Kisah Mahasiswa Indonesia Ikut dalam TechCrunch Disrupt Hackathon London

Inilah mengapa jurnalis perlu lebih banyak menggunakan jejaring sosial dalam bekerja. Saat mengumpulkan sumber berita menjadi makin mudah berkat teknologi, jurnalis perlu membuka diri pada berbagai materi yang berpotensi menjadi sumber dan bahan berita yang berkualitas di dunia social media.

Seperti yang tak sengaja saya lakukan sore itu (21/10), saat saya iseng menelusuri linimasa Twitter saya dan menemukan akun Robin Malau, seorang pemerhati dan praktisi entrepreneurship dan teknologi, yang menyebutkan (mention) akun seseorang yang kata Robin adalah satu-satunya orang Indonesia yang ikut serta dalam ajang TechCrunch Disrupt London.

Saya tak menunda lagi untuk menghubungi orang yang ada di balik akun @adhiwie itu. Betul, ia orang Indonesia. Tepatnya mahasiswa Indonesia. Kami bertukar alamat surel dan dari sana, sebuah wawancara jarak jauh saya lakukan.

Nama lengkapnya Adhi Wicaksono, seorang mahasiswa Master di University of Birmingham, Inggris. Pada saya ia mengatakan menuntut ilmu di bidang Human-Computer Interaction (interaksi komputer-manusia) yang saya sendiri tak memiliki bayangan sedikitpun mengenai mata kuliahnya. Adhi mengaku ia satu-satunya orang Indonesia yang ikut dalam TechCrunch Disrupt 2014 di London. Dan jika saya boleh katakan – mohon koreksi jika saya salah – sepengetahuan saya Adhi-lah WNI pertama yang ada di ajang TechCrunch Disrupt sebagai peserta. Adhie sendiri mengaku tidak menjumpai peserta lain yang berasal dari Indonesia.

Bagi Anda yang masih asing dengan nama “TechCrunch Disrupt”, dapat saya jelaskan bahwa acara tersebut mirip dengan sebuah ajang tahunan yang bergengsi di dunia startup. Di acara konferensi tahunan yang diselenggarakan oleh blog teknologi dan startup asal San Fransisco “TechCrunch” tersebut yang berlangsung di sejumlah kota besar di dunia ini, para entrepreneur, programmer, peretas (hackers) mendapatkan kesempatan yang sama untuk meluncurkan produk dan layanan mereka. Nantinya akan dipilih para pemenang dari semua startup yang hadir dan ikut serta yang akan dipertemukan dengan sejumlah investor potensial, pers, dan pihak-pihak lain yang memiliki minat dan kepentingan. Ajang seperti ini sungguh dinantikan oleh entrepreneur dan startup yang masih ‘hijau’ demi melambungkan nama startup dan produk mereka ke kancah dunia. Jika menang, blog techCrunch akan memuat mereka dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat mereka tersohor di mana-mana mengingat pengaruh media TechCrunch yang begitu luas dan masif. Tempat pelaksanaan mereka sebelumnya ada di San Fransisco, New York City , dan Beijing (yang digagas oleh Sarah Lacy pendiri Pando.com) dan kini juga merambah Eropa.

Keikutsertaannya dalam hackathon ini berawal saat Adhi ingin tahu bagaimana rasanya ikut ajang serupa di tanah asing. “Saya ikut hackathon karena penasaran,”terangnya via surel. Apalagi penyelenggaranya media sebesar TechCrunch. Namun, ini bukan pengalaman pertamanya ikut hackathon. Sebelumnya, Adhi sudah beberapa kali ikut ajang yang bertema hackathon di Indonesia.

Adhi tidak berjuang sendirian di sana. Ia bergabung dalam tim Seeusoon, sebuah aplikasi yang bermisi memudahkan pasangan/ kekasih untuk bertemu jika berada di kota yang sama. Aplikasi ini juga memudahkan orang membeli tiket secara langsung. “Di hackathon, saya bergabung dengan tim Seeusoon yang berumlah 5 orang (termasuk saya) dan mereka semua berasal dari Spanyol.” Dalam tim, Adhi berperan penting sebagai desainer pengalaman pengguna (user experience designer) dan antarmuka pengguna (user interface).

Para pemenang dihasilkan dari penilaian dari dewan juri yang kredibel di bidangnya, yaitu Camille Baldock (software engineer), Eric Brotto (Partner dan Spesialis Program untuk Startupbootcamp, Global Facilitator untuk Startup Weekend), Claudia De Antoni (investor Virgin Management), Tak Lo (Direktur TechStars, mentor startup), dan Melinda Seckington (pengembang platform Future Learn).

Istilah hackathon merupakan kata portmanteau dari “hack” (retas) dan “marathon” (lari marathon). Kata “hack” di sini bukan berarti meretas dalam arti negatif tetapi menciptakan suatu solusi teknologi bagi masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari, sebuah definisi tentang “hack” yang menurut Steve Wozniak bernuansa positif di awal ia bekerja bersama mendiang Steve Jobs membuat produk Apple. Para peserta akan diberikan waktu yang terbatas (biasanya semalam suntuk) untuk menghasilkan solusi tadi dari nol. Karena itulah peserta harus bekerja keras dan cepat agar solusi itu bisa dihasilkan dalam wujud yang nyata dalam bentuk purwarupa (prototype) yang bisa dipakai di presentasi yang akan dilakukan di akhir acara. Sesuai dengan kata “marathon”, hackathon akan dilakukan tanpa jeda.

Berlatar belakang sebagai pekerja lepas di sektor industri kreatif, Adhi piawai dalam bidang desain web dan pengembangannya, antarmuka pengguna dan desain pengalaman pengguna serta sejumlah proyek sampingan lainnya.

Saya tanya apa keuntungannya mengikuti ajang semacam ini, Adhi menjawab,”Pengalaman yang saya dapatkan luar biasa karena saya bisa melakukan networking (berjejaring, membangun koneksi bisnis -pen) dengan orang-orang dari bermacam-macam negara dan merasakan atmosfer yang luar biasa karena ini ajang kaliber dunia.”

Menurut Adhi, ekosistem teknologi di luar negeri sudah sangat maju sehingga banyak produk yang tidak hanya mandek sebagai barang pameran tetapi juga bisa digunakan dalam aktivitas manusia sehari-hari. “Saya harap ekosistem teknologi Indonesia juga bisa lebih maju dan saya sangat senang dengan perkembangan saat ini,”tukasnya.

Setelah ikut serta dalam berbagai hackathon, rasanya tidak berlebihan jika Adhi dimintai resep sukses menjadi pemenang hackathon. Ia berpendapat ide-ide simpel tetapi berguna, tampilan yang mudah dipahami, dan bisa dipakai semua orang dengan mudah akan lebih berpeluang untuk terpilih. Resepnya terbukti jitu karena Seeusoon berhasil memenangkan posisi juara ketiga (second runner-up) dalam hackathon ini.

Sebagai pertanyaan pamungkas, saya ingin tahu apakah Adhi memiliki saran bagi pemerintahan baru agar dunia kreatif, startup dan entrepreneurship digital tanah air makin berkembang. Ia menerangkan panjang lebar dengan antusias, bahwa pemerintahan baru harus ikut berperan aktif dalam pengembangan ekosistem tersebut. “Terlebih Indonesia saat ini telah mempunyai open data di http://data.id sehingga semua orang bisa ikut berperan,”ia menuturkan. Dari open data itu, akan bisa dihasilkan berbagai aplikasi digital yang berguna untuk memecahkan masalah-masalah sehari-hari seperti pengurusan izin usaha, pemantauan anggaran pemerintahan, dan sebagainya. Ini semua, menurut Adhi, akan memuluskan gerakan open government dan e-government di negeri kita tercinta.

Leave a comment

Filed under entrepreneurship, technology

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s