Dua Faktor Pemicu Radikalisme dalam Umat Islam

Lagi-lagi isu radikalisme merebak. Dari tragedi 11 September 2001 hingga kemunculan Negara Islam Suriah dan Irak atau ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) yang kemudian berubah nama menjadi Negara Islam (Islamic State) baru-baru ini, radikalisme tidak kunjung pudar. Malah semakin menggila.

Dunia makin tertarik dengan Islam pasca Tragedi 11 September lalu, tetapi sebetulnya ketertarikan itu sudah terjadi sebelumnya. Berabad-abad lalu sebelum manusia abad ini lahir ke dunia, Barat sudah menaruh perhatian kepada Timur, termasuk di dalamnya adalah ajaran Islam. Pasca Perang Dingin berkecamuk, diramalkan oleh seorang pakar dan peneliti dari Barat bahwa Islam akan kembali menyeruak ke percaturan dunia, sehingga menghadang gerak Barat dan menimbulkan friksi yang disebutnya sebagai “Clash of Civilization” atau Benturan Peradaban, yang dikemukakan pada era 1990-an.

Merespon pernyataan tersebut, para pemikir berpengaruh dan tokoh besar Islam kemudian berdiskusi di Jakarta. Saat itu Perdana Menteri Turki, BJ Habibie, dan pemikir lainnya sepakat menyebut fenomena yang sama dengan sebutan “Dialog AntarPeradaban”. Dialog kedua pihak itu dirintis tetapi sayang harus porak poranda seiring leburnya bangunan pencakar langit kembar World Trade Center di New York City pada 11 September 2001.

Faktor pertama berupa pemicu dalam lingkup internal umat muslim. Di dalam umat muslim sendiri sudah tersimpan bibit-bibit radikalisme. Dalam bentuk apakah radikalisme ini tersimpan dalam tubuh umat? Bentuknya sangat samar karena radikalisme itu ide yang subtil, halus, tak kasat mata. Tetapi ia bisa dengan lebih mudah ditemukan dalam perilaku dan sikap manusia muslim yang kecintaan dan pengabdiannya pada Islam lebih berdasarkan pada emosi daripada ilmu. Penguasaan orang-orang muslim seperti ini biasanya kurang memadai tetapi rasa cinta mereka pada Islam begitu membuncah, sulit dikontrol. Akhirnya emosi mengalahkan ilmu yang ada dalam otaknya. Bukan berarti kecintaan pada Islam itu buruk tetapi hendaknya umat muslim juga membekali diri dengan ilmu yang cukup. Bila hal ini terjadi, yang bisa tampak cuma emosi saja yang kemudian dibungkus dengan ajaran Islam yang suci. Umat muslim di dunia memang tidak bisa dikatakan sedikit. Ada lebih dari 1 miliar jiwa pemeluk Islam di muka bumi namun hanya sebagian kecil yang menguasai hakikat ajaran Islam. Tak banyak yang mengetahui bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang mendahulukan kasih sayang. Lihat saja ucapan basmallah yang artinya “dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Pengasih dan penyayang! Bukankah itu sudah jelas? Apalagi kita umat muslim mengucapkannya setiap memulai setiap kegiatan.

Masih tentang radikalisme internal, benih-benihnya sudah ada sejak dulu kala. Nabi Muhammad SAW suatu kali pernah mendapatkan laporan bahwa ada sekelompok muslim yang mengamalkan Islam dengan keras dan membuat orang tidak nyaman dalam beragama. Seorang muslim mengeluhkan pada Nabi ia terlambat memenuhi janjinya bertemu dengan Nabi karena bacaan solat imam di masjidnya panjang sekali. Kemudian Nabi Muhammad bersabda:Sesungguhnya dari kamu ada yang membuat saudara-saudaranya resah. Di hadis lain, disebutkan Nabi pernah bersabda bahwa di dalam umat, ada orang yang berlebihan dan radikal. Hancur, celaka mereka yang keras, radikal, yang memaksakan, membuat gerah. Umat Islam juga telah diingatkan Nabi, suatu saat kelompok di luar Islam akan menyerbu umat muslim bagaimana orang yang lapar dan saat hal itu terjadi jumlah umat muslim jauh lebih banyak dari masa Rosul Muhammad hidup.

Faktor kedua yakni faktor eksternal. Radikalisme itu muncul dari kelompok-kelompok di luar umat muslim yang berkeinginan menemukan “cacat” umat Islam dan mencari celah untuk menghentikan perkembangan Islam. Mereka ini adalah sebagian dari kaum Orientalis Barat, yang belajar tentang Islam tetapi dengan agenda yang destruktif. Mereka menuduh Islam berkembang dengan pedang, padahal Islam sebenarnya berkembang dengan semangat kasih sayang dan keteladanan. Penyebaran Islam ke Indonesia pun dilakukan melalui jalan damai, bukan peperangan, penaklukan militer, dan sebagainya. Di Mesir, kaum Kristen Koptik mengakui mereka dijaga oleh umat Islam, lalu di Suriah penduduk kota Hamsy ketika sahabat Nabi Muhammad SAW tidak memaksa penduduk Kristen untuk masuk Islam. Saat umat muslim akan meninggalkan Hamsy, mereka malah dihalangi oleh penduduk Kristen setempat karena dianggap menjadi pelindung masyarakat setempat. Kala itu umat muslim memang mampu mencerminkan ajaran Islam yang sebenarnya sehingga mereka mampu meyakinkan umat lain bahwa Islam adalah agama yang penuh kasih sayang, bukan bernuansa kekerasan dan teror.

Dalam Al Qur’an setelah menjabarkan kegagahan-Nya di ayat Kursi, Allah SWT berfirman bahwa tidak ada paksaan dalam agama, telah jelas yang benar dan yang menyimpang. Ajaklah siapa saja yang akan kamu ajak menuju jalan Allah dengan bijaksana dan dengan nasihat yang bagus dan baik, demikian disarikan dari ayat Al Qur’an. Bila harus terjadi perdebatan, lakukan dengan tetap menjaga kesantunan.

(sumber: khotbah H. Ali Hasan Bahar, LC, MA. di Masjid Sunda Kelapa, tanggal 5 September 2014)

Leave a comment

Filed under save our nation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s