Hipster dan Ubud

Saat saya mengatakan saya tidak pernah ke bioskop untuk menonton film selama 16 tahun terakhir dan meninggalkan shampo sebagai pencuci rambut, teman saya itu berceletuk,”Kamu hipster sekali!”

Saya jadi bertanya-tanya, apa makna kata “hipster”? Saya pernah mendengar kata itu sebelumnya tetapi tidak tahu sama sekali maknanya. Apakah itu semacam celana yang dikenakan yang bagian pinggangnya turun sampai pinggul (hip) sehingga dikatakan “hipster”?

Ternyata tidak demikian, saudara-saudara. Asal kata hipster adalah “hepster”, yang dicantumkan Cab Calloway dalam The New Cab Calloway’s Hepster’s Dictionary of Jive. Di dalamnya dijelaskan bahwa “hepster” merujuk pada kelompok pria muda kulit putih kelas menengah yang mencoba meniru gaya hidup musisi jazz kulit hitam. Sementara itu, Majalah Times menyamakan istilah “hipster” dengan “bohemian”.

Banyak sekali pemaknaan yang dilakukan oleh media-media besar terhadap fenomena dan kata hipster ini tetapi inti dari “hipster” itu menurut saya ada pada keinginan untuk kembali ke masa lalu, pola pikir dan gaya hidup tradisional sebelum modernisasi dan globalisasi yang lebih ramah lingkungan, lebih hemat, lebih ‘vintage’ (kuno?) tetapi unik karena sangat berbeda dari kebanyakan orang di masanya. Mereka tidak ingin mengenakan sesuatu yang populer, mengadopsi gaya hidup dan perilaku banyak orang di masanya tetapi ingin berbeda dari kebudayaan populer secara umum. Hipster kerap dikaitkan dengan kaum muda dan pekerja kreatif yang tinggal di daerah pinggiran perkotaan (suburb). Ada yang mengatakan usia kaum hipster biasanya 18-34 tahun dengan penampilan retro, vintage, santai.

Dari semua definisi dan deskripsi di atas, rasanya saya tidak seekstrim itu tetapi memang benar ada semacam keinginan untuk kembali ke masa lalu – sebelum globalisasi dan modernisasi yang sehebat sekarang – saat kondisi alam masih murni dan terjaga, saat kondisi dunia masih lebih damai karena lebih jarang penduduknya yang bersengketa.

Dengan makin terkenalnya Ubud sebagai tujuan wisata, tempat ini juga makin menarik bagi kaum hipster. Rasanya hampir setiap sudut Ubud memiliki jejak kaum hipster. Mereka ini biasanya turis-turis hemat bertas punggung (backpackers) yang sangat peduli lingkungan. Mereka masih berusia 20-an hingga 30-an. Mereka tidak enggan bergelut dengan kehidupan warga lokal yang mungkin terasa kurang nyaman bagi kaum pendatang dari negara-negara semacam Amerika Serikat, Australia, dan sebagainya. Mereka suka makanan lokal yang organik tanpa bahan kimia tambahan apapun, pakaian lokal dari bahan yang ramah lingkungan dan mudah terurai, dan kadang lebih peduli terhadap lingkungan dan hewan (terutama sekali anjing) daripada warga asli Bali sendiri. Saking banyaknya turis-turis hipster ini saya pikir Ubud menjadi SARANGnya kaum hispter.

(Image credit: Wikimedia/Wikipedia)

Leave a comment

Filed under miscellaneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s