Anne Avanti tentang Ibu sebagai Motivatornya Berkarya dalam Entrepreneurship

“Pendidikan terakhir saya hanya SMP. Jadi saya tidak tahu komputer itu apa dan bagaimana. Saya juga tidak bisa berpura-pura mengerti di depan orang lain.

Sebagai seorang Anne Avanti yang sederhana, saya ingin menceritakan kisah saya bukan karena saya pandai tetapi saya ingin membongkar bagaimana saya menjadi seorang entrepreneur.

Menjadi seorang perempuan merupakan masalah takdir tetapi menjadi perempuan yang baik adalah sebuah pilihan. Namun, pada saat itu saya tidak memiliki pilihan apapun. Karena saya merasa ibu saya, ia diadopsi dari 24 bersaudara, kemudian menikah dan saya berasal dari keluarga yang bercerai (broken home).

Dan dari keluarga yang seperti itu, lahirlah anak-anak dengan luka batin. Kami adalah anak-anak yang tidak memiliki sesuatu yang pasti dalam kehidupan. Oleh karena itu, kami tidak memiliki sesuatu yang bisa dijadikan alat. Apalagi bisa sekolah ke luar negeri! Itu mustahil untuk saya.

Saat saya mengalami keterpurukan, ibu saya adalah guru saya. Motivator dan inspirasi bagi hidup saya. Saya merasa tidak ada guru yang tersempurna dalam hidup ini selain ibu saya. Saat saya menerima apapun, ibu saya menjadi orang pertama yang menerima kebahagiaan dari saya.

Dulu saya tidak pernah berpikir bahwa talenta desain akan menyelamatkan hidup saya. Selama 25 tahun saya sudah berkarya sebagai desainer fashion, dan saya menemukan bahwa bukan sekolah kita, tetapi bakat-lah yang menyelamatkan hidup saya.

Saat masih belia, saya hanya sampai di kelas dua sekolah menengah Loyola College, dari SMP Regina Pacis dan saya tidak pernah mengikuti almamater apapun juga karena saya tidak pernah menyelesaikan bangku sekolah.

Bahasa Inggris saya juga tidak terlalu baik. Dan kalau saya diundang untuk berbicara, saya tidak pernah malu menggunakan jasa penerjemah. Saya merasa inilah Anne Avanti yang utuh, seorang perempuan yang utuh yang tidak mengeluhkan siapa saya.

Saya tidak hanya terpuruk dalam bidang akademis. Kehidupan rumah tangga saya juga terpuruk. Namun, saya bersyukur sudah bersama dengan pasangan saya selama 24 tahun. Kami memiliki 3 anak dan 2 orang cucu.
Dengan begitu banyak keterpurukan dalam hidup saya, saya tidak menyangka hidup saya akan menjadi seperti sekarang.

Jadi saat saya disuruh memiliki mimpi, saya berkata,”Saya tidak bisa karena impian membutuhkan alat dan sarana. Dan apa yang bisa saya impikan sebagai anak yang hanya lulus SMP?”

Saat itu, pikiran saya melayang pada satu peristiwa dan saya berkata:”Kalau ingin menjadi orang sukses, lihat siapa yang kita kagumi.” Saat itu saya tidak memiliki sosok lain yang saya kagumi selain ibu. Karenanya, ibu selalu menjadi guru saya. Meskipun saya tidak bisa membuat pola, tidak menguasai “cutting”, saya memiliki energi yang luar biasa. Ibu saya berkata,”Percaya diri!” Dan saya berupaya tampil sebagai orang yang percaya diri.

Akhirnya, ketika saya di bangku sekolah, saat berjabat tangan dengan teman, teman saya berkata mereka sekolah di Boston, di tempat-tempat asing, saya hanya menjual senyum saya. Karena tidak ada satupun yang bisa saya sombongkan, yang bisa saya “jual”.

Bahkan saat anak saya yang sulung di kelas dua SMA, saya berkata padanya saya sudah memiliki dana dan ingin bersalaman dengan orang yang bertanya,”Anakmu sekolah di mana?” Saya ingin menjawab sekolah yang jauh, entah itu Amerika atau Jepang.

Tetapi malah anak saya memutuskan untuk pindah ke SMKK. Dia berkata,”Bunda, ini bukan dunia saya. Dunia saya itu dunia jahit menjahit seperti Bunda.”

Mengetahui keinginannya itu, saya berdoa pada Tuhan dan akhirnya anak sulung saya pindah ke SMKK.

Oleh karenanya, saat saya ditanya,”Putrinya sekolah di mana?”, saya hanya menjawab sekenanya.

Anak saya yang kedua Ernest yang seorang chef saat duduk di kelas dua SMA mengatakan pada saya,”Bunda, saya mau meninggalkan sekolah. Saya mau sekolah masak.” Akhirnya anak saya yang kedua juga lepas sekolah juga.

Dan anak saya sekarang yang ketiga, saya berpesan padanya,”Bunda hanya ingin melihat ijazah SMA-mu.”

Hal yang aneh adalah meskipun karya-karya saya dipakai wanita-wanita di luar negeri dan memiliki banyak uang, saya tetap tidak bisa ke mana-mana. Saya memiliki fobia terhadap ketinggian sehingga tidak bisa naik pesawat terbang. Tetapi saat saya akhirnya terbang dengan Garuda setelah bertahun-tahun belum pernah naik, saya menemukan foto saya terpajang di dalam majalahnya. Saya bersyukur pada Tuhan atas itu.

Begitu banyak hal yang terjadi yang membuat saya tetap sebagai Anne Avanti yang seperti dulu. Bukan siapa-siapa. Bahkan saat saya menjadi penerima penghargaan entrepreneurship Ernst & Young 2011, saya kaget dan tidak tahu. Entrepreneur itu maksudnya apa?

Dan saya merasa bahwa saat saya telah diberkati, saya harus juga memberkati. Saya membuka lapangan kerja bagi banyak orang. Saya tulis besar-besar di depan rumah saya:”MENERIMA TENAGA KERJA TANPA IJAZAH”. Setiap hari orang berdatangan luar biasa! Karena saya merasa saya pernah tidak memiliki kesempatan sehingga saya ingin membuka kesempatan bagi ratusan oran. Hingga saat ini saya membawahi 12 perusahaan.

Dari sebuah talenta yang sederhana, keyakinan yang kuat, saya katakan bahwa sebelah kanan sisi tubuh saya adalah nilai jual. Begitu banyak brand ambassador yang harus saya perankan dan saya difoto dari sisi kanan.

Saya tidak bisa mengatakan bagaimana menjadi wirausaha tetapi yang saya ketahui wirausaha adalah jiwa, yang membangkitkan kepercayaan seseorang bahwa talenta bisa menyelamatkan hidup kita. Kita juga tidak akan ada artinya jika kita berkarya untuk memperkaya diri sendiri. Artinya membuka lapangan kerja. Apapun yang saya terima saat ini, jatah hidup saya, saya bagikan lagi kepada banyak orang.

Saya juga diundang ke sana kemari, saya jalani sebagai ucapan terima kasih atas karunia Tuhan yang sudah menyelamatkan hidup saya, seorang manusia biasa tetapi bisa bergerak maju menjadi pemimpin bagi banyak orang.

Saya sangat beruntung bisa berkarya dengan hanya berbekal sebuah jarum dan benang.” (*/Akhlis)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in entrepreneurship and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.