Startup

“Indonesian startup world s*cks,”celetuk teman saya petang kemarin. Saya tidak kaget. Ia seorang ‘salary man’, tipikal ‘corporate guy’ yang kurang tahu menahu dengan perkembangan startup di Indonesia. Namun demikian, ia memiliki sejumlah pemikiran yang menurut saya cukup menarik karena dan saya sepakat dengannya dalam sejumlah poin.

Pertama, ia berkata bahwa startup Indonesia masih belum menjanjikan. “Siapa yang mau beli?” Saya mencoba menyangkalnya. Tentu saja ada. Sejumlah investor asing tidak segan mencari dan menjadi penanam modal bagi para entrepreneur dan startup yang kehausan modal. Saya sepakat dengannya. Kecuali beberapa kisah ‘sukses’ seperti Koprol (yang pada akhirnya juga layu karena dijual lalu dilepaskan Yahoo!) atau Kaskus yang akhirnya diakuisisi Djarum, rasanya sukar menemukan sukses serupa. Akan tambah sakit hati kalau kita membandingkan dengan kondisi startup di negeri lain. Memang benar, startup Indonesia masih banyak yang ‘copycat’, meniru dari Barat lalu menerapkannya di sini, entah itu disesuaikan atau tidak dengan budaya dan pemikiran lokal tidak terlalu menjadi prioritas. Asal membuahkan laba!

Kedua, masih banyak kisah ‘sukses’ ini yang membual, kurang transparan dan kurang lengkap memberikan perjuangan mereka pada pers. Setahu saya, memang masih sukar menemukan iklim keterbukaan di startup lokal. Nilai akuisisi Koprol oleh Yahoo!, misalnya, sepengetahuan saya belum pernah dipublikasikan. Ini sangat mengecewakan. Padahal jika dipublikasikan pada khalayak, bisa jadi akan menjadi pendorong pertumbuhan ekosistem entrepreneurship di negeri ini. Kita jadi tahu seberapa besar potensi itu jika divaluasi oleh investor atau pelaku bisnis dari luar. Tetapi karena selama ini ditutupi, kita tidak bisa memastikannya dan terus meraba-raba sembari mengkhayal menjadi sebesar eBay, PayPal, dan sebagainya. Dan karena mereka tidak banyak mengungkap kisah gagal mereka, rasanya juga startup mereka kurang realistis. Hal itu juga karena pers Indonesia tidak terlalu tertarik menulis kisah gagal dan seluk beluk startup. Buat apa menulis kegagalan? Publik lebih suka dimanjakan dengan prospek cerah bisnis X, atau potensi laba bisnis Y. Mereka kurang suka menghadapi kenyataan pahit bahwa startup bisa membuat entrepreneur bangkrut, menderita lahir batin, atau stres berat layaknya calon legislatif yang harus menanggung kekalahan di pemilu lalu padahal modal sudah habis-habisan, kampanye tidak kenal lelah di mana-mana.

Semua itu memang kenyataannya begitu, setidaknya dalam persektif kami. Ditambah lagi dengan kurang mendukungnya ekosistem usaha, tampaknya makin bertambah saja tantangan yang harus dihadapi entrepreneur Indonesia. Entrepreneur kita merasa kurang didukung oleh pemerintah, yang aturan mainnya dirasa memberatkan startup untuk muncul dan berkembang. Padahal katanya menteri kita sudah pernah berkunjung ke Silicon Valley. Lalu apa yang sebenarnya mereka pelajari dari sana? Tidak ada!

Semoga di pemerintahan baru nanti Menteri Koperasi dan UKM baru yang dipimpin Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga bisa melakukan gebrakan positif yang akan mendorong pertumbuhan startup Indonesia dan ekosistem usaha pada umumnya.

Karena kita sudah muak dengan janji-janji dan retorika serta program-program yang tidak tentu arahnya…

(Image credit: http://www.rmol.co/read/2014/10/29/177712/Sertijab-Menkop-UKM-)

Leave a comment

Filed under entrepreneurship

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s