Roy (3)

III

Semalam aku tidak bisa tidur. Hanya gelisah membolak-balik badan di tempat tidur dan sesekali memeriksa ponsel di meja kecil samping bantal. Aku cemas dengan apa yang akan kuhadapi besok.

Alarm ponsel berdering nyaring. “Ah masih jam segini…,”aku menarik selimut, berharap masih akan ada injury time. Tapi waktu tidak mendengarkan permohonanku untuk berhenti sejenak. Kuseret diriku menuju ke kamar mandi, berpakaian, lalu makan.

Kupandangi kaca itu sambil tertegun,”Aku pasti bisa melalui hari ini!” Kutundukkan kepalaku lagi dan kupejamkan mata, berharap aku bisa membuka mata dan sudah berada di bangku sekolah, belajar Al Kitab.

Sudah pukul 7.00 dan aku masih berupaya menemukan kunci mobilku. Sedikit panik aku memanggil pak Boy. Nama aslinya memang Boy, karena ayahnya suka dengan Onky Alexander, si pemeran film Catatan Si Boy.

“Lho, belum tau ya mas?” ia balik bertanya,”Itu kuncinya sudah diambil ayah mas Roy.”

“Apa???”aku tidak percaya karena kunci itu aku letakkan di meja kamar. Bagaimana Papa mengambilnya? Dan yang lebih penting lagi, bagaimana aku harus ke kantor?

“Mas Roy sudah pulas tadi malam pas kuncinya diambil,”pak Boy menjelaskan.

Aku tak terlalu peduli dengan bagaimana Papa mengambil kunci mobilku karena aku harus segera menemukan cara untuk bisa ke kantor sekarang juga atau aku akan terlambat. Jalan dan lalu lintas Jakarta tak pernah bisa ditebak, dan dari pengalaman, jarak 5 km dari kantor dan rumah bisa ditempuh lebih dari 2 jam kalau sedang naas. Kali ini aku sudah kesiangan dan tak ada mobil yang bisa dipakai. Semua kuncinya dipegang Papa.

“Mas Roy, kalau mau saya panggilkan teman saya. Kan sedang
buru-buru,”tukas pria berperawakan kecil itu lagi. Apa rencananya?

“Maksud pak Boy?” Pandangan saya menyelidik.

Pak Boy mengusulkan,”Supaya tidak telat ke kantor, naik ojeknya bang Sidik aja mas…”

“Apa?!! Hmm…” Aku belum pernah mencoba tetapi ini kondisi darurat dan aku tidak ada solusi lain.

“Ya sudah pak, cepat panggilkan. Aku harus sampai jam setengah sembilan lho!”

Sejurus ia merogoh ponsel di sakunya dan menghubungi sang teman. Mereka berbicara dalam bahasa Betawi.

“Sudah siap!”ia berkata padaku.

Setengah menit kemudian, aku berada di jok sepeda motor itu, melesat dengan memakai helm. Ah, jambul rambutku yang sudah aku buat susah payah hancur tertimpa helm. Tak apalah, asal tidak terlambat.

Dalam 20 menit, aku sudah sampai di lobi gedung kantor Plazia di kawasan pusat aktivitas bisnis ibukota. Aku heran kenapa bang Sidik tahu lokasi kantor ini tanpa aku jelaskan. Rupanya usut punya usut, ia diberitahu pak Boy sebelumnya.

Masuk ke kantor aku sedikit terengah-engah. Kusaksikan di seluruh gedung hanya ada orang-orang dengan dua jenis penampilan: berseragam dan tidak. Namun demikian, aku tahu semuanya akan bekerja di sini. Office boys berseragam yang bernasib malang; mereka karyawan outsourcing yang bergaji relatif kecil. Begitu aku baca di sebuah situs berita kemarin. Mereka kembali berdemo, setelah wacana kenaikan BBM berhembus dan harga-harga kebutuhan pokok membubung tanpa ampun. Sementara para eksekutif dan pegawai profesional itu lalu lalang dengan pakaian-pakaian kerja yang lebih bagus. Entah itu jas atau batik tulis mahal. Mereka tampak lebih beruntung dari rekannya yang kerah biru, tetapi juga menanggung utang yang sering di luar batas penghasilan mereka.

Hari pertama menjadi karyawan magang di perusahaan Papa sungguh membekas karena aku seperti orang dungu. Aku berusaha datang lebih pagi agar bisa mempelajari medan. Aku tahu aku tidak akan bekerja di bidang ini hingga akhir karirku tetapi aku juga tidak mau bekerja asal dan menunjukkan etos kerja yang rendah. Itulah yang Papa contohkan padaku selama ini:bekerja sepenuh hati. Kalau dalam kasusku, HAMPIR sepenuh hati. Aku cuma tidak mau menodai kredibilitas dan kompetensi serta profesionalismeku sebagai individu merdeka, bukan sebagai pekerja atau pengusaha.

Aku tidak tahu apa-apa tentang bagaimana menjadi karyawan apalagi bagaimana menjalankan sebuah perusahaan. Aku tidak tahu letak toilet, tidak bisa menemukan kertas fotokopi, tidak bisa menggunakan telepon karena ternyata setiap orang harus memiliki kode rahasia agar bisa menghubungi nomor telepon di luar kantor. Tak mau repot, aku pakai saja ponselku. Tetapi tetap aku harus berhemat. Aku tak mau tagihan ponselku membengkak. Bagaimanapun aku yang membayar tagihan ponselku, meski ayah dan kakek memiliki uang untuk membeli perusahaan
telekomunikasi itu sekalipun.

Rupanya Jodi – si pria ceriwis itu – adalah manajer di sini. Mungkin manajer komunikasi, karena ia sungguh cerewet, suka berkomentar tentang apa saja. Termasuk tentang diriku. Penampilanku, caraku memutuskan, dan apapun itu hampir selalu ia puji.

Aku harus bertahan dengan sikap Jodi yang suka menyanjung-nyanjung ini. Setidaknya hari ini, dan beberapa ratus hari mendatang. Atau hingga Papa dan Opa mengubah pikiran mereka dan membolehkanku menjadi pendeta, seperti yang aku impikan.

“Dasinya bagus sekali, pak. Hari ini terlihat sangat segar, penuh semangat ya mulai bekerja di sini,”matanya berbinar sambil melontarkan komentar ‘jilatan’ di depanku dan beberapa orang saat makan siang. Iya, aku makan siang bersama mereka di kantin karyawan yang pengapnya bukan kepalang itu. Letaknya di basement gedung kantor kami. Di jam makan siang, sungguh penuh sesak dengan orang. Karena gerah oleh komentar Jodi dan udara di dalam kantin yang pengap, aku pun melepas dasi biru itu dan memasukkannya ke saku celana hitamku. Dasar orang gila, batinku. Perhatiannya berlebihan dan itu tidak hanya membuatku jijik. Teman-temannya juga.

Meja kerjaku menghadap ke arah utara. Di ketinggian lantai 69 ini, kami bisa menyaksikan laut dari jendela. Pertemuan cakrawala dan laut nun jauh di sana kabur. Seperti masa depanku ini. Apakah aku akan menjadi pendeta nantinya atau hanya menjadi pebisnis seperti ayah, kakek, paman dan semua orang di sekitarku ini?

Tidak banyak yang tahu betapa tidak menyenangkan menjadi salah satu pewaris tahta seperti ini. Aku tidak membahas sisi uangnya tetapi bagi banyak orang, kehidupanku adalah yang mereka sangat dambakan. Kenyataannya tidak begitu mudah sebetulnya. Semua kadang di luar kendaliku, meski aku tahu aku bisa melawan. Akan tetapi, mereka adalah bagian dari orang-orang yang aku kasihi. Mereka telah menjagaku dari kecil hingga seperti sekarang ini. Bagaimanapun aku tidak mau mengecewakan mereka.

Leave a comment

Filed under fiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s