Bola-bola di Ruang Yoga

“Mimpi apa aku semalam….”gumam Rosi.‎ Ia ingin menyeka keringat yang mulai bercucuran di dahi dan pelipisnya.

Ia tengah berjuang keras bertahan untuk hidup di kelas yoga ini. ‎Ruangan ini mirip neraka baginya yang masih pemula. Napasnya memburu cepat seakan-akan ia bisa mampus bila ketinggalan barang sedetik.

Rosi mulai menyesal,”Ah, kenapa tidak ambil kelas lain saja tadi?!!” Gadis itu ingin segera meninggalkan ruangan yang hangat bukan kepalang ini untuk pergi ke tempat lain yang lebih sejuk. “Rasanya mau pingsan…”ia menggerutu dalam hati lagi.

‘Siksaan’ belum selesai. Dan lama-lama ia makin frustrasi. Semua kekesalannya berakumulasi sejak pertama ia melihat guru yang mengajar kelas ini. Sebagai perempuan muda dengan vitalitas tinggi, ia ingin setidaknya mendapatkan guru pria yang sedap dipandang mata. Sedikit tua tidak masalah asal masih layak dilirik sesekali.

‎Malang tak dapat ditolak, untung tak bisa diraih. Semangat Rosi surut drastis begitu guru yang tampil bukan orang yang sama sekali ia harapkan.

Tahu akan kepanasan, pria di depan itu hanya mengenakan sebuah celana ‎pendek mirip yang dipakai para pelari selama mengajar. Rosi mengernyit lalu berpura-pura menyibukkan diri menata rambutnya yang sudah rapi dengan ikat rambut dan bandana kemudian meneguk.

Pose berikutnya yang mereka akan lakukan adalah gerakan yang kata sang guru mirip busur. Mereka telungkup, lalu menendangkan kedua kaki ke belakang sambil kedua tangan memegang pergelangan kaki.

Di saat-saat kritis itulah Rosi sudah berkunang-kunang. Pasrahlah ia pada sekelilingnya. “Mereka orang-orang baik, pasti akan mau mengangkatku jika pingsan,”pikirnya selintas. Sayang ia tidak memasukkan faktor berat badan dalam hitungan karena tak semua orang baik di dalam kelas bisa memanggulnya ke luar.

Guru itu‎ mendekat. Rosi terkesiap. “Oh, apakah aku harus pingsan sekarang???”

Suara itu berkata padanya,”Kick harder!”

Rosi mendongakkan kepala. Ia menduga akan menyaksikan wajah sang guru yang berseru penuh semangat.

Namun, sekilas ia menyaksikan sepasang bola. Bola-bola dalam celana sang guru. Mata yang tadinya berkunang-kunang langsung terang‎. Membelalak antara risih, gembira dan tidak percaya.

“Ah, aku lupa kalau harus pingsan sekarang!”

(Image credit: Kasper van den Wijngaard)

Leave a comment

Filed under fiction, yoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s