Roy (2)

II

Bila aku dianugerahi kekuatan super, mungkin aku hanya menginginkan satu hal:kekuatan mengendalikan waktu. Kalau aku bisa mengendalikan waktu, aku bisa mencegah bulan Oktober datang menjemputku. Itu alasan utamaku.

Oktober yang mendebarkan itu akhirnya datang jua. Aku hanya bisa berharap bertahan hingga Desember tahun depan sembari menabung sebagian uang yang diberikan perusahaan karena aku karyawan magang spesial. Lalu aku bisa memikirkan bagaimana aku bisa keluar perusahaan dan membiayai studi master teologiku yang sudah kuimpi-impikan. Sungguh aku menantikan hari itu. Aku tidak peduli dengan perusahaan, aku hanya mau menjadi pendeta.

Aku masih ingat bagaimana opa merangkul akrab pendeta yang pernah memberikannya penghiburan spiritual saat bisnisnya hancur lebur diombang-ambingkan badai krisis moneter. Di usia 6 tahun aku menyaksikan sendiri kondisi kami sekeluarga yang dilanda ketakutan yang amat sangat. Kekayaan kami justru tidak bisa membuat kami aman. Karena semua harta itulah, kami diburu; sehingga aku mulai bertanya:”Untuk apa semua harta dan uang ini jika membuat kami harus menderita?” Saat itulah aku mulai membenci cita-cita menjadi pengusaha meski papa dan opa mendengung-dengungkannya setiap saat.

Diajak mengunjungi semua proyek-proyek yang dijalankan perusahaan kami di berbagai daerah tidak membuatku terpanggil jua menjadi pengusaha atau penerus mereka nantinya. Hatiku meronta.

Kadang aku berkhayal bagaimana kehidupanku jika aku tidak terlahir sebagai keturunan pengusaha kaya raya seperti ini. Apakah aku akan jauh lebih beruntung karena bisa sekolah teologi tanpa dipaksa menjadi pengusaha atau aku bisa menjadi seorang anak muda yang penuh gairah berbisnis sehingga tanpa dipaksa orang tua, aku dengan sendirinya menerjunkan diri dalam bisnis keluarga? Aku berusaha berhenti berfantasi seperti itu karena semakin membuat kenyataan ini terasa pahit.

“Tok tok tok!!!”ketuk seseorang di pintu. Khayalanku terpaksa berhenti. Aku menata posisi tubuh dan berpura-pura berkonsentrasi ke layar sabak elektronikku yang sebenarnya masih belum menyala. Di layarnya yang gelap itu, terpantul wajah seorang pemuda yang sudah terlihat tegang menjelang jam kerja baru yang akan dimulai beberapa menit lagi.

Seorang pria yang belum kukenal masuk. Kutolehkan wajah ke arah pintu, ia tersenyum dan menyapaku ramah,”Selamat pagi, pak Roy!” Ia kemudian diikuti oleh beberapa orang lagi yang juga ikut menyalamiku. Wajah-wajah mereka tidak asing tetapi aku tidak pernah secara spesifik mengetahui nama mereka. Mereka bawahan papa.

Tanpa aku sangka, mereka berbaris di depanku dan seorang pria yang tampak lebih senior berkata seolah mewakili kelompoknya,”Saya Jodi, pak Roy. Kami sudah diberitahu pak Benny soal Anda yang mulai kerja hari ini.” Ia ulurkan tangannya dan mengembangkan senyuman terbaik untuk anak bosnya.

Jodi menggenggam tanganku erat. Tangannya kasar, tubuhnya agak gempal dan tinggi, kacamatanya tebal berangka gelap dan solid. Suara bass Jodi kemudian menggema,”Selamat datang ke Plazia!!!”

(Bersambung)

Leave a comment

Filed under fiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s