Membedah Tanda Tangan Jokowi dengan Grafologi (1)

‎Media massa sedang demam analisis tulisan tangan dan tanda tangan pejabat. Blog ini juga tidak mau kalah. Saya akan bahas tanda tangan Joko Widodo di tulisan kali ini.

Saya memang bukan grafolog terkemuka apalagi berpengalaman, tetapi sekadar mencoba-coba saja. Referensi saya adalah buku karya Bayu Ludvianto “Analisis Tulisan Tangan: Tulisan Anda Menentukan Hidup Anda” dan Majalah Marketeers Jokowow Collector’s Edition yang memuat khusus sepak terjang sang presiden terpilih serta wawancara Tempo dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di edisi 25-31 Agustus 2014 . Saya akan mencoba membedah karakternya dengan membaca kesesuaian bentuk-bentuk tipikal tanda tangan dan kisah hidup Jokowi sendiri dan pandangan rekannya pada Jokowi agar lebih lengkap hasilnya. Berikut analisis singkat saya. Baik jangan disanjung berlebihan, buruk jangan dijadikan bulan-bulanan. Saya bukan menulis untuk memuaskan Jokowi lovers atau Jokowi haters di sini.

‎Bentuk pertama yang menarik perhatian ialah gelembung bulat yang mirip angka delapan tetapi yang saya bisa samakan dengan bentuk cangkang. Kata grafolog Bayu Ludvianto, tanda tangan semacam ini mencerminkan adanya benteng dalam pribadi mereka. Benteng dari apa? Dari dunia luar. Ia mengenakan cangkang bak siput yang tanpa tulang agar ia bisa bertahan hidup dari serangan eksternal. Bentuk ini menunjukkan adanya kecenderungan paranoia terhadap pengalaman buruk di masa lalu. “Pembuat tanda tangan mempunyai pengalaman masa lalu yang pedih, mengancam, memalukan, menyakitkan dan merendahkan harga dirinya,”tulis Bayu. Namun, cangkang ini hanya ada di bagian depan tanda tangan, yang bisa jadi mencerminkan awal kehidupan Jokowi yang “berbadan kerempeng sejak kecil” tetapi “jarang sakit” (dikutip dari penuturan Sujiatmi, ibunda Jokowi di artikel “Anak Saya Seorang Pemberani”, The Marketeers). Anda bisa tebak jika seorang anak memiliki badan yang berukuran lebih kecil dari anak-anak sebayanya. Sedikit banyak ada rasa rendah diri dan ketertindasan dari teman sebayanya sehingga hal itu mungkin mendorong Jokowi kecil lebih memilih diam agar “menyerap ilmu dan hal-hal positif dari orang lain”. Sang ibunda tak menceritakan apakah anaknya mengalami pengalaman buruk atau tidak selama masih kecil tetapi tidak tertutup kemungkinan, pengalaman ini sudah terkubur di benak Jokowi dan muncul dalam tanda tangannya.

Di bawah cangkang tadi bisa ditemukan dua garis vertikal pendek. Saya pikir ini ‎dapat diibaratkan sebagai kekang, pasak untuk mengikat sebagian kenangan masa lalu yang kurang indah untuk dikenang itu.

Setelah bagian depan tanda tangan yang berbentuk cangkang itu, kita bisa temui sebuah garis miring ke kanan bawah. Tanda tangannya seolah terputus dan garis ini menjadi garis batas. Kalau boleh sedikit berspekulasi, garis itu mungkin mencerminkan adanya keputusasaan, apalagi dengan arahnya yang menukik ke bawah. Bawah identik dengan titik nol, titik nadhir. Dan memang benar, Jokowi muda pernah mengalami kondisi putus asa. Dicukilkan dari penuturan Sujiatmi, Jokowi tidak diterima di sekolah unggulan SMAN 1 Surakarta, sekolah yang menjadi tujuan banyak teman SMPnya. Apa dikata, Jokowi ‘ngambek’ karena gagal lolos masuk. Kegagalan itu menjadi beban baginya karena Jokowi sampai sakit tifus. Orang tuanya harus membujuknya agar mau masuk ke sekolah‎ baru SMAN 6 Solo, dan menjadi angkatan pertama di situ. Di kelas dua SMA, semangatnya pulih dan ia menjadi juara kelas.

‎(bersambung)

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s