and swap. Crap! I need to go there too!!! It’ll last only till September 30th.

If you’re sick with small screens of iPhones, you might find this is your chance to convert.
Continue reading “How Samsung Agressively Eats up Rivals’ Market Share”

Bola-bola di Ruang Yoga

“Mimpi apa aku semalam….”gumam Rosi.‎ Ia ingin menyeka keringat yang mulai bercucuran di dahi dan pelipisnya.

Ia tengah berjuang keras bertahan untuk hidup di kelas yoga ini. ‎Ruangan ini mirip neraka baginya yang masih pemula. Napasnya memburu cepat seakan-akan ia bisa mampus bila ketinggalan barang sedetik.

Rosi mulai menyesal,”Ah, kenapa tidak ambil kelas lain saja tadi?!!” Gadis itu ingin segera meninggalkan ruangan yang hangat bukan kepalang ini untuk pergi ke tempat lain yang lebih sejuk. “Rasanya mau pingsan…”ia menggerutu dalam hati lagi.

‘Siksaan’ belum selesai. Dan lama-lama ia makin frustrasi. Semua kekesalannya berakumulasi sejak pertama ia melihat guru yang mengajar kelas ini. Sebagai perempuan muda dengan vitalitas tinggi, ia ingin setidaknya mendapatkan guru pria yang sedap dipandang mata. Sedikit tua tidak masalah asal masih layak dilirik sesekali.

‎Malang tak dapat ditolak, untung tak bisa diraih. Semangat Rosi surut drastis begitu guru yang tampil bukan orang yang sama sekali ia harapkan.

Tahu akan kepanasan, pria di depan itu hanya mengenakan sebuah celana ‎pendek mirip yang dipakai para pelari selama mengajar. Rosi mengernyit lalu berpura-pura menyibukkan diri menata rambutnya yang sudah rapi dengan ikat rambut dan bandana kemudian meneguk.

Pose berikutnya yang mereka akan lakukan adalah gerakan yang kata sang guru mirip busur. Mereka telungkup, lalu menendangkan kedua kaki ke belakang sambil kedua tangan memegang pergelangan kaki.

Di saat-saat kritis itulah Rosi sudah berkunang-kunang. Pasrahlah ia pada sekelilingnya. “Mereka orang-orang baik, pasti akan mau mengangkatku jika pingsan,”pikirnya selintas. Sayang ia tidak memasukkan faktor berat badan dalam hitungan karena tak semua orang baik di dalam kelas bisa memanggulnya ke luar.

Guru itu‎ mendekat. Rosi terkesiap. “Oh, apakah aku harus pingsan sekarang???”

Suara itu berkata padanya,”Kick harder!”

Rosi mendongakkan kepala. Ia menduga akan menyaksikan wajah sang guru yang berseru penuh semangat.

Namun, sekilas ia menyaksikan sepasang bola. Bola-bola dalam celana sang guru. Mata yang tadinya berkunang-kunang langsung terang‎. Membelalak antara risih, gembira dan tidak percaya.

“Ah, aku lupa kalau harus pingsan sekarang!”

(Image credit: Kasper van den Wijngaard)

When iOS 8 Gets Installed on iPhone 4S

‎It’s out of sheer curiosity. So I updated my operation system though I have been warned the iPhone 4S would work a bit more slowly. Let it be. Come what may. ‎

Here we go! Thanks to Jennifer Lawrence, now we have a more secure operation system. Prior to using your iPhone 4s with iOS 8 on it, you must set 3 extra layers of security in the form of security questions. IMG_3943.PNG

Apple wants it way more secure by requiring you provising another email address. Nice.

IMG_3946.PNG

Oh and this!

IMG_3949.PNG

A friend with iPhone 5S commented on my experiment of installing iOS 8 but well, for the sake of better security, why not?! He argued no one wanted to hack my phone. Leaking nude photos of mine is impossible simply because I never snap any of it.

As for the phone battery durability after the installation of iOS 8, I guess there’s no significant improvement or degradation. The battery lasts pretty much like before. The speed of web surfing is also not considerably lowering. At large, it’s not that bad!

%d bloggers like this: