Kurcaci

Pendek itu kurang elegan. Setidaknya itu menurut ibu kos saya. Menurut doktrin yang ditanamkan padanya — dan juga pada banyak orang — berbadan pendek membuat kita rendah diri, kurang dihargai orang. Saya juga berpikir begitu. Dulu.

Persetan! Begitu rutuk saya dalam hati sekarang. Makian itu saya lontarkan dari kubangan keputusasaan. Kami berdua adalah korban dari semua orang yang ingin menarik keuntungan dari kampanye “Better Taller” (anggap saja parodi dari “Better Together” yang ada di Skotlandia sana) yang telah ada sejak zaman dahulu kala.

“Dulu aku dikatain pendek,”kenang bu kos,”lalu disuruh gelantungan di kusen pintu tiap pagi biar tinggi. Tetep aja kalo bibitnya pendek ya jadinya pendek.” Suaranya makin melemah saat mendekati kata PENDEK, seakan ia ingin menghindari mengucapkannya. Risih, atau geli, mungkin gabungan keduanya. Tetapi apa mau dikata, Tuhan menakdirkan tubuhnya hanya menjulang setinggi 150 cm.

Trik lain untuk mempertinggi tubuh yang kita miliki adalah menarik-narik leher kita sendiri, sekuat mungkin. Namun, tidak sampai memutus urat leher kita juga. Tidak membuahkan hasil juga, keluh bu kos.

Menyedihkan. Lalu ia membiarkan saja tubuhnya tumbuh apa adanya. Memang kalau tidak tinggi kenapa? Toh masih bisa bernapas dan berguna juga bagi sesama. Ia memasak dan mencuci pakaian kami semua, dan keluarganya juga, setiap hari. Kurang apa lagi? Bisa dikatakan ia membanting tidak cuma tulangnya, semua daging dan lemak tubuhnya juga. Bayangkan saja harus mengurus keluarga 24 jam sehari 7 hari seminggu, belum lagi mengurus anak-anak kos yang sering berulah (kecuali saya, ulah paling bengal saya ‘cuma’ minta makan berulang kali).

Obsesi itu juga pernah saya derita. Dalam hati, saya ingin setinggi pemain NBA. Bukannya saya maniak bola basket, hanya penonton sesekali saja. Cuma agar terlihat lebih menjulang. Sedikit saja, tidak banyak.

Melihat iklan di sebuah koran yang memajang foto dan testimoni mereka yang berhasil menjadi setinggi orang Kaukasia, saya pernah kalap membeli alat yang konon bisa meninggikan tubuh itu. Bentuknya cuma sebuah penarik dagu yang harus dipasang di kusen pintu. Tiap hari setidaknya beberapa kali alat itu harus digunakan agar cepat tinggi. Lalu minum susu kedelai. Dan yang tak kalah absurd, makan jus kecambah segar. Tidak boleh diseduh air hangat! Harus segar! Bisa dibayangkan baunya. Kecambah-kecambah itu harus ditanam khusus di media tanam yang bersih seperti kapas agar bisa dimakan utuh. Kalau tanah, nanti agak jijik juga meski sudah dicuci. Biji-biji kacang hijau direndam semalam suntuk dan ditanam di pot beralaskan kapas steril lalu dipanen setelah beberapa hari tumbuh memanjang. Setiap hari tak kurang dari segenggam tangan kecambah segar harus dilahap habis jika, kata si penulis buku peninggi badan itu, saya mau lebih tinggi. Alhasil, bukan tubuh yang tinggi yang saya akhirnya dapatkan, tetapi sistem pencernaan saya yang lebih lancar, kulit saya yang menjadi lebih cerah, dan kesehatan fisik saya yang membaik berkat makanan super bervitamin tinggi yang bernama kecambah. Jika sekarang saya makan ketoprak betawi dan masih menjumpai kecambah segar, rasanya saya rindu makan kecambah lagi, meskipun jumlah dan frekuensinya tidak segila yang dahulu.

Putri, anak kos satu itu, juga mengikuti jejak kami. Ia mau lebih tinggi. “155 senti kurang tinggi, kak. Aku mau 160,”ia menetapkan target. Tidak terlalu muluk-muluk sebetulnya tetapi ia lupa umurnya bukan belasan tahun lagi.

“Emang kenapa sih mau lebih tinggi?”tanya bu kos penuh keingintahuan. Apakah ia mau mendaftar menjadi model, atau pramugari, atau polwan?

“Bukan. Ya, pengin aja,”Putri menjawab singkat.

“Tinggal pakai high heel aja sih,”saran saya. Saya pikir itulah hak prerogatif seorang wanita yang ingin semampai dalam seketika:memakai sepatu berhak setinggi yang mereka mau dan mampu.

Putri baru beberapa hari ini membeli pil-pil peninggi badan dari penjual di situs online. Dari pengalaman masa lalu, saya hanya bisa menanggapi optimisme Putri yang membuncah karena kehadiran pil ‘ajaib’ itu dengan skeptisme yang terbungkus rapat oleh senyum yang dimaksudkan sebagai penghiburan baginya. Biarlah waktu yang membukakan matanya bahwa semua ini cuma impian belaka, batin saya. Sementara di sisi lain, saya juga mau tahu,”Bagaimana kalau ia benar-benar tinggi? Pil apa sih itu? Mau dong satu!!!”

Meskipun kami hanya kurcaci, yang tidak setinggi Snow White dan pangerannya, kami sadar tinggi badan yang seperti ini yang paling sesuai untuk kami. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan kalau saya bertubuh 6 kaki alias 180-an cm. Kalau harapan saya itu terkabul, besar kemungkinan melakukan pose-pose yoga tertentu akan menjadi lebih sukar bagi saya daripada dengan tinggi badan sekarang yang cuma 163 cm. Seperti pernah saya bahas dulu dalam sebuah tulisan di blog ini juga, kriteria badan ideal seorang yogi lain dengan kriteria badan ideal dalam olahraga lain misalnya renang, bina raga, bulutangkis, sepakbola, atau catur (?). Akan tetapi, bisa dikatakan badan ideal yogi mirip dengan badan ideal para pesenam (gymnast). Tubuh yang lebih pendek memungkinkan efisiensi energi yang lebih tinggi saat bermanuver. Cilik itu lincah, penuh vitalitas. Besar dan tinggi mungkin juga bisa cepat, tetapi lincah? Susah juga. Yogi dan pesenam memiliki kemiripan karena mereka juga sama-sama mengandalkan berat tubuh, kelenturan dan kekuatan dalam melakukan gerakan-gerakan yang luar biasa sukar bagi kebanyakan orang. Makanya, saya tidak terlalu kecewa saat mengetahui bahwa menjadi tinggi tidak sepenuhnya enak. Setidaknya itulah yang saya rasakan saat datang ke sebuah masjid dengan jamaah solat Jumat yang membludak hingga ke teras-terasnya. Saya masih bisa masuk ke ruang-ruang kosong yang ditinggalkan orang-orang lebih besar dan tinggi. Mereka tahu sujud dan rukuk akan membutuhkan ruang yang lebih luas, dan saya tidak perlu.

Dengan tinggi yang seperti ini, saya juga dengan mudah bisa menyelinap tanpa kesulitan berarti jika ada dalam kerumunan. Seorang teman suatu kali mengatakan saya seharusnya menjadi anggota BAIS. Saya bertanya apa itu. Teman saya menjelaskan itu mirip BIN, Badan Intelijen Negara. Ia lontarkan kalimat itu karena saya sering tidak terlihat di antara banyak orang, sering dicari-cari karena dianggap hilang atau sudah pergi tetapi kemudian tiba-tiba muncul menyapa atau menepuk bahu orang dan dianggap jinak atau tidak berbahaya. Banyak orang kerap memaki-maki saya karena saya dianggap mengagetkan mereka dengan muncul dari belakang tanpa peringatan dan suara berisik. Semuanya tanpa suara langkah kaki atau suara mencurigakan yang berarti. Bayangkan jika saya lebih tinggi, yang artinya berat badan saya juga lebih banyak dan pastinya langkah saya akan lebih berat. Tentunya gerak kaki saya juga akan terdengar lebih mudah.

(Image credit: Commons.wikimedia.org)

Leave a comment

Filed under miscellaneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s