Homeland: Tanah yang Dicintai

Jiro Sawada (Kenichi Matsuyama) menggendong sang ibu. Kakaknya Soichi memiliki persaingan dengan Jiro sejak kecil. (Image credit: Japan Times)

Film ini saya nikmati dalam sebuah penerbangan Dragon Air yang berangkat dari Beijing ke Shanghai beberapa bulan lalu. Kisahnya tentang sebuah keluarga yang tercerai berai karena bencana kebocoran pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima di Jepang beberapa tahun lalu.

Film dengan latar belakang kejadian nyata ini dimulai dengan ditampilkannya seorang anak muda. Ia kembali ke sebuah desa di Fukushima yang lengang pasca musibah kebocoran tadi. Desa itu memang tidak cukup dekat dengan PLTN Fukushima tetapi tingkat radiasi nuklir di sana cukup tinggi. Tidak heran pemerintah Jepang menyerukan imbauan agar semua warga meninggalkan kampung halaman mereka ke lokasi permukiman baru yang sudah disediakan di daerah yang lebih aman.

Namun, anak muda yang meninggalkan desanya sejak remaja itu malah ingin hidup kembali di wilayah terlarang itu. Ia diusir oleh sang ayah, yang dulunya menjabat sebagai kepala desa di sana. Gairah anak muda itu sendiri adalah bercocok tanam. Saat sang ayah sibuk berkampanye di jalan-jalan desa, anak itu lebih memilih menyiangi gulma di pekarangan mereka di suatu siang.

Wataknya berlainan dengan sang kakak kandung yang lebih ambisius. Tetapi sayangnya, kakaknya itu kerap ceroboh dan emosional. Kecerdasannya juga kurang bila dibandingkan sang adik.

Suatu ketika jabatan sang ayah yang sudah didapat dengan susah payah itu terancam karena lawan politiknya di kampung menemukan aliran irigasi ke sawahnya dihalangi oleh seorang oknum. Ia pun menuduh ayah kedua bersaudara itu telah berada di balik aksi yang membuat tanamannya kekeringan.

Ketakutan ayahnya akan kehilangan jabatan, sang kakak pun mengakui dirinya adalah oknum yang melakukan tindakan tersebut. Kakaknya memang sangat ingin mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari si ayah sehingga ia pun berpikir untuk melakukan trik tadi meski tanpa sepengetahuan ayahnya.

Sang ayah meledak. Ia gusar dengan kecerobohan sang kakak. Namun, dengan satu alasan sang ayah ingin agar si adik yang harus mengaku menjadi pelaku. Singkat kata, ia harus menjadi kambing hitam demi menyelamatkan nama keluarga. Mungkin alasannya adalah lebih termaafkan jika sebuah tindakan kurang menyenangkan dilakukan oleh anak remaja yang emosional daripada oleh seorang anak laki-laki sulung yang akan menjadi penerus keluarga. Dengan pembicaraan yang alot, akhirnya sang adik menerima keputusan pahit yang membuat namanya menjadi tercoreng itu.

Ia pun memutuskan keluar dari lingkungan desa itu untuk memulai kehidupan baru di sebuah kota besar. Ia bekerja serabutan sebagai buruh kasar dan hidup cukup terlunta-lunta. Apalagi dengan statusnya yang kurang terdidik, ia pun harus rela dengan gaji kecil. Sambil menahan rindu atas kampung halaman, ia juga harus mengendalikan dendam dan kekecewaannya pada ayahnya yang sudah meninggal dan sang kakak yang telah beranak satu.

Namun, akhirnya ia memutuskan kembali ke desa yang telah tercemar radiasi radioaktif itu. Ia tak peduli dengan risiko kesehatannya. Satu-satunya yang ia pedulikan hanyalah meneruskan kegiatan bertani seperti yang dulu ia lakukan bersama sang ibu. Rupanya itulah panggilan jiwanya karena bahaya setinggi radiasi radioaktif pun tak membuatnya gentar. Ia suka bercocok tanam. Dan kenyataan bahwa orang-orang yang ada di masa lalunya sudah pergi meninggalkan tempat itu justru membuatnya sangat bergairah untuk kembali dan tinggal. Singkat kata, ia merasa lebih bebas dalam menjadi petani sejati berkat insiden Fukushima. Jelas ia tak peduli dengan nyawanya asal masih bisa bertani dan hidup di tanah yang ia telah injak sejak awal kehidupannya. Tanah itu lebih hangat daripada keluarganya sendiri karena ia bahkan tidak berkeinginan melacak tempat tinggal keluarganya yang tersisa. Keluarga bukan tujuan utamanya kembali ke sana.

Ditemani seorang kenalan yang juga nekat masuk ke wilayah terlarang tersebut, sang adik menjelajahi wilayah mati itu.

Di wilayah lain tempat permukiman pengungsi didirikan, ibunya dan sang kakak, istri serta keponakannya tinggal. Karena menua, sang ibu mulai pikun. Contohnya di area pengungsian yang rumahnya didesain dan dicat seragam, sang ibu kesulitan mengingat tempat tinggalnya lagi. Ia perlahan kehilangan memorinya termasuk tentang keluarganya.

Sang kakak memiliki kepribadian yang haus perhatian, tidak mengherankan ia menjadi suami yang terlampau posesif. Ia membuntuti sang pacar beberapa kali dan cemburu dengan pria yang ternyata adalah atasan si istri. Watak itu tak bisa lekang oleh waktu tampaknya.

Konflik mulai naik saat sang kakak mengetahui informasi mengenai kondisi rumah yang ia tinggalkan. Ia mengetahui entah bagaimana bahwa adiknya kembali ke rumah pusaka keluarga itu.

Sang kakak yang sudah lama tak berjumpa pun nekat pulang. Di ladang milik keluarga, kedua kakak beradik berbeda ibu itu pun malampiaskan kemarahan satu sama lain setelah sekian lama berpisah. Mereka mirip dua anak laki-laki yang tidak peduli dengan pakaian mereka. Keduanya beradu jotos, jatuh berguling-guling di tanah yang subur tetapi tercemar nuklir itu.

Saya suka dengan penggambaran alam di perdesaan Jepang yang sangat berbeda dari lansekap Tokyo dan kota-kota besar lainnya yang khas dengan trotoar penuh manusia dan layar lebar di persimpangan jalan yang gemerlap menampilkan kultur pop aliran utama masa kini. Di alam yang terlilhat asri meskipun sebenarnya secara tak kasat mata sudah tercemar radiasi nuklir itu kita masih dapat menemukan hutan, ladang dan hewan liar yang begitu menawan. Jika tidak terletak di Fukushima, siapa mengira semua keindahan alam itu pada dasarnya sudah hancur?

Aktor Kenichi Matsuyama secara apik memainkan karakter sang adik, Jiro Sawada. Sementara sang kakak Soichi diperankan oleh aktor Masaaki Uchino. Sementara sang istri Misa diperankan Sakura Ando.Ibu yang mulai pikun itu diperankan dengan meyakinkan oleh Yuko Tanaka.

Film ini mengingatkan saya pada seorang teman jurnalis Rane yang beberapa tahun telah tinggal bersama keluarganya di Jepang. Meski tempat tinggalnya cukup jauh dari titik pusat bencana tsunami dan nuklir Fukushima yang terjadi tanggal 11 Maret 2011, ia dipulangkan juga akhirnya ke tanah air. Ini menunjukkan betapa luasnya dampak musibah alam yang juga diperparah dengan intervensi manusia tersebut pada umat manusia. Mungkin mirip dengan tragedi Lumpur Lapindo atau Sidoarjo itu. Sudah ada potensi bencana dan manusia memperparah kondisi dengan ambisi dan kerakusannya.

Dengan tingkat keparahan hingga nomor dua setelah Chernobyll, masuk akal bila daerah Fukushima harus dibersihkan dari radioaktif selama beberapa dekade mendatang.

Sutradara Nao Kubota di filmyang berjudul asli “Ieji” yang sangat berpengalaman dalam pembuatan film-film dokumenter itu ingin menyampaikan pesan secara halus bahwa konsekuensi yang harus ditanggung untuk kenyamanan itu ternyata tidak sepadan.

2 Comments

Filed under miscellaneous

2 responses to “Homeland: Tanah yang Dicintai

  1. ceritanya sungguh menginspirasi ? ada filmnya tak..????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s