Waspada Dibungkus ala Papua

‎Dalam setiap obrolan pasti ada topik yang paling menarik. Ibarat sebuah hidangan penutup atau dessert, ia semacam cherry di atasnya. Puncak dari segalanya yang paling menggelegar, mengundang decak kagum, atau antusiasme berlimpah dari audiens.

Dari obrolan pagi kami tadi, inilah buah cherry yang saya maksud. Topik yang paling menggelikan dan mengundang keingintahuan dari pendengar yang kebetulan para pria muda yang masih lajang.

Seorang teman bercerita tentang pengalamannya di Biak, Papua. Ia kerap bepergian ke luar pulau Jawa untuk memenuhi tugas kantornya. Mulanya kami membahas banyak hal, tetapi sekonyong-konyong ia membelokkan arah percakapan kami ke isu ukuran nan peka ini. Begini kisahnya.

Suatu saat di Biak Numfor‎ seseorang tiba-tiba menghampirinya dan berkata,”Mas, mas, mau dibungkus nggak?”

“Dibungkus gimana pak?”teman saya itu bertanya dengan naif.

“Dibungkus burungnya,”jawab si oknum.

Suasana hening, kami mendengarkan dengan khidmat.

“‎Buat apa, pak?”

“Supaya gede.”

Ingin tahu lebih banyak, teman itu mengorek lebih dalam prosedur pembungkusan ‘aset pribadi’ tersebut.

Sebelum dibungkus, dukunnya akan menanyai pria yang bersangkutan,”Mau segede apa?” Kata teman saya itu, seperti Mak Erot. Saya curiga ia pernah menggunakan jasanya.

Katanya lagi,”Nanti dibungkus pakai daun dan ramuan khusus. Dan itu tidak boleh sampai kena air dua hari.”

“Kalau kencing nanti gimana?”teman yang lain ingin tahu.

“Nggak pas lubangnya sih.”

Yang lain mengangguk-angguk. Paham sekali. Air muka mereka masih serius. Mungkin membayangkan repotnya dua hari menjaga daerah terlarang itu tetap kering.

Teman saya yang kala itu begitu ingin tahu untungnya tidak serta merta menyerahkan ‘aset’-nya untuk lekas dibungkus. Ia menyempatkan diri untuk menelepon seorang teman yang lebih lama tinggal di sana. Dan temannya itu tak menyarankan tindakan pembungkusan untuk pembesaran semacam itu. Jangan, katanya. Ternyata ada risiko terkena infeksi. Teman saya bernapas lega karena belum mencobanya.

“Dan kalau sudah infeksi itu dirawat di UGD, bentuknya jadi aneh,”terangnya lebih detil. Bentuknya seperti terbakar tidak jelas begitu, ia menuturkan penjelasan temannya yang sudah tahu lebih banyak tentang Biak.

Tenaga harian yang bekerja bersamanya pernah membagikan pengalaman yang sama. “Katanya bentuknya jadi gede aja, kayak hmmm…”ia kebingungan mencari benda yang bentuknya bisa digunakan sebagai bahan pembanding.

“Cakwe cakwe…,”seorang lainnya tak sabar memberikan usulan.

“Ya cakwe,”ia pasrah saja menerima usulan itu. “Iya menggelantung gitu. Aneh. Nggak kayak bentuk normal.” Dengan ukuran yang sefantastis itu, pasti susah memakai celana dalam, teman saya berceletuk iseng pada si tenaga harian tadi. Tidak usah pakai saja sekalian, tukas pekerja tadi blak-blakan.

Si pekerja harian tadi pun menceritakan kisah naas seorang temannya yang pernah mencoba. Alhasil, ia kena infeksi. Di rumah, ia tak bisa menceritakan tragedi itu pada keluarganya. Siapa yang tidak malu? Tapi kalau kesakitan terus, rasa malu akhirnya harus ditelan mentah-mentah supaya bisa kembali normal.

Ah, tragisnya!

(Image credit: Commons.wikimedia.org)

Leave a comment

Filed under miscellaneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s