Bertindak Penuh Kesadaran (Mindful Actions)

‎Pak Tito, salah satu teman kerja dan teman Path, berseloroh siang kemarin saat kami hendak memesan nasi merah yang katanya membuat lebih tahan lapar dan lebih sehat. Dengan nada bercanda, ia meminta saya mencantumkan namanya di tulisan saya. Jadi tulisan ini menjadi penepat janji saya. “Sudah di‎masukin ya pak!”begitu saya akan berkata lain kali bertemu dengannya.

Namun, nama pak Tito saya sebut bukan semata karena ia sudah mentraktir saya nasi merah tadi (ehem, just a joke) tetapi juga karena‎ ia menjadi inspirasi tulisan ini.

Jadi begini ceritanya. Saat kami bertiga (ada satu lagi temannya yang makan mi ayam) duduk semeja lalu menyantap makanan kami, kecepatan makan kami berbeda sekali. Temannya habis pertama, kemudian pak Tito, dan saya terakhir. Saya lebih lambat 15-20 menit untuk menghabiskan porsi makan yang kurang lebih sama. “Makannya lama..,”kata pak Tito tak sabar lalu melambaikan tangan meninggalkan kantin yang siang itu mirip sauna.

Ini bukan yang pertama kali saya ditinggal teman karena kecepatan makan yang ‎rendah. Saya hanya ingin menikmati setiap suapan, kunyahan dan telanan yang saya lakukan dengan gigi-gigi dan lidah serta tenggorokan saya. Ada yang khidmat dan nikmat dalam kebiasaan bersantap lebih lambat. Bukan karena saya malas tetapi saya ingin benar-benar menikmati waktu makan, salah satu waktu paling berharga dalam kehidupan. Ini ritual harian yang banyak kita ‘lewatkan’ begitu saja. “Lewatkan’ dalam arti kita tidak 100% menikmatinya. Makan menjadi semacam rutinitas pengenyang perut. Cuma itu. Padahal kalau dilakukan dengan sedikit kesabaran dan penghayatan, bisa jadi waktu makan menjadi pelepas kepenatan pikiran setelah bekerja setengah hari.

Lalu menjawab pertanyaan:”Kenapa makanmu lama?” Tiba-tiba, saya teringat dengan pertanyaan yang di‎lontarkan secara impromptu oleh teman Minggu lalu. Tanpa aba-aba, ia bertanya saat kami demonstrasi membuat smoothies,”Ayo kemarin siang siapa yang masih ingat menu makanannya?” Saya menjawab dengan mantap,”Nasi padang!” Teman-teman saya tertawa. Entah karena mereka menganggap nasi padang tidak begitu sehat atau bagaimana, tetapi sebagian yang lain menjawab pertanyaan dengan ragu-ragu, dan ada yang lupa sama sekali. Bukan masalah sehat atau tidaknya, kata teman saya yang bertanya, tetapi lebih pada sadar atau tidak kita saat menyantap makanan itu. “Kalau apa yang dimakan saja tidak ingat, apalagi sehat tidaknya makanan itu?”tandasnya.

Itulah MINDFULNESS, ‎penuh kesadaran dalam melakukan atau menjalani sesuatu. Tidak hanya asal melakukan, tidak terburu-buru, tidak hanya fokus pada tujuan tetapi juga bagaimana setiap langkah menuju tujuan itu ditempuh.

Ah, lambat! Kenapa harus begitu lambat? Mungkin begitu kata kita kalau disuruh mindful. Entah dengan pekerjaan Anda, tetapi dalam pekerjaan saya sendiri mindfulness membuat saya lebih puas secara batin. Tujuan dan target dalam pekerjaan memang penting‎ tetapi saat kita bekerja dengan tergesa-gesa, dalam pikiran hanya ada suara:”Ayo pokoknya selesaikan target secepat mungkin!” Seketika kita lupa dengan mindfulness itu. Bagaimana menguji kadar mindfulness kita dalam bekerja? Tanyakan pada diri kita tentang kegiatan yang kita lakukan kemarin atau Senin lalu. Jika kita sama sekali lupa (padahal kita masih muda atau belum pikun), artinya mungkin mindfulness itu belum ada atau masih perlu ditingkatkan. Saya sendiri bekerja menulis sehari-hari. Tanpa mindfulness, saya mungkin bisa menulis lebih dari 20 artikel dalam 8 jam. Tetapi apakah saya ingat apa yang baru saya tulis itu? Tidak. Sama sekali tidak. Bagaimana bisa? Karena begitu banyak hal yang harus diproses dalam waktu singkat. Tak ada waktu untuk menikmati dan menghayati pekerjaan yang saya sukai ini. Saya menulis seperti orang kesetanan, kesurupan, kerasukan hantu. Saya lelah di akhir jam kerja tapi saya tidak puas, karena saya bahkan tidak ingat lagi apa yang saya tulis seharian. Saya hanya ingin cepat selesai, cepat diterbitkan, cepat dibaca. Itu saja. Menulis dengan kesadaran penuh mungkin juga sama lelahnya tetapi kelelahan itu terbayar dengan kepuasan batin karena saya belajar sesuatu dengan melakukan pekerjaan saya sepenuh hati, bukan karena semata-mata memenuhi target pekerjaan. Saya merasa saya bukan mesin yang melakukan hal yang sama berulang kali dan diprogram untuk bekerja seperti robot. Saya manusia, dan saya menggunakan pikiran dan hati saat bekerja. Karena itu, kesadaran muncul dan kepuasan tercipta dari situ.

1 Comment

Filed under health

One response to “Bertindak Penuh Kesadaran (Mindful Actions)

  1. katamiqhnur.com

    mantep benner..
    salam kenal, jangan lupa mampir balik ke –> katamiqhnur.com yaa..
    di jamin bakalan nggak rugi dehh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s