Bedanya Mewawancarai Guru Yoga dan Entrepreneur

IMG_4782.JPG
Berada di dua event yang berbeda sepanjang akhir pekan ini, saya mengamati ada perbedaan yang menyolok antara mewawancarai entrepreneur dan guru yoga. Acara Global Entrepreneurship Week Summit dan Namaste Festival ini sungguh seperti dua dunia yang berbeda. Saya ibaratkan seperti ada sebuah pintu atau portal penghubung di antara keduanya yang kadang tersamar dan tidak sadar saya lalui begitu mudahnya.

Di event entrepreneurship, acara berlangsung di dalam ruangan berpendingin udara. Semuanya bernuansa formal karena ada protokol yang berlaku. Orang-orang berlalu lalang memakai pakaian terbaik mereka, entah itu setelan jas mahal, kemeja lengan panjang yang diseterika sempurna dan dikanji hingga licin, jaket almamater bagi para mahasiswa.

Di event yoga, jangan harap ada formalitas berpakaian semacam itu. Semua orang tidak peduli apa yang Anda pakai. Maksud saya, entah itu sedikit terbuka atau sangat terbuka. Pakaian tipis dan minim sudah dimaklumi, mengingat iklim tropis negeri ini. Sinar matahari dan hawa yang lembab sekali membuat semua orang kegerahan meski November telah datang.

Di event entrepreneurship, orang-orang berlomba memberikan presentasi memukau, yang membuat orang percaya bahwa mereka sukses dan sudah berhasil mengatasi tantangan meski mungkin saat itu pun masih berjuang menghadapi tantangan lain yang jauh lebih besar dan melelahkan. Saat wawancara mereka duduk bersama saya dengan posisi yang sopan, berpakaian lengkap dan formal, tak ada minyak atau keringat di wajah mereka yang banyak terkena terpaan sinar LED, layar laptop dan pendingin ruangan. Ada yang agak dilebih-lebihkan, ada yang terlalu jujur hingga menjadi menggelikan tetapi ada juga yang berusaha menutup-nutupi apa yang tidak ingin dibeberkannya pada publik. Mereka juga adalah orang-orang yang sanggup menerima kenyataan bahwa gaji sebagai karyawan pada awalnya lebih tinggi daripada pendapatan bisnis mereka di masa awal berwirausaha. Atau orang-orang yang begitu kayanya dari lahir hingga berbisnis adalah satu-satunya cara agar bisa memberi manfaat bagi diri dan masyarakat. Ada yang bangkrut, bosan karena menjadi pekerja korporat, hingga ada juga yang menerima tuntutan hukum hingga miliaran rupiah.

Sementara itu di event yoga, mewawancarai guru yoga jauh lebih bebas dalam artian tata laksana dan tata berbusana. Guru-guru yoga lebih mementingkan bagaimana menjadi diri mereka apa adanya. Seorang guru wanita diwawancarai dalam kondisi berkeringat sehabis berdansa, rambut terurai, sedikit terengah-engah, berjalan ke sana kemari tanpa alas kaki dan tanpa segan menaikkan satu kaki ke atas kursi saat saya menyodorkan perekam ke mulutnya yang melontarkan jawaban panjang lebar. Tidak ada yang mencelanya. Seolah hal yang alami saja. Ada juga yang saat saya wawancara bahkan dalam kondisi telanjang dada, bertato di bahu, hanya bercelana pendek seadanya. Tak tampak rasa malu atau rikuh karena bisa jadi itulah yang ia senantiasa lakukan setiap hari. Ia telah nyaman menjadi dirinya sendiri tanpa riasan dan pakaian atau aksesoris berlebihan. Ada yang membiarkan rambut di wajahnya tumbuh begitu tebal dan rambut kepala dengan potongan bergaya asimetris yang sama sekali antimainstream, dan bulu dada dan ketiak yang menjalar liar. Tetapi toh mereka disukai.

Di event entrepreneurship, mewawancarai mengenai topik untung rugi bisa blak-blakan. Kata passion juga sering didengungkan. Di event yoga, masalah untung rugi termasuk haram, atau makruh (artinya akan lebih baik jika ditinggalkan). Tak ada guru yoga yang “mau” membahas kalkulasi bisnis yoga mereka ( dan juga karena wartawan tidak ada yang berani bertanya demikian karena sangat kontraintuitif).

Leave a comment

Filed under journalism

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s