Pendidikan atau Pengalaman?

Kontroversi pendidikan formal versus pengalaman membuat banyak orang urun komentar di jejaring sosial. Ada yang membela habis-habisan Susi Pudjiastuti, si menteri perhubungan dan pemilik Susi Air, itu karena ia dianggap lebih konkret dalam bekerja meskipun merokok di depan umum. Hasil kerjanya nyata, dapat diraba. Sementara di kutub lain, ada yang mengangkat Ratu Atut untuk dibandingkan dengan Susi. Berjilbab, santun, mengenyam pendidikan formal tapi ratu korupsi. Bahkan untuk menekankan

Siapa yang lebih baik dalam pertarungan “Ratu Atut VS Susi
Pudijastuti” ini? Saya tidak bisa menjawab salah satunya karena pribadi manusia itu kompleks. Membanding-bandingkan dua manusia seringkali membuat kita terjebak dalam dikotomi yang tidak adil.

Menurut hemat saya, tidak perlulah kita harus menganggap manusia satu jauh lebih baik dari manusia lain. Kita semua sama. Kita kan sudah tahu bahwa hidup tidak semudah memilih antara A dan B. Ada begitu banyak kompleksitas tersimpan dalam memutuskannya.

Saatnya kita singkirkan pemikiran ala ‘binary opposition’ itu. Semuanya seolah bisa disederhanakan dengan A dan B, putih dan hitam, baik dan buruk. Dunia ini tidak sesederhana itu. Ada baiknya kita lebih bijak dalam memandang dunia dengan memandangnya sebagai sebuah spektrum, gradasi warna, atau apapun itu yang memiliki tingkatan yang sangat halus. Bukan hanya hitam dan putih, ada juga abu-abu pucat, abu-abu gelap, abu-abu cenderung kuning, abu-abu yang tercampur hijau. Bukan cuma baik dan buruk, tetapi juga ada dermawan tetapi tukang poligami, alim pada Tuhan tetapi kikirnya bukan kepalang, ramah dan supel tetapi suka menelikung dari belakang. Semua makhluk memiliki anugerah untuk memiliki kompleksitas karakter semacam itu. Bahkan hewan sekalipun. Anjing yang bagi umat muslim air liurnya dianggap najis tetapi dalam kenyataannya juga memiliki manfaat dalam mencegah tindak terorisme yang dilakukan oknum ‘muslim’ sendiri. Tikus yang kita anggap hewan menjijikkan pun memiliki perannya sendiri karena ia bisa menjadi kelinci percobaan di lab.

IT’S A MIXED UP WORLD, begitu senandung Sophie Elis Bextor dalam lagunya. Dan memang dunia ini dan isinya membingungkan, tidak semudah membedakan kutub utara dan selatan. Bahkan kalau Anda pernah membaca sebuah artikel, kabarnya kutub utara dan selatan tampaknya tengah mengalami pergeseran sehingga bisa jadi kutub utara dan selatan bisa berbeda dari apa yang Anda pelajari dari buku IPA dekade 1990-an. Semuanya terus berubah, berkembang, bergeser dan bergolak. Karena stabilitas yang terlalu lama bisa berarti kematian.

Kembali pada perdebatan SUSI VS ATUT. Menurut saya, give it a rest. Make it stop. Lebih baik kita bekerja sebaik-baiknya daripada sibuk mengata-ngatai atau menghakimi orang lain.

Because small people talk about other people;
Bigger people about ideas and actions…

Leave a comment

Filed under save our nation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s