Sejenak Bersama Patrick Beach

IMG_4911.PNG

Dengan begitu banyaknya perempuan di dunia yoga kontemporer, kita sering lupa bahwa di tanah asalnya India, yoga lebih banyak dilakukan oleh para yogi alias pegiat yoga pria. Yogi-yogi zaman dulu memiliki jenggot yang panjang, cambang yang tak terpelihara, pakaian ala kadarnya dan hidupnya secara umum amat bersahaja.

Patrick Beach pun memelihara jenggot yang lebat. Kami tak tahu tujuannya mempertahankan rambut muka yang setebal itu. Pastinya repot merapikan dan mencuci setiap hari. Belum kalau berkeringat. Ternyata ia mengikuti tantangan Movember, yang mengharuskan para penyumbang amal itu memanjangkan rambut di wajah selama waktu yang ditentukan demi menunjukkan komitmen dalam beramal.

Duduk bersama saya siang itu, saya teringat dengan sebuah video yang saya temukan beberapa tahun lalu. Patrick ada di dalamnya tetapi di situ ia belum menjadi guru yoga. Ia memberikan tutorial kebugaran fisik saat itu bersama rekan-rekannya. Rambutnya yang pirang saat itu diikat karena panjangnya sampai sebahu. Dagunya licin dan matanya jernih. Ia mengajar bagaimana melakukan handstand, suatu pose yang banyak menjadi idaman orang, baik yang yogi atau bukan.

Tiba-tiba Patrick saya temukan telah menjadi guru yoga. Ia tampil intens di Instagram sebagai pakar handstand dan gerakan-gerakan yang diilhami dari yoga dan olahraga lainnya. Sungguh mengesankan menikmati foto-fotonya, karena saya belum mampu melakukannya dengan baik. Saya iri, tetapi tetap tak mau memaksa diri.

Mendapat kesempatan mewawancarai Patrick sungguh langka, karena ia sangat sibuk mengajar kelasnya di Namaste Festival 2014 yang lalu. Di sela-sela semua itulah, saya menyita waktunya selama 10 menit.

Saya membombardirnya dengan sejumlah pertanyaan yang akhirnya Anda bisa baca di namastefestival.tumblr.com. Dalam bahasa Inggris, ia menjawab semuanya dengan agak tergesa-gesa. Maklum, ia harus tampil berfoto bersama para pengajar dan penggagas festival itu di halaman depan.

Patrick baik tetapi jelas bukan orang yang menebar senyum dengan mudah. Entah karena lelah atau alasan lain. Kalau memang lelah, bisa dipahami karena ia turut menggerakkan tubuhnya sepanjang kelas.

Meski dikenal banyak beraktivitas di jejaring sosial, Patrick tidak menyanggah bahwa ada risiko di dalamnya. “Kita perlu menjauhkan diri kadang dari jejaring sosial,”pungkas pria yang digilai banyak peserta wanita karena sepasang matanya yang biru.

Dari semua gegap gempita festival, Patrick tampak paling merasa nyaman saat ia berada di tengah teman-teman dekatnya. Di kolam renang saat kami mengakhiri festival, ia tampak tertawa lepas bersama beberapa rekannya seperti Cameron Shayne.

(Photo credit: Uci)

Leave a comment

Filed under yoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s