Inovasi Dangkal vs Inovasi Vital

‎Apple baru saja meluncurkan produk-produk baru mereka yang dielu-elukan akan menjadi inovasi disruptif. Ada iPhone 6 dan iPhone 6 Plus yang berkemampuan lebih canggih dengan layar lebih lebar. Lalu ada Apple Watch yang menjadi produk wearable pertamanya. Kemudian Apple Pay, sebuah sistem pembayaran non-tunai yang hanya bisa dipakai oleh pemilik gawai keluaran Apple.

Selama live event dini hari tadi, apa yang terpikir dalam ‎benak kita saat disuguhi semua itu? Kagum? Begitu yang dirasakan banyak orang. Namun, ada juga yang tak berpendapat demikian. Bukan berarti mereka pesimis atau skeptis tetapi dengan alasan bahwa ini tidak menyasar pada esensi. Maksud saya, apakah ini semua akan memberikan solusi bagi masalah nyata yang ada di dunia ini? Mungkin vaksin untuk membuat kita lebih kebal terhadap serangan Ebola yang konon sudah memakan 2000 jiwa itu? Apakah semua produk Apple yang canggih itu bisa menolong kita saat kita, misalnya, terkena Ebola, atau saat kita butuh tumpangan saat mobil mogok di tengah jalan?

Inilah yang terlintas dalam benak saya sore tadi saat menyaksikan event Get in the Ring di At America. Saya bangga Indonesia TIDAK memiliki startup teknologi yang besar dan menggurita tetapi egois seperti Apple. Saya masih bisa memaklumi gurita bisnis software Microsoft, karena Bill Gates masih tahu bagaimana ia memanfaatkan keuntungannya demi kemaslahatan umat manusia dengan menjadi filantropis sejati bersama istrinya Melinda. Tetapi, Steve Jobs dan Apple? Upaya filantropis signifikan apa yang pernah keduanya buat yang memberikan sumbangsih positif bagi warga dunia selain kecantikan dan kecanggihan superfisial produk dan layanan mereka? Mohon koreksi bila saya keliru.

Jadi saat Gibran Chuzaefah dari startup Efishery mengatakan dengan lantang bahwa startupnya bukan ingin mempercantik‎ tampilan layar smartphone kita tetapi untuk menciptakan dampak besar dan luas pada kehidupan jutaan orang, saya sangat sepakat. Tentu kita tidak bisa mencegah entrepreneur-entrepreneur kita berlomba membuat aplikasi-aplikasi lucu atau games menarik dan adiktif seperti Clash of Clans itu. Sah-sah saja memang tetapi masalahnya kita terlalu berfokus pada inovasi-inovasi dangkal semacam ini, daripada jenis inovasi vital yang membuat kehidupan kita lebih baik secara nyata. Makanya saat ia menyabet ge‎lar jawara, saya tidak heran. Bisnisnya, selain scalable dan berdampak luas, juga memiliki misi yang lebih tinggi dari kepentingan apapun di negeri ini: menyukseskan swasembada pangan ikan di negeri maritim ini. Belum banyak yang tahu kalau negeri sekaya Indonesia harus mengimpor ikan, bukan? Saya pun belum tahu kalau Gibran tidak mengatakannya. Tetapi dengan kasus impor beras dan garam yang terjadi, impor ikan menjadi suatu ironi yang hanya dimaklumi lalu dilupakan. Lebih mudah impor kok daripada mempertahankan kedaulatan dan kemandirian pangan kita sendiri.

Yang hendak saya sampaikan adalah mengapa kita perlu sadar sepenuhnya dengan inovasi-inovasi yang lebih bermakna. Produk-produk teknologi seperti smartphone, tablet, dan apapun itu memang penting dalam kehidupan kita tetapi bagaimanapun juga semua benda itu tidak bisa memecahkan masalah utama dalam kehidupan sebagian besar warga dunia yang masih berjuang memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar mereka seperti air bersih, udara segar, pendidikan murah, layanan kesehatan, dan lain-lain.

Kara Swisher kurang lebih pernah mengatakan konyol jika mengharapkan perubahan dunia hanya dengan membuat aplikasi chat‎ di smartphone. Dan saya sepakat dengannya. Investor-investor memang lebih tergoda dengan startup-startup semacam ini karena balik modalnya lebih cepat dan return of investment juga berkali-kali lipat! Bandingkan dengan startup bermisi sosial yang mengurusi pinjaman masyarakat kecil, contohnya.

Lalu saya teringat dengan pertanyaan yang saya lontarkan pada dubes AS untuk RI Robert Blake tadi. “Apakah startup di Indonesia juga bisa sebesar Apple?”tanya saya. Tentu bisa, Blake menjawab. Namun, setelah saya pikir lagi, mengapa semua harus mengekor Amerika Serikat? Para entrepreneur Indonesia perlu sekali membangun jati diri mereka sendiri dengan mencermati masalah-masalah di sekitar mereka dan memecahkannya. Bukan cuma meniru mentah-mentah konsep dan ide bisnis yang sukses di pasar asing terutama AS. Mungkin dengan begitu kita akan lebih banyak memiliki anak muda yang kreatif memecahkan masalah-masalah nyata seperti efishery yang membantu para peternak ikan dan 8Villages yang membantu para petani dengan informasi berharganya.

Leave a comment

Filed under entrepreneurship

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s