Roy (4)

Kalau ada anak-anak tiri dalam keluarga kami itu adalah semua keturunan Wongsodjojo. Sejak Opa mendirikan Plazia, bisnis itu sudah menjadi anak kandung bagi keluarga kami. Waktu kami dari bangun tidur hingga hendak tidur didominasi oleh ambisi Opa dalam melakukan ekspansi bisnisnya. Tidak ada pilihan. Kami – anak dan cucu-cucunya – harus turun tangan karena ia tidak mau bisnis ini dikerjakan sepenuhnya oleh profesional sewaan. Mereka bisa berkhianat padanya, sementara kami darah dagingnya tidak. Begitulah alasan Opa mengajak kami dalam menjalankan Plazia yang kini sudah mencapai 4 dekade. Usiaku hanya separuhnya lebih sedikit.

Dalam setiap wawancara di media, Opa dan Papa selalu berkata,”Keluarga adalah segalanya.” Betul sekali. Karena ia menganggap ini semua di atas kami keluarganya. Opa selalu dielu-elukan media massa. Ia memiliki kredibilitas yang tinggi dalam sepanjang masa kerjanya sebagai pebisnis ulung spesialis pembangun pusat perbelanjaan.

Saat Opa masih muda, ceritanya padaku suatu malam saat aku masih SMP, ambisinya begitu besar untuk menjadi lebih sejahtera. Sejahtera itu maksudnya kaya raya. Mengalami kepahitan hidup di zaman kolonial, Opa hanya bisa memiliki mimpi untuk tidak mati berkalang kemiskinan. Ia melihat kakek buyut menggelepar di lantai rumah yang masih dari tanah saat ia duduk di bangku sekolah rakyat. Ayahnya keracunan makanan. Suatu siang ia masuk ke hutan untuk berburu hewan apapun yang bisa dimakan karena persediaan makanan menipis di pasar dan harganya bukan kepalang mahalnya. Kami bukan keluarga taipan atau bangsawan yang bisa membeli beras dan lauk dengan leluasa. Kakek buyut sadar berburu hewan di hutan lebih melelahkan hingga akhirnya ia memutuskan untuk mencari tumbuhan dan umbi yang bisa dimakan. Ia mendapati umbi gadung di satu sudut hutan. Besar dan menggiurkan jika nanti diolah oleh nenek buyut sehingga ia pun mencabutnya dan membawa pulang ke rumah. Nenek buyut masih berusia 17 tahun saat itu. Dengan pengalaman memasak seadanya, ia mengolah umbi gadung itu. “Sini aku cicipi dulu. Jangan-jangan tidak enak. Kalau tidak enak, kalian tidak usah makan,” kata kakek buyut pada istri dan 4 anaknya petang itu. Suasana sudah temaram karena senja mulai meraja. Dengan nenek buyut berada di sampingnya, Opa yang anak ke-empat itu mengamati ayahnya menggigit umbi gadung. Sejurus setelah itu, kakek buyut terlihat tercekik. Kami mengira ia hanya butuh air minum, tetapi ia menampakkan kesakitan yang lebih parah daripada hanya sekadar tercekik kunyahan umbi. Kakek buyut terkena racun gadung, yang ternyata belum dibersihkan secara sempurna oleh nenek buyut. Mereka semua tak berdaya, hanya bisa membantunya menepuk bahu dan punggungnya, berharap makanan beracun itu
meninggalkan tubuhnya. Terlambat. Mereka, termasuk Opa yang masih kecil itu, hanya bisa menangisi jasad kakek buyut di lantai. Kakak tertua Opa melesat ke luar rumah mencari bantuan tetapi apa daya ia datang sesaat setelah kakek buyut tak bergerak. Tabib kampung itu hanya bisa duduk dan memeriksa denyut nadinya kemudian menggeleng lemah,”Maaf, sudah tidak terselamatkan.” Nenek buyut tidak mau percaya begitu saja. Ia menjerit menyadari umbi itu mengambil nyawa suaminya. Ia mengerang beberapa saat karena kejadian itu berlangsung tiba-tiba. Ia memeluk jenazah kakek buyut lalu sekonyong-konyong beranjak ke tengah ruangan. Anak-anaknya mengamati gerak-geriknya sambil masih bersimpuh di sekitar jasad sang ayah. Si tabib sudah pergi, ia menyebarkan berita kematian itu ke penghuni kampung. Tangan nenek buyut meraih wadah umbi tadi dan kemudian membuangnya dengan kasar ke luar rumah. “Kalian jangan makan itu lagi. Ingat ya, jangan sentuh apalagi makan umbi seperti itu lagi,”kata nenek buyut lirih pada keempat anak-anaknya. Ia melingkarkan kedua tangannya yang kurus akibat kurang makan seperti jutaan orang pribumi di zaman pendudukan Jepang saat itu ke empat anak-anaknya lalu memeluk mereka erat-erat. Dari pelukan itu ia mendapatkan kehangatan dan energi hidup. Sangat berbeda dari pelukan terakhir yang ia berikan pada sang suami, yang dingin dan kosong. Tidak ada nyawa di dalamnya. Anak-anaknya berbeda. Mereka masih berdetak jantungnya, masih bernapas dan terisak mengikutinya.

Begitu suaminya disemayamkan di pemakaman kampung yang makin dipenuhi jenazah korban kelaparan itu esok harinya, nenek buyut memutuskan keempat anak-anaknya sebagai cinta dan masa depannya. Tidak ada lagi tempat untuk cinta lain, pria lain yang bisa menggantikan sang suami. Hidup tidak pernah mudah bagi orang tua tunggal, baik dulu maupun sekarang. Dan nenek buyut bersikukuh untuk tetap menjanda di sisa hidupnya. “Aku takut kalian nanti diperlakukan semena-mena kalau aku kawin dengan pria lain. Mungkin ia baik dengan kalian saat aku ada, tapi siapa bisa menjamin akan begitu kalau aku tidak bersama kalian? Kalaupun ia benar-benar baik dengan kalian, apakah anak-anaknya dan keluarganya juga begitu pada kalian? Ibu tidak yakin, nak,”jelas nenek buyut saat kakak sulung Opa menyampaikan kabar ada seorang duda di kampung itu yang tertarik meminangnya. Ia tahu ia hanya bisa menikah dengan duda. Meskipun paras dan tampilannya lumayan menawan untuk ukuran perempuan yang sudah tak lagi perawan, anaknya sudah banyak. Ia bukan janda kembang yang lebih bebas menerima pinangan pria manapun yang berminat. Namun, ia sudah berniat menutup semua pintu kemungkinan itu. Tak akan ada lagi suami baru. Titik. Bahkan jika itu adalah permintaan anak-anaknya.

Pernah suatu kali, seorang pria yang ditinggal pergi istrinya mencoba merebut hati anak-anaknya. Ia sukses menciptakan imaji positif sebagai ayah pengganti yang baik bagi 4 anak laki-laki itu. Dari sekolah, pria itu mengantar mereka ke rumah dengan truk tentara. Ia memang ditugasi menjaga truk itu. Seperti mendiang suaminya, sang pria juga tentara. Nenek buyut berkata dulu saat suaminya masih hidup mereka pernah menyinggung tentang orang yang akan menjaga nenek buyut jika kakek buyut tak bisa lagi bersamanya. Nenek buyut
bersungut-sungut dengan perkataan suaminya yang ia pikir mengada-ada. Ia menegaskan ia tidak akan semudah itu beralih ke lain hati meski kakek buyut meninggalkan dunia ini sekalipun. Dan nenek buyut berhasil menepati janji itu seumur hidupnya. Hingga akhir hayatnya di usia 90, ia bangga bisa menemui suaminya dalam kondisi setia.

Dibesarkan dalam kondisi penuh keprihatinan sejak kecil, Opa ingin membahagiakan ibunya dengan tidak pernah berhenti bermimpi menjadi orang yang lebih kaya.

Opa pernah bercerita bahwa dirinya banyak belajar ketangguhan dalam menjalani hidup dari sang ibu. Menemani nenek buyut berjualan di pasar membuat Opa akrab dengan suasana jual beli. Ia kerap menyaksikan orang bersilat lidah demi mendapatkan harga terbaik dalam setiap transaksi perdagangan, dari seikat kangkung yang dibutuhkan untuk mengusir lapar hingga 10 gram emas dalam perhiasan pusaka keluarga yang terpaksa dijual demi kebutuhan pendidikan.

Opa tidak suka dengan sekolah. Bukan berarti ia bodoh. Ia lebih suka belajar sendiri. “Prodigy”, begitu kata orang manca menyebutnya. Dibandingkan kakak-kakaknya, ia memang berotak lebih encer. Ia bisa lulus dari sekolah rakyat lebih cepat. Hanya satu yang ia dambakan, membuat sang ibu tidak malu dan ayahnya di atas sana bangga. Di usia 16 tahun, ia masuk kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri kenamaan. Saat itu dosen-dosennya bahkan masih didatangkan dari Belanda. Sambil berbisnis kecil-kecilan, Opa berhasil menyelesaikan pendidikan tingginya di usia 20 tahun. Bukan suatu pencapaian biasa kala itu.Tampak mudah saat ia menceritakan saat ini tetapi pada
kenyataannya ia kerap harus berjuang keras mengasah otak untuk menutup biaya hidup dan uang kuliah yang selangit. Dari pulang kuliah di petang hari, Opa muda masih harus berkemas bekerja hingga larut memenuhi permintaan pelanggan di pasar. Ia berjualan apapun, dari kain hingga sabun mandi untuk bisa mendapatkan uang demi menyambung hidup. Dalam kondisi yang belum mapan sama sekali itu, Opa menikahi Oma yang juga kuliah di kampus yang sama. Oma perempuan yang ulet bekerja juga. Ia bukan perempuan yang suka menonjolkan diri sehingga apapun yang ia lakukan sebagai seorang istri, ia atasnamakan sang suami.

Selama usia 20-an, Opa melanglang buana di kota-kota besar di negeri ini. Dari Jakarta sampai Surabaya, ia pernah sambangi. Semua demi menemui kolega bisnis.

Kepribadian Opa yang periang dan supel serta mampu membujuk orang untuk melakukan apa yang ia mau secara sukarela memang sebuah pesona. Ini juga yang membuat Oma jatuh cinta rupanya. Opa mampu menaklukkan hati bukan hanya wanita yang ia sukai tetapi juga orang tua wanita itu, yang tidak menyukainya pada awalnya. Mereka pernah berencana kawin lari tetapi Opa meyakinkan tindakan itu tidak perlu. Orang tua Oma hanya ingin menantu seorang dokter, karena mereka dokter juga. Opa yang ‘hanya’ lulusan jurusan ekonomi pun memutar otak. Dengan kecerdasannya itu, ia berhasil meyakinkan mereka bahwa ia juga memiliki pengetahuan tentang kedokteran. Ia berburu buku kedokteran di pasar buku Kwitang, dan membacanya di sela-sela kegiatan berniaganya. Buku-buku itu tebal dan memiliki penjelasan yang kompleks. Bersama Oma, mereka mendiskusikan isi buku itu saat berkencan. Oma juga seorang dokter tetapi ia memutuskan tidak akan membuka praktik. Tanggung jawabnya terlalu besar, katanya. Selesai melahap buku-buku itu, ia seperti anak yang siap menjalani ujian akhir. Opa menemui orang tua Oma dan meyakinkan bahwa dirinya juga seorang dokter, hanya saja ia berkata ijazahnya hanyut tenggelam kala rumah kontrakannya terendam banjir. Tak percaya begitu saja, kedua orang tua Oma mengajaknya bertanya jawab mengenai masalah medis. Dan Opa berhasil meyakinkan mereka di akhir diskusi bahwa dirinya pernah mengenyam pendidikan kedokteran formal. “Kamu jebolan mana?” tanya ayah Oma ingin tahu lebih lanjut. “Saya hanya punya satu dosen, pak,”tukas Opa. “Oh ya, siapa dosen hebat itu?” ujarnya. Opa berkata tenang sambil melirik Oma,”Dia…”

Oma akhirnya panjang lebar menceritakan betapa kerasnya tekad Opa untuk meminangnya. Termasuk di dalamnya ialah bagaimana Opa
menghabiskan banyak waktu untuk membaca dan berdiskusi mengenai topik-topik dalam buku yang baru saja ia lahap.

Dahi ayah Oma mengernyit. Ia tak percaya lalu melontarkan satu pertanyaan lagi pada Opa yang terlihat tenang dan siaga. Pertarungan belum selesai, batinnya.

“Apakah kamu bersumpah akan siap menjaganya bahkan hingga kami orang tuanya tidak lagi ada?”

Opa mengangguk. “Meski saya bukan dokter, saya berjanji akan membangun sebuah rumah sakit dengan nama om dan tante nantinya.”

1 Comment

Filed under fiction

One response to “Roy (4)

  1. uci duck himura

    so sweet bingits opa and oma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s