Dari “The Treacherous Writer” ( #UWRF14): Memahami adalah Memaafkan

uwrf 2014

David Lesser, Hannie Rayson, dan Liam Pieper memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda-beda. Lesser seorang jurnalis pemenang penghargaan yang sudah menelurkan 6 karya buku yang di antaranya adalah sebuah memoar bertajuk “To Begin To Know: Walking in the Shadows of My Father”. Rayson menulis 14 drama dan memiliki reputasi dalam penulisan drama yang kompleks dan karya terbarunya adalah sebuah memoar yang akan diterbitkan tahun 2015. Pieper memiliki darah penulis dari sang nenek dan pernah menerima penghargaan Literary Residency tahun 2014 oleh Australia Council for the Arts.

Namun, pagi tadi ketiganya disatukan oleh satu benang merah yang sama:memoar. Ketiganya menulis memoar dan memaparkan pada audiens berbagai pengalaman dan seluk beluk menulis memoar yang ternyata tidak semudah menuliskan kegiatan sehari-hari sebagaimana para penulis diari/ catatan harian amatir.

Memoar memang salah satu jenis karya yang digemari, apalagi jika si penulis memiliki kehidupan yang menarik (atau kehidupan yang biasa saja tetapi berhasil dibuat menarik dengan penggunaan bahasa yang efektif). Lihat saja bagaimana larisnya memoar Elizabeth Gilbert “Eat Pray Love” yang juga ditulis dengan menggunakan Bali sebagai latar tempatnya. Ada juga memoar-memoar dengan nuansa komedi karya David Sedaris yang saya juga gemari. Kalimat-kalimatnya segar, dan menggelitik. Tidak sespiritual Gilbert, tetapi Sedaris juga memiliki kedalamannya sendiri, dengan mengkritisi asumsi dan keyakinan yang sudah diterima masyarakat.

Lesser melontarkan sebuah kalimat yang menarik tentang penulisan memoar, bahwa dengan menulis memoar, kadang kita mengerti bahwa hampir setiap orang melakukan kesalahan atau perbuatan yang menurut orang lain mengerikan  atau tidak termaafkan semata-mata karena mereka berpikir bahwa hal itu adalah sesuatu yang baik. Ia seolah mengatakan bahwa menulis memoar memberikan kita ruang untuk lebih banyak memahami pemikiran orang lain atau pemikiran diri sendiri yang mungkin kita anggap salah tetapi juga memiliki alasan dan justifikasinya. Semua itu ada alasannya dan memoar membuka celah untuk pemahaman yang lebih baik tentang diri kita, orang lain dan dunia.

Menimpali pernyataan Lesser, Pieper juga mengamini dengan mengatakan, “To understand is to forgive” (memahami adalah memaafkan). Salah satu cara untuk memahami sebuah kesalahan dan mengapa kesalahan itu bisa terjadi adalah dengan menelusurinya kembali, merenunginya, mengupasnya, dan mendapatkan pemahaman lebih mendalam mengenai bagaimana hal itu bisa sampai terjadi. Besar kemungkinan seorang manusia tidak melakukannya karena niat yang buruk, tetapi karena ingin mencapai hasil yang baik. Hanya saja caranya mungkin kurang tepat.

Tadi pagi di Left Blank Ubud, paparan dan tanya jawab ketiga penulis Australia ini memberikan kita gambaran singkat mengenai pengalaman mereka dalam menulis riwayat keluarga yang sangat kompleks. Ternyata tidak semudah yang kita pikirkan karena memilih detil yang perlu dikemukakan dan detil yang harus disingkirkan bukanlah perkara gampang.

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s