Vegemite Virgin

Dalam mata kuliah “Pranata Masyarakat Australia” (Australian Studies) yang saya ikuti bertahun-tahun lalu di bangku kuliah, disebut sebuah kata baru oleh dosen kami saat itu. VEGEMITE. “Rasanya enak sekali. Khas Aussie,”tuturnya saat itu di depan kelas. Nada bicaranya meyakinkan, wajahnya penuh semangat saat menjelaskan. Alhasil, kami mengangguk-ngangguk, berharap suatu saat kami akan mendapat kesempatan mencicipi makanan enak satu itu langsung di tempat asalnya, di benua kanguru. Saat itu pikiran kami melayang ke luar jendela kelas karena ingin sekali mencoba vegemite yang bahkan kami tidak tahu bagaimana bentuk dan rasanya. Konyol memang. Ya, siapa tahu lebih enak dari nasi pecel di kantin kampus yang mahalnya bukan main untuk kantong kami itu.

Karena selama ini belum pernah berkesempatan melancong ke sana, saya mengubur keinginan itu dalam benak. Hingga pekan lalu saya bertemu dengan seorang tetangga kantor. Tetangga, karena saya dan dia tidak bekerja di satu perusahaan, tetapi kami memang berada di gedung yang sama. Ia berpesan kalau saya mau menulis tentang dirinya di blog ini, saya harus menulis seperti ini:”Temanku yang punya cerita seru. Begini ceritanya…” Kurang lebih begitu pesannya untuk saya. Untungnya sebagai narablog, saya memiliki ‘editorial independence’ yang lumayan KUAT.

Mengetahui ia pernah kuliah di Australia, saya pun penasaran apakah ia pernah mencicipi vegemite yang legendaris itu.

“Sudah pernah mencicipi vegemite dong ya? Was it tasty?”tanya saya penuh keingintahuan.

“Semua temanku bilang vegemite enak. Aku sendiri disuruh mencicipi. Oh man, yeah! Memang ‘enak’!!!”ia menjawab dengan ekspresi dramatis, tetapi bagi saya sedikit meragukan, antara lelucon dan penjelasan serius. Dahi saya berkerut, menanti kelanjutannya. Karakter orang ini ialah kadang air muka dan nada bicaranya tidak bisa ditebak.

“Rasanya….Blehhh. Pait banget!!! Mereka bilang enak, harus coba tapi …. Not for me, man!”

Vegemite khas Australia itu bentuk fisiknya mirip selai (istilahnya “spread”) tetapi rasanya lain dari selai yang kita jumpai di Indonesia. Bahan asli vegemite adalah ragi, kaldu rebusan sayuran dan garam. Semua itu adalah sisa dari proses pembuatan bir. Anda bisa bayangkan rasanya bagaimana rasanya sekarang. Di labelnya, Kraft menulis:”Concentrated Yeast Extract” alias konsentrat ekstrak ragi. Betapa intens rasanya! Konsentrat dari ekstrak. Oh!

Sepertinya saya sekarang memilih nasi pecel di kantin kampus yang lebih familiar di lidah daripada vegemite itu. Bagaimana dengan Anda?

1 Comment

Filed under miscellaneous

One response to “Vegemite Virgin

  1. Aku ga doyan vegemite rasanya ancuuuuuuur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s