Roy (1)

I

Seperti inilah akhirnya. Papa sudah memutuskan. Mama mendukung apapun yang suaminya katakan. Opa mengesahkan keputusan mereka. Dan aku sebagai anak hanya bisa menerima.

Suatu malam di bulan Agustus yang sungguh membuatku bermuram durja. Udara gerah di luar sana tetapi semangat hidupku tidak. Dingin, hampir membeku malah. Itu semua karena aku merasa tidak pernah dipahami oleh mereka.

Di ujung meja kayu yang panjang di ruang tamu itu, papa bagaikan hakim yang mengetukkan palunya. TOK! Lalu ia membaca vonis untukku, anak sulung laki-laki yang ia selalu banggakan di depan saudara-saudaranya dengan menyebutkan bahwa aku akan menjadi sang pengganti tahta.

“Jadi begini rencananya, Roy… Kamu mulai Oktober nanti mulai bekerja sebagai tenaga magang di perusahaan papa,”papa membacakan vonis yang ia simpan di kepalanya. Ia membetulkan kacamatanya lalu memandangku, lalu opa dan mama. Mama duduk di sampingnya, tenang dan sedikit gelisah. Kedua tangannya saling berjabat di pangkuan, seakan meremas rasa cemas yang mengusik. Mama tahu aku tidak ingin menjadi pengusaha di perusahaan besar seperti papa tetapi papa mama – ayahnya- sungguh ingin aku menjadi pengusaha. Dua pria penuh otoritas dibanding satu wanita dan satu pria lebih muda yang tidak berdaya. Sungguh telak.

Aku mencoba menawarkan kompromi. “Bagaimana kalau aku meneruskan sekolah teologi dulu, pa? Nanti saja sehabis sekolah master ya..” Suaraku kurang berdaya tawar, terdengar mengambang di ruang hampa. Aku sudah hampir putus asa jika papa terus keras kepala.

Reaksi papa hampir tidak ada. Hanya bola matanya yang berkedip memandangku berbicara. Wajahnya tetap sama.

Aku menghela napas, mengumpulkan tekad dan berkata,”Aku mau jadi pendeta, papa….”

“Kau tahu apa artinya itu, Roy,”papa menjawab sambil menggelengkan kepala. Matanya kemudian tertuju ke opa. Opa terlihat agak terkantuk tetapi kemudian membuka matanya sedikit. Ia masih mendengarkan percakapan kami.

“Kamu sudah pikirkan masak-masak?”kata opa. Beliau pengusaha ulung, seperti papa. Namun, aku merasa berbeda dari mereka. Aku hanya mau menjadi pendeta. Pendeta Roy.

“Mungkin kamu akan berubah pikiran setelah mencoba bekerja,”opa meyakinkanku dengan suaranya yang parau itu,”Percayalah, kamu akan menyukai bisnis ini. Ini bisnis yang menghidupi keluarga kita, Roy.”

Opa mau aku ikut mengelola perusahaan keluarga kami di masa datang. Inilah wasiatnya kelak yang harus kami turuti. Kami generasi ketiga harus bersiap memegang tongkat estafet itu segera. Dan sekaranglah aku diharap juga menyiapkan diri. Ah, mengapa aku?!!

“Kami berharap kamu mulai dari bawah supaya tahu bagaimana rasanya bekerja dari nol,”imbuh opa. Ia terbatuk sejenak lalu minum air putih yang tersaji di depannya.

“Tapi….,”aku mencoba melancarkan argumen tetapi amunisiku rasanya sudah menipis, bahkan habis. Alasan apa lagi yang bisa mengubah keputusan mereka. Atau setidaknya melunakkan pikiran dua orang itu.

“Begini saja, Roy,”papa menengahi,”Kamu coba bekerja dulu di perusahaan kita hingga akhir tahun depan. Oke? Setelah itu kita bicarakan lagi apakah memang kamu masih ingin bekerja atau menjadi pendeta.”

Papa seperti ingin menguji konsistensi cita-citaku. Ia ingin menguji seberapa besar tekadku menjadi pendeta atau bagaimana? Aku sandarkan punggung ke kursi kayu yang keras itu karena lelah lalu berkata lirih,”Baiklah, pa…”

“Ingat, Roy. Kalau kamu masih mau melanjutkan kuliah setelah usia 25, kamu harus bayar sendiri uang kuliahmu. Jadi kamu benar-benar harus bekerja. Papa tidak mau kamu mengandalkan kami meski kami bisa membiayai kamu, nak,”tandas papa. Papa dikenal luwes dalam bergaul, cair, dan egaliter di antara anak buahnya dan ia negosiator ulung dalam bisnisnya. Ia tahu bagaimana mengendalikan tarik ulur pengaruh antarmanusia, dan aku bisa dikatakan salah satu korbannya. Akan tetapi, aku tahu dalam hatinya papa sangat menyayangiku. Aku tidak bisa membencinya hanya karena ia ingin aku bekerja di perusahaan kami tetapi di sisi lain, ini sungguh bukan aku.

Percakapan terhenti begitu jam berdentang sebelas kali. Pantas opa sudah tak bisa menahan kantuk. Sejurus kemudian kami mengantar opa ke kamar tidurnya. Kami selimuti tubuhnya dan menaikkan sedikit suhu pendingin ruangan hingga 25 derajat celcius agar ia tak terbangun kedinginan keesokan hari.

(Bersambung)

1 Comment

Filed under fiction

One response to “Roy (1)

  1. uci duck himura

    lanjutannya kapan ? jangan lama lama yach kakak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s