Yoga Bukan Obat Segalanya

Di satu episode Jewel in the Palace, tokoh utama Seo Jang Geum yang diperankan oleh Lee Young-ae itu pernah ditanya gurunya, tabib Shin. Shin dokter kerajaan yang berwatak keras, profesional, idealis serta memiliki cara berpikir yang bijak dan mendalam. Jang Geum disuruhnya membedakan bahan-bahan herbal mana yang ada di hadapannya yang tergolong obat dan racun. Jang Geum yang sudah melahap banyak buku sebelum ujian dengan percaya diri memisahkan. Dengan sangat tangkas, ia menjelaskan khasiat masing-masing bahan yang ia masukkan dalam kategori obat dan mengapa bahan tertentu dilabelinya sebagai racun.

Jang Geum yang cerdas itu gagal dalam ujian tersebut, begitu keputusan tabib Shin. ‎Apa pasal? Menurut tabib Shin, semua bahan apapun di alam ini tidak bisa digolongkan begitu saja dalam 2 kategori obat VS racun. Satu bahan yang dianggap obat bagi satu orang, bisa menjadi racun bagi orang yang lain. Begitu pun sebaliknya. Pun demikian dengan dosisnya. Satu bahan bisa menjadi obat bahkan nutrisi penting bagi tubuh jika dikonsumsi dalam jumlah rendah, tetapi begitu ia dikonsumsi terus menerus dalam jumlah berlebihan, ia berpotensi menjadi toksin yang membuat tubuh terganggu kinerjanya.

Kuncinya, jika saya boleh berpendapat, adalah keseimbangan. Ketimpangan‎ apapun itu bersifat merusak. Alam memiliki mekanismenya sendiri dalam mencapai titik ekuilibrium dan tatkala manusia bisa melakukan intervensi, risiko ketimpangan pun menjadi makin nyata saja.

Termasuk juga yoga. Yoga bukan panacea. Ia bukan obat ampuh segala penyakit dan keluhan kesehatan kita. Kita harus skeptis dengan klaim-klaim sembrono yang men‎cap yoga sebagai solusi semuanya. Terlalu konyol saya rasa. Menyodorkan yoga sebagai satu-satunya jalan keluar malah bertentangan dengan nalar.

Seperti halnya bahan-bahan yang ada di alam ini, yoga juga bisa ‎menjadi obat atau racun, tergantung pada banyak sekali faktor. Yoga bagaikan senjata yang bisa berpotensi melindungi atau melukai si empunya. Atau bumerang, yang bisa melukai lawan atau malah mencederai si pelempar sendiri.

Contohnya mengenai melakukan yoga di malam hari. Ada orang yang mengklaim:”Yoga bisa membuat tidur lebih nyenyak.” Namun, dalam kasus yang saya alami, beryoga di malam hari malah membuat saya terlampau lelah atau kadang terlalu bersemangat beraktivitas hingga saya lebih sukar lelap setelah itu. Alih-alih mengobati insomnia, yoga malah memicu insomnia bagi saya. Bisa jadi karena tubuh saya lebih terbiasa beryoga di pagi hari dan rehat lebih awal di malam hari.

Menurut saya, yoga hanya salah satu jalan menuju pencapaian keseimbangan yang berimbas positif pada kesehatan jiwa raga. ‎Imbasnya bisa saja negatif jika yoga dilakukan hingga taraf tertentu yang merusak keseimbangan hidup seseorang. Maka dari itu, ketahuilah kapan dan bagaimana keseimbangan itu bisa tercapai dalam diri melalui yoga. Dan itu tidak bisa diketahui tanpa kita belajar merasakan sendiri.

‎Sebuah pendekatan yang holistik atau menyeluruh perlu dilakukan agar yoga bisa dipakai dengan lebih bijak. Ia hanya alat, bukan tujuan. Yoga menjadi alat kita mencapai kebaikan dan keseimbangan.

(image credit: Wikimedia Commons)

Leave a comment

Filed under yoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s