Mindset Gratisan dan Revolusi Mental Bangsa Agar Lebih Bermartabat

Siapa sih yang orang Indonesia yang tidak suka barang gratis? Hampir semuanya pasti suka. Uang di dompet masih utuh, kebutuhan terpenuhi. Ah, enaknya!

Maka dari itu, mendapatkan barang diskon apalagi gratis yang masih layak dan bagus menjadi kebanggaan bagi orang Indonesia. Sebuah prestasi yang bisa dikatakan membanggakan dan membuat iri. “Bagaimana dia bisa mendapat barang semurah itu sementara saya harus membayar???” Begitu gerutu seorang teman saat berwisata belanja beberapa waktu lalu. Saat berbelanja semua menjadi tentang bagaimana mendapatkan harga miring, kalau bisa diskon 100% alias GRATIS! Karenanya turis Indonesia dikenal sebagai penawar yang gigih. Kalau bisa sampai tidak bayar mungkin.

Siapa sangka bahwa pola pikir ‘gratisan’ itu di sisi lain menjadi biang keladi payahnya bangsa Indonesia dibanding bangsa lain? Sektor industri kreatif kita MEMBLE. Kenapa? Karena konsumen kita sendiri suka barang dan layanan gratis. Saya juga! Bagaimana kita bisa menggerakkan industri kita, menumbuhkan entrepreneur dan startup jika konsumen sungguh pelit.

Seperti contohnya yang sudah saya tuliskan beberapa waktu lalu. Saya pernah bertemu seorang teman penulis yang begitu riang karyanya saya beli meski saya TEMAN BAIKNYA. Saya bisa saja merajuk meminta bukunya secara cuma-cuma, tetapi saat itu yang terpikir dalam benak adalah jika saya adalah dia, saya juga ingin hasil kerja keras saya dihargai. Tidak dengan memberikannya semua uang yang saya miliki tetapi cukup dengan membeli bukunya, sesuai harga pasar. Harga normal. Tidak ada harga teman, apalagi gratis. Inilah yang membuatnya bersemangat untuk berkarya lagi, menulis lagi, menerbitkan buku baru lagi, meningkatkan kesejahteraannya sebagai pekerja kreatif.

Lalu sebuah cerita menggugah dituliskan oleh Tjiptadinata Effendi di Kompasiana hari ini yang menurut saya juga memiliki benang merah dengan pola pikir gratisan yang bisa menjadi bumerang bagi kita ini. Ia tertegun saat mendengar seorang warga Australia mencegah
keluarganya mengambil barang gratis berupa roti yang ditawarkan oleh sebuah toko di Wollongong karena alasan yang menurutnya MENAMPAR. “No darling, please we have enough money to buy. Why do we have to pick up a free one? Let other people who need it more than us take it,”begitu kata si pria pada istrinya. Ini bukan sekadar gengsi dan pandangan orang lain pada diri dan istrinya tetapi lebih tentang orang lain yang tidak seberuntung mereka.

Saatnya mungkin kita mawas diri, apakah kita memang miskin atau hanya MERASA miskin sehingga membuat kita merasa sellau berhak mendapatkan bantuan dan uluran tangan?

Saya akui juga tidak bersih dari praktik dan mindset semacam itu. Di masa kuliah, saya pernah menerima beasiswa tertentu, yang diberikan untuk mahasiswa kurang mampu. Dan karena orang tua saya PNS, akhirnya saya lebih mudah diloloskan tetapi sayangnya untuk itu ada batasan maksimal penghasilan. Karena penghasilan orang tua lebih, terpaksa ‘markdown’ (penurunan/ pemangkasan dari jumlah yang sebetulnya) harus dilakukan. Gaji orang tua diturunkan di dokumen yang diserahkan ke pihak yang berwenang memberi beasiswa dan akhirnya gol. Saya dapat beasiswa, yang lumayan untuk uang jajan, bukan membeli buku pelajaran.

Dari semua itu, saya tidak heran ternyata mental gratisan tidak hanya menghambat industri kreatif kita tetapi juga membuat kita selalu menjadi bangsa yang bermental PENGEMIS dan EGOIS (betapa kebijakan Bantuan Langsung Tunai bisa dipakai sebagai contoh epik mindset gratisan ini dalam bangsa kita). Apapun yang kita miliki sia-sia saja karena kita tetap merasa miskin dan merasa perlu untuk terus menengadahkan tangan, secara harafiah atau figuratif. Kita merasa mengeluarkan uang itu tidak perlu tanpa peduli untuk apa pengeluaran itu. Yang penting hemat! Tetapi menghemat di segala bidang juga seperti menghambat kemajuan diri. Harus ada pengeluaran yang tidak sepantasnya dianggap sebagai belanja tetapi investasi dan modal bekerja. Dan yang lebih penting adalah pengeluaran yang dilakukan karena Anda bisa menghasilkan uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan Anda dan orang terkasih sehingga barang-barang gratis itu bisa diberikan ke orang yang jauh lebih membutuhkan.

Yuk, ubah mental penyuka gratisan dan peminta menjadi mental bangsa yang mandiri dan lebih bermartabat!

Referensi:
http://luar-negeri.kompasiana.com/2014/11/01/kalau-bisa-beli-kenapa-ambil-yang-gratis-689040.html

Image credit: Wikimedia

2 Comments

Filed under miscellaneous

2 responses to “Mindset Gratisan dan Revolusi Mental Bangsa Agar Lebih Bermartabat

  1. Indeed, kita emang maunya gratisan terus, dalam apapun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s