9 Tips Menulis Fiksi

Setelah bertahun-tahun terbiasa bekerja di bidang non-fiksi, menulis fiksi bagi saya menjadi sebuah kerja keras tersendiri. Menulis fiksi itu susah sekali. Satu cerita pendek yang tak lebih dari 1000 kata, misalnya, cukup membuat saya berpikir keras. Sebuah pengalaman yang sangat lain dari asumsi banyak orang. Banyak orang menganggap enteng menulis fiksi. Tinggal berfantasi, tulis fantasi itu, dan tada! Jadilah karya fiksi yang siap diterbitkan, atau setidaknya siap dibaca oleh Anda sendiri. Kenyataanya tidak semulus itu! Kalau menulis fiksi semudah itu, semua orang bisa menjadi penulis fiksi profesional.

1. Ketahui akhir kisah yang akan Anda tulis. Ini sangat penting karena banyak orang memiliki ide cerita atau ide karakter yang menurut mereka menarik jika dituangkan menjadi karya fiksi. Biasanya Anda akan bisa menulis bab-bab awalnya, setelah itu cerita rekaan tadi akan layu dengan sendirinya. Karena apa? Si penulis tidak tahu harus bagaimana mengakhirinya. Jangan hanya menulis dengan mengalir begitu saja tanpa mengetahui arah dan tujuan, atau Anda hanya akan membuang waktu saja. Jadi cukup masuk akal kalau kita melihat penulis kenamaan John Irving memilih untuk menulis novelnya dari ending/ akhir kisah, baru kemudian menulis bagian depan dan tengah.

2. Mulai dengan premis yang unik. Satu hal yang menyebabkan kisah fiksi menjadi membosankan dan datar adalah Anda sudah pernah mendengar atau membacanya. Kisah yang sudah klise akan membosankan bagi pembaca. Kisah Anda akan mudah ditebak dan pembaca tahu arah kisah Anda dan bagaimana akhirnya nanti. Ciptakan sebuah ‘twist’ baru dalam kisah yang sudah klise, misalnya. Atau ambil sudut pandang/ point of view yang segar dan berbeda.

3. Ketahui jalan ceritanya secara runtut dalam bentuk diagram. Saat Anda akan menulis karya fiksi, cobalah menyusun kausalitasnya, dari A ke B, lalu ke C dan D. Untuk itulah Anda perlu membuat diagram dengan panah sebagai penunjuk arah jalannya cerita. Para novelis sering menggunakan diagram seperti itu untuk mengingatkan mereka dengan plot cerita, yang kompleks. Makin rumit dan panjang ceritanya, makin diperlukan susunan jalan cerita agar Anda tidak ‘tersesat’ di jalan. Jadi nantinya Anda tahu hal-hal yang harus disebutkan dalam narasi Anda.

4. Kenali karakter Anda. Inilah yang cukup menantang bagi penulis non-fiksi seperti saya yang ingin mencoba menulis fiksi. Karena terbiasa dengan kisah-kisah yang nyata, menulis kisah rekaan membuat saya menjadi berimajinasi lebih tumpul. Membayangkan seseorang yang tidak pernah terlahir di dunia nyata apalagi menceritakan bagaimana kompleksitas karakter itu dalam berbagai kacamata sungguh sangat menantang dan melelahkan pikiran. JK Rowling memiliki cara ampuh untuk mengenali karakter-karakternya dengan lebih dalam. Ia
menggambarnya di kertas kosong agar memiliki gambaran lebih nyata tentang setiap karakter. Ya, setiap karakter! Bukan hanya karakter utama tetapi semuanya, termasuk latar tempatnya. Ketahuilah deskripsi karakter Anda, seperti tinggi dan berat mereka, tampilan fisik mereka, perangai, kebiasaan bicara dan makan mereka, dan sebagainya. Makin detil penggambarannya dalam narasi, pembaca akan lebih merasakan kehadiran karakter Anda dalam pikiran mereka. Seolah tertancap kuat di otak karena si penulis, yaitu Anda, menuliskannya dengan pemahaman penuh terhadap masing-masing karakter.

5. Utarakan momen yang paling penting. Inilah yang membedakan penulis fiksi dari penulis diari/ catatan sehari-hari. Jangan hanya tulis hal-hal rutin yang sudah biasa. Mungkin bisa dijadikan selingan saja tetapi berikan porsi lebih banyak untuk narasi hal-hal yang si karakter lakukan atau hal yang menimpa si karakter yang penting, yang mengubah hidupnya, yang mengubah dirinya dari orang yang, katakanlah, miskin menjadi kaya raya. Atau semacamnya. Inilah namanya “defining moment” atau saat yang menentukan karena penting dalam jalannya cerita.

6. Menulislah setiap hari. Manusia adalah apa yang ia lakukan secara berulang-ulang. Jika Anda mau menjadi seorang penulis fiksi, tulislah fiksi setiap hari. Entah itu berapa menit atau jam, yang penting Anda menyisihkan waktu untuk benar-benar menulis. Anda boleh saja berdiskusi atau mengobrol dengan teman sebelum menulis, tetapi pada akhirnya Anda harus duduk dan menuliskan apa yang ada dalam benak Anda ke kertas atau komputer karena yang membuat Anda menjadi penulis adalah kebiasaan menulis itu. Ini hanyalah soal pembiasaan.

7. Dengarkan gaya bicara orang lain. Agar Anda tidak terjebak dalam gaya menulis dialog yang itu-itu saja, Anda harus mempelajari gaya bicara orang lain di sekitar Anda dan menyesuaikannya untuk digunakan di karya fiksi Anda. Ada yang berpendapat makin tua seseorang, makin baik ia menulis fiksi. Alasannya karena orang itu lebih banyak bertemu dengan orang lain sepanjang hidupnya. Masuk akal kalau manusia 70 tahun bisa mengenal lebih banyak orang daripada remaja 16 tahun. Dan ini akan memperkaya narasinya. Tak merasa terlalu tua untuk menulis fiksi? Jangan khawatir. Bergaullah dengan sebanyak mungkin orang. Mungkin ini terdengar kontraintuitif bagi para penulis yang cenderung introvert atau tertutup dan tidak begitu suka pergaulan, tetapi cobalah untuk keluar dari zona pertemanan Anda yang sudah ada untuk mengenal lebih banyak orang baru agar Anda terekspos dengan lebih banyak tipe kepribadian yang kelak akan memperkaya cadangan fantasi Anda tentang karakter cerita fiksi yang paling ideal. Jika Anda kesulitan mempelajarinya hanya dengan mengingat gaya bicara dan kepribadian orang, cobalah menggunakan trik wartawan:merekam suara orang-orang yang sedang mengobrol. Saya kadang melakukannya dan menuliskannya menjadi sebuah tulisan. Hanya dari mendengarkan percakapan, sebuah narasi yang menarik bisa lahir. Anda tinggal memoles saja agar bahasanya lebih sesuai untuk ragam tulisan. Niscaya cerita Anda akan terasa lebih mengalir dan alami.

8. Berikan kepribadian pada karakter cerita Anda. Bagaimana karakter dalam cerita Anda bereaksi terhadap sesuatu? Apa yang ia akan lakukan dalam situasi-situasi tertentu? Di sini, pemahaman psikologis seorang penulis terhadap kepribadian manusia sangat membantu memperkaya ceritanya. Sebuah cerita yang memukau biasanya memiliki
karakter-karakter yang kepribadiannya sangat dalam sehingga pembaca akan selalu teringat dengan citra sang tokoh, terngiang-ngiang dengan kalimat-kalimatnya, dan sebagainya. Masalah yang sering ditemukan dalam karya-karya fiksi adalah penggambaran kepribadian karakter yang kurang mendalam sehingga terkesan hanya sepintas lalu dan kurang menancap di benak pembaca. Kebanyakan orang tidak akan peduli pada manusia yang tidak memiliki kepribadian yang unik. Di sinilah, penulis harus bekerja keras menonjolkan kepribadian masing-masing karakter dengan caranya sendiri.

9. Pastikan Anda menulis tentang hal-hal yang Anda ketahui dengan baik. Jika Anda belum tahu dan kenal dengan baik, lalau bagaimana caranya? Riset! Mengetahui suatu hal saja secara sepintas tidak menjamin Anda bisa menuliskannya dengan menarik. Anda perlu
mengenalinya lebih baik melalui penelitian. Tentu yang dimaksud penelitian di sini bukan penelitian ilmiah tetapi turun ke lapangan dan membuka semua indra Anda tentang objek yang akan ditulis. Jika tidak memungkinkan untuk menemukan objek itu secara langsung, coba membaca buku-buku atau sumber informasi lainnya tentang objek yang ingin ditulis atau yang ingin Anda singgung dalam karya fiksi Anda. Dalam jurnalisme, ada istilah “participatory journalism” yang di dalamnya sang pewarta terjun langsung agar bisa menyelami bahan yang akan ia tulis. Sama halnya dengan itu, penulis juga perlu melakukannya jika memungkinkan. Untuk menulis tentang balapan kuda, jangan sungkan datang ke arena pacuan kuda atau mengamati bagaimana orang-orang di pacuan kuda memasang taruhan mereka. Intinya, dengan terlibat atau mengamati langsung, Anda akan lebih mudah menemukan emosi dan pikiran yang khas dan hanya muncul di sebuah kondisi, tempat, dan sebagainya.

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s