Teori Konspirasi Serangan 11/9 dan Wacana Hubungan Dagang RI-Israel

Hizbut Tahrir dan FPI mungkin akan menyukai apa yang dilakukan kartunis Amos Biderman. Meski Biderman menyandang status warga negara Israel, karya kartunnya satu ini sedikit banyak menyuarakan kebencian warga dunia terutama muslim terhadap negeri zionis itu.

Biderman baru-baru ini merilis sebuah kartun yang dikritik banyak pihak karena menyamakan sang Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dengan teroris Al Qaeda yang menabrakkan pesawat ke menara kembar World Trade Center di Manhattan, New York tanggal 11 September 2001. Dalam karyanya itu, Biderman menggambarkan sosok di dalam sebuah pesawat kecil berlabel ISRAEL yang mirip dengan Netanyahu sedang menuju ke arah sebuah gedung pencakar langit berbendera AS. Jelas itu sindiran telak bagi si pemegang tampuk pemerintahan.

Kartun Biderman ini dipublikasikan di media Hareetz dan seketika mendapatkan reaksi beragam. Salah satunya yang tersinggung ialah Anti Defamation League (ADL) yang mendesak kartunis itu minta maaf. Keluarga para korban targedi 9/11 juga merasa tersinggung dengan kartun tersebut, menurut laman Huffington Post.

Biderman menerangkan alasannya dalam sebuah kicauan:”The message is that Bibi is arrogantly and wantonly destroying Israel’s ties with the U.S. and leading us to a disaster on the scale of 9/11.” Tweetnya ditulis dalam bahasa Ibrani. Kartun ini muncul di tengah kontroversi yang mengatakan seorang pejabat AS yang tidak disebut namanya dilaporkan menyebut Netanyahu sebagai “tahi ayam” (chickenshit).

Direktur Nasional ADL Abraham H. Foxman mengatakan kartun itu menyinggung dalam banyak aspek yang menyulut diskusi mengenai teori-teori konspirasi mengenai serangan 11 September yang dilakukan Al Qaeda. Tulisnya: “Furthermore, as anti-Semitic conspiracy theories charging that Israel and/or Jews were behind the attacks are still believed by large swaths of the Muslim world, it is particularly jarring and incredibility irresponsible that an Israeli newspaper, especially one whose journalistic standards are widely respected, would resort to publishing such a highly offensive stereotype in the name of political satire.”

Kata konspirasi yang muncul dalam pernyataan Foxman tersebut terus terang cukup mengejutkan saya karena ia menyebut adanya teori konspirasi yang beredar di dunia muslim bahwa Yahudi-lah yang berada di balik serangan. Muncul dugaan dari kepala saya:Apakah Israel berniat memfitnah Al Qaeda dan umat muslim secara umum dengan melakukan serangan ini? Saya tidak ada bukti untuk menguji hipotesis ini.

Namun, Hareetz – masih menurut Foxman – juga bukan media abal-abal seperti katakanlah PKS Piyungan atau Obor Rakyat yang bermisi agitasi, tetapi surat kabar Israel dengan standar jurnalistik yang secara luas diakui. Jadi apakah yang dikatakan pers itu benar? Dan mengapa Foxman mengatakan demikian? Biderman sendiri mengakui bukan itu tujuannya membuat kartun satir itu. Ia bukan ingin membuat diskusi teori konspirasi itu makin membara tetapi hanya ingin “mengejek Bibi” (panggilan akrab Netanyahu -pen).

Terlepas dari benar tidaknya hipotesis tadi, yang terpenting kita tahu bahwa dalam tubuh Israel sendiri pun ada pertentangan. Biderman menganggap Netanyahu sebagai “banteng di toko keramik”, yang bersikap sembrono dengan hubungan Israel-AS. Padahal AS adalah aset paling strategis paling penting bagi Israel, ujar Biderman lagi.

Saya jadi teringat dengan wacana kontroversial yang dilontarkan mantan presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang ingin membuka hubungan dagang dengan negeri zionis itu. Masyarakat menentang. Patut dimaklumi, mereka tidak bisa memahami. Sekali anti, anti selamanya. Begitulah akar rumput. Tetapi saya tahu Gus Dur memiliki pemikiran yang tidak sembarangan dengan pernyataan semacam itu. Bagi saya, memang wacana itu sangat kontraintuitif. Dengan kata lain, sangat berlawanan kodrat. Bagaimana bisa kiita negara muslim terbesar di dunia berhubungan dagang dengan Israel yang selalu kita salahkan karena kebrobrokan apapun yang terjadi di negeri ini? Namun, jika kita mau berpikir, memeluk musuh kadang membuatnya lebih mudah ditaklukkan dan dikendalikan. Ibarat dalam pertandingan gulat, kalau kedua petarung selalu berjauhan dan tidak mau kontak fisik, kapan selesainya pertarungan? Penonton lelah, wasit lelah, semuanya lelah. Dunia ini juga sudah lelah dengan konflik berkepanjangan Israel VS Palestina.

Jadi mengapa Gus Dur ingin kita berhubungan dagang dengan Israel? Karena akan lebih mudah menekan Israel jika kita berhubungan dagang dengan mereka. Diplomasi akan berjalan. Kita tidak akan hanya bisa mengutuk dan menyumbang ke Palestina saat Israel membombardir Jalur Gaza. Omong kosong! Israel tidak akan menghentikan serangan mereka hanya karena Anda semua mengutuk via Facebook dan Twitter dengan tagar #SaveGAZA. Kita bisa mengancam Israel melalui kekuatan ekonomi kita sebagai negara besar yang berdaya tawar tinggi. Asal kita bisa bernegosiasi dengan cerdas dengan mereka – yang wilayahnya cuma secuil dan SDA serta SDM-nya lebih sedikit- mengapa Indonesia harus takut?

Sumber: http://www.gusdurian.net/id/article/kajian/Gus-Dur-Erdogan-dan-Israel/ http://www.huffingtonpost.com/2014/10/30/israeli-cartoonist-911_n_6079594.html

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s