Bukan Celak Mata. Hanya Mata Panda…

Memiliki mata yang lebar bagi sebagian orang adalah ambisi. Di Korea Selatan, tidak terhitung jumlah wanita yang rela merogoh kocek karena ingin memiliki mata yang terlihat lebih lebar dengan membuat lipatan mata artifisial. Ini bukan cuma semacam tren bedah kosmetik sesaat tetapi lebih menjurus pada investasi dalam karir. Siapa tahu nanti bisa bergaji lebih tinggi jika mata lebih lebar dan bersinar? Apalagi untuk para pekerja seni atau mereka yang mengutamakan penampilan, memiliki mata lebar nan indah adalah keharusan.

Namun, memiliki mata lebar juga tidak selalu ‎seenak itu. Ada tidak enaknya juga. Entah dengan pemilik mata lebar lainnya, tetapi saya merasa memiliki mata yang lebar membuat saya harus mengendalikannya agar tidak terkesan melotot. Konyol memang, tetapi jika Anda bermata lebar (dengan wajah bertendensi tirus yang makin membuat mata terlihat besar), Anda tidak sedang melotot pun bisa jadi dikira sedang melotot, sebagaimana teman bermata sipit yang dikira tidur saat tertawa. Dan kalau orang yang baru pertama kali bertemu dengan Anda berpikir Anda sedang melotot dan marah, interaksi mungkin akan agak tersendat. Bisa jadi dicap galak, atau temperamental atau memprovokasi kemarahan.

‎Hal lain yang perlu diwaspadai bagi pemilik mata lebar adalah gejala mata panda. Pagi tadi saya ditanya seorang teman yoga,”Kamu pakai celak mata ya?” Sontak saya kaget. Apa yang membuatnya berkata demikian? Ah, saya tahu. Itu karena kelopak mata atas dan bawah saya terlihat lebih gelap dari warna kulit wajah saya. Di bawah sinar matahari pagi, terlihat sekali bundaran gelap itu. Mirip dua mata panda milik Michael Arrington yang menjadi blogger siang dan malam.

Kalau Anda bermata lebar dan sering harus menghabiskan waktu di depan layar komputer (setidaknya 8 jam sehari, 5 hari dalam sepekan), gejala mata panda bukan barang aneh. Ditambah dengan kurang tidur malam yang cukup, ‎mata panda ini akan makin parah dan lama-lama membuat mata yang lebar itu tampak cekung, tidak sehat dan kuyu.

Saya kerap iri dengan teman-teman yang juga bekerja lama di depan komputer ‎tetapi kulit kelopak mata mereka tidak menggelap dan menunjukkan kelelahan. Setelah saya cermati, proporsi mata dibanding bentuk wajah mereka tidak tampak sebesar saya jadi kalaupun mereka menderita mata panda, ia tidak begitu tampak jelas. Lain dengan saya, yang sekali lihat saja sudah tampak.

Membahas tentang celak, saya baru ingat bahwa celak juga berguna bagi mereka yang bermata sipit untuk memberikan kesan lebar tanpa operasi plastik. Dikutip dari laman KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA :

“ce·lak (nomina)
bubukan (hitam, biru, dsb) untuk memalit kening (bulu mata) atau disapukan di sekeliling mata: mata sipit akan terlihat lebih lebar dan menarik apabila pd pinggir mata itu diberi –;
ber·ce·lak v memakai celak;
men·ce·lak v 1 menghitamkan atau mewarnai kening, bulu mata, sekeliling mata dng celak: para wanita suka sekali ~ matanya; 2 ki mengasah: serdadu itu ~ ‎” (Referensi 1)

‎Konon, ‎celak mata juga bisa memberikan manfaat kesehatan bagi indra penglihatan kita. Celak terbaik ialah itsmid, batu celak berwarna hitam dengan khasiat membuat mata dan jaringan syarafnya lebih kuat (Referensi 3). ‎

Tetapi dengan mata yang sudah begini, saya bertanya apakah memakai celak masih perlu. Mungkin bisa dipakai untuk alasan kesehatan di malam hari. Bisa gempar kan kalau saya pakai celak mata di kantor sepanjang hari?

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s