Membahas Tuntas Back Bend

Siapa suka back bend? Jarang sekali di kelas yoga ada peserta atau murid yang menyukai jenis gerakan satu ini. Rasanya tidak nyaman karena membuat kita susah bernapas dengan normal. Apa pasal? Bila Anda teliti lagi, gerakan back bend yang membuka daerah dada dan bahu itu sama dengan gerakan mengambil napas yang paling sempurna. Jadi di titik paling maksimal Anda melakukan gerakan back bend, Anda akan susah bernapas normal karena tubuh Anda berada dalam posisi yang harus tetap mengambil napas (inhale). Sekali Anda exhale atau membuang napas, biasanya back bend akan melemah, apalagi jika Anda baru saja belajar yoga. Setelah berlatih secara teratur, ketidaknyamanan ini akan terus berkurang dalam berbagai tahapan yang bervariasi pada tiap-tiap orang. Berikut saya sarikan penjelasan Leslie Kaminoff, dari The Breathing Project dua tahun lalu saat berkunjung memberikan workshop yoga di Jakarta. Ia membahas mengenai back bend dengan lebih mendalam.

Apa itu back bend?
Menurut Leslie Kaminoff, back bend ialah perubahan bentuk tulang belakang yang bergerak ke belakang dan menciptakan ruang (space). Jika dicermati, tidak hanya tulang belakang yang membentuk sebuah gerakan back bend yang baik tetapi juga seluruh bagian tubuh. Dari pergelangan kaki, lutut, paha, bahu, semua bagian tubuh ikut serta di dalamnya. Dalam back bend, kita menggunakan gerak fleksi tulang belakang menuju ke belakang. Dan ada “space” atau ruang antarruas tulang belakang yang tercipta dan mengarah ke belakang, jadi tidak hanya asal terlihat menekuk ke belakang.

Mengapa sebagian orang bisa melakukan back bend yang sangat dalam sementara saya tidak?
Masih kata Kaminoff, dalam kelas-kelas yoga, jenis back bend yang biasanya disarankan untuk dilakukan adalah jenis yang merata (well-distributed) ke seluruh tubuh, bukan back bend yang biasa dilakukan oleh para kontorsionis alias penekuk tubuh di gelaran sirkus atau pertunjukan ketangkasan sejenis.

Dalam pertunjukan kontorsionis, para penampil yang lihai menekuk tubuh ke belakang itu memiliki keunikan dalam anatomi mereka. “Ada sudut yang tajam di tulang belakang mereka dan ini bukan jenis back bend yang merata,”ujar Kaminoff.

Kunci bisa melakukan back bend yang lebih dalam lebih menyangkut tentang aspek anatomi, sesuatu yang dimiliki sejak lahir atau bawaan. Bukan hasil latihan. Jika dilihat lagi, tulang belakang para kontorsionis ini berbeda dari orang kebanyakan. Tulang belakang mereka memiliki tonjolan-tonjolan yang lebih kecil yang nantinya jika dilipat ke belakang akan lebih tajam karena friksinya baru terjadi saat sudut tekukan akan lebih tajam dari orang biasa. Jaringan penghubung antarruas tulang belakang (connective tissues) mereka juga lebih longgar dan lentur.

Apakah agar bisa melakukan back bend lebih baik, kita harus lebih jarang melakukan forward bend?
Kaminoff mengatakan ada asumsi bahwa mereka yang ingin lebih ahli di back bend, harus menghindari forward bend. Dan demikian juga sebaliknya. Kaminoff menganggap asumsi itu tidak berdasar. Ada orang yang melakukan back bend dari sendi pinggulnya, yang mengalami ekstensi yang lebih dalam. Dalam satu kasus seorang kontorsionis bernama Christina (69), bagian tulang belakang (ruas T-12) bekerja penuh menjadi tumpuan. Ia dapat melakukannya di usia hampir 70 tahun karena ia mengenal tubuhnya dengan baik dan karena ia melakukan gerakan melipat ke depan dan belakang. Dengan kata lain, ia memakai prinsip keseimbangan: melakukan forward bend dan back bend dalam porsi yang sama.

Apakah gerakan back bend ekstrim di usia muda akan membuat kesehatan saya terganggu di usia tua?
Kaminoff menjawab tergantung pada cara masing-masing orang berlatih. Ada yang cedera dan ada juga yang tetap sehat. Ada gadis 18 tahun yang mengalami cedera karena ia tak memahami dan menerapkan prinsip keseimbangan saat berlatih sebagaimana yang kerap diajarkan dalam yoga. Jangan hanya melakukan back bend secara terus menerus karena terobsesi menjadi lebih lentur bagai gadis plastik. Ini bukan strategi yang baik, kata Kaminoff.

Lalu seperti apa gol yang masuk akal dalam berlatih back bend dalam yoga?
Daripada kita terobsesi dengan pose-pose yang sulit, Kaminoff menyarankan kita untuk lebih mencermati bagaimana kita bisa melakukan semua itu. Dalam satu kasus, Kaminoff mencontohkan, ada orang yang memiliki sendi pinggul yang sangat longgar tetapi tulang belakang bagian atasnya kurang lentur, biasanya secara sembarangan ia akan menggunakan sendi pinggulnya itu lebih banyak untuk mengkompensasi kelemahan di tulang belakang atas tadi agar sebuah pose back bend seperti eka pada rajakapotasana atau natarajasana bisa dicapai. Ia mengingatkan inilah risikonya: terlalu banyak menggunakan yang sudah longgar dan kurang fokus pada bagian yang seharusnya perlu diperbaiki. Saat seseorang berlatih secara ekstrim dalam back bend, mereka akan cenderung menuju ke arah yang membahayakan diri. Kaminoff mengatakan dirinya mengamati adanya bagian-bagian tubuh para kontorsionis alias manusia karet itu yang sesungguhnya cukup kaku! Area dada dan tulang belakang atas mereka biasanya lebih kaku dari bagian lain seperti pinggung dan pinggul.

Bagaimana cara bernapas yang benar dalam mencapai back bend?
Kaminoff menampik pola pernapasan yang kerap diajarkan dalam kelas yoga yang mengharuskan murid mengambil napas dahulu sebelum back bend lalu membuang napas setelah mencapai pose. Bisa jadi setiap orang memiliki pengalaman bernapas yang berbeda. Ada sebagian orang yang lebih mudah mengawali back bend dengan membuang napas baru mempertahankannya dengan mengambil napas dalam. Karena itulah, tidak perlu mendikte cara mereka bernapas.

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s