Mendikbud Anies Baswedan Libatkan Komunitas dengan #KetokPintu

Ruangan itu masih agak lengang saat saya datang. Sepuluh menit sebelum acara dimulai sebagian sudah datang di kompleks kantor pusat Kemendikbud RI di Sudirman, gedung A lantai 3. Beberapa orang berkerumun dan bercakap-cakap. Terlihat akrab dan hangat. Beberapa wajah saya telah kenal di media dan jejaring sosial, seperti Renee Suhardono yang mengundang komunitas Yoga Gembira kami ke acara ini, Ligwina Hananto sang perencana keuangan yang terlibat pembicaraan intens, Michael R. Tampi dari Kinara, Ainun Chomsun dari Akademi Berbagi dan lain-lain. Wajah mereka ada yang tampak familiar karena inilah orang-orang yang menggerakkan roda komunitas di berbagai daerah.

Beginilah yang terjadi saat seorang akademisi profesional sekaligus pegiat komunitas sejati menjadi seorang pejabat negara. Tepat pukul dua siang, seperti yang dijanjikan, Anies Baswedan tiba. Kami semua berdiri untuk menyambutnya, dan tak disangka ia menyalami kami semua di ruangan itu. Pakaiannya sederhana. Saya tahu ada orang-orang di dalam ruangan ini yang harga pakaiannya jauh lebih mahal dari kemeja bergaris tanpa dasi dan celana panjang hitam yang Anies pakai. Pria yang kini menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI itu mengundang kami – perwakilan para komunitas – dan mengajak bergotong royong menyumbangkan ide dalam pemecahan masalah-masalah bersama di masyarakat di Kantor Mendikbud tadi siang.

Saya bertemu Anies Baswedan pertama kali dua tahun lalu. Saat itu ia tampil dalam acara berbagi “Indonesia Mengajar”, gerakan pengiriman guru-guru ke daerah terpencil yang ia pimpin dengan sukses. Apresiasi datang dari mana-mana. Pengikutnya anak-anak cerdas lulusan berbagai kampus kenamaan yang terpanggil berbagi ilmu dan semangat pendidikan dengan anak-anak SD di berbagai desa di Indonesia.

Anies Baswedan yang kali ini kami hadapi masih orang yang sama. Namun, tentu saja kapasitas dan tanggung jawabnya sudah berbeda. Ia orang nomor satu dalam bidang pendidikan di negeri yang konon memiliki tingkat kualitas SDM yang tidak semembanggakan jumlah populasinya. Benar Indonesia negara besar, tetapi dalam hal pendidikan, ia ‘keok’.

Saya mengajak Yudhi Widdyantoro, penggagas Komunitas Yoga Gembira Taman Suropati, dan Bathara dari Komunitas Hidden Park untuk maju ke bangku deretan depan. “Toh bukan untuk undangan VIP,” kata saya optimis. Saya paling gerah kalau ada dalam acara yang kursi depannya masih kosong sementara di belakang penuh sekali. Seperti anak-anak mahasiswa saja yang takut dosen mereka. Atau seperti para abdi dalem di keraton. Mereka yang dianggap sepuh atau berjabatan tinggi – tak peduli terlambat sekalipun – harus diberi tempat di depan. Ini mental feodal! Dan Anies menunjukkan secara nyata bahwa ia tidak mau cara pikir yang sama berlaku di ruangan itu. Ia tidak meminta kursi paling depan, bahkan ia sukarela duduk di deretan kursi belakang saya. Tidak bisa disangkal, ia lebih egaliter dari para pejabat yang saya pernah temui. Bayangkan saja, Anda menteri sekaligus si empunya rumah tetapi Anda tidak keberatan ada di bangku kedua di perhelatan yang Anda adakan. Satu revolusi mental kecil yang nyata, menurut hemat saya.

Beberapa sosok terkemuka dari komunitas dihadirkan di depan. Ainun Chomsun hadir pertama memperkenalkan komunitasnya, kemudian diikuti Yudi yang menggagas gerakan kembali ke museum, Presdir NutriFood Mardi Wu, Iman si pembicara muda dan pendiri ruangguru.com, dan lain-lain.

Sebagai anak dari orang tua yang berprofesi dalam bidang pendidikan, saya baru sadar saya berada di sebuah institusi kenegaraan yang harus saya hormati. Harus saya akui, saya tidak mudah memberikan penghormatan, apalagi tanpa alasan yang jelas. Anies mengingatkan saya akan hal itu saat berkata,”Kita bisa berdiri di sana karena kebijakan yang dibuat di kantor ini. Karena itu kita semua bisa seperti sekarang ini.” Ah, ia betul! Bagaimana saya bisa menjadi dosen ‘aspal’ dulu dan menjadi reporter seperti sekarang kalau tidak berbekal ijazah yang diterbitkan lembaga ini. Mana mau perusahaan melirik seorang pelamar tanpa ijazah formal di situs lowongan kerja? Ibu saya juga menjadi salah satu guru penerima sertifikasi, yang keputusannya juga diproses di institusi ini. Jadi saya baru ingat betapa agungnya gedung itu dan betapa beruntungnya saya karena sudah bisa mengenyam pendidikan sejauh ini karena saya tahu di luar sana ada begitu banyak orang yang menganggap pendidikan tinggi impian abadi semata. Akses mereka menuju tingkat kesejahteraan yang lebih baik terblokir akibat pendidikan yang kurang memadai.

“Hari ini kita kumpul bersama, untuk saling melihat dan membayangkan Indonesia di masa depan,”seru Anies. Dengan menghadirkan komunitas-komunitas, Anies tampaknya ingin memanen ide-ide kreatif dan inovatif – yang tidak banyak dimiliki staf kementeriannya – kemudian berupaya memberikan jalur birokrasi yang terarah dan terorganisir dengan baik agar lebih efektif dan berdampak lebih luas serta dapat lebih dipertanggungjawabkan pengelolaannya. Komunitas kaya ide-ide dan pengalaman, sementara lembaganya miskin ide. Tetapi di sisi lain, komunitas kurang dalam hal manajemen dan sistematisasi serta skala program, sementara kementeriannya lebih bertenaga dalam hal anggaran, jangkauan dan kewenangan. Anies ingin menggabungkan kelebihan kedua entitas ini demi kemaslahatan bangsa.

“[Acara ini mengenai] tidak hanya bagaimana membangun program tetapi juga bagaimana memfasilitasi keterlibatan atau engagement. Kalau tidak salah ada 31 komunitas yang kumpul,”ucap Anies. Anies yakin tanpa atau bersama dengan kementeriannya, para komunitas ini tetap akan memajukan pendidikan di Indonesia. Ucapannya memicu tepuk tangan hadirin.

Anies menyindir sejumlah oknum yang berdalih “memajukan pendidikan”. Namun, ternyata hanya ingin menikmati anggaran pendidikan, tukasnya lugas. Sementara itu, ironisnya para komunitas tidak mengemis bagian dari APBN. “Bila yang satu siap dengan sumber daya, yang satu siap dengan ide, jika dijalankan sebagai satu gerakan, akan berdampak yang besar.”

Anies menekankan komunitas-komunitas juga perlu memahami prosedur operasional standar agar lebih teratur dan bisa mempertanggungjawabkan pemanfaatan sumber daya yang diterima. “[Karena] negeri ini memerlukan tata tertib, tata kelola yang baik,”ia beralasan.

“Saya lebih suka dengan volunteerism. Kalau dapat perintah, lebih suka ketika berhasil melanggarnya,”Anies berkata lagi. Saya mengangguk-angguk saja. Saya paham sekali pesan intinya karena saya juga begitu. Segan diperintah, enggan didikte, tetapi begitu dibebaskan, akan bekerja sendiri.

Anies menekankan agar diskusi curah gagasan kami bertujuan untuk menemukan persamaan, bukan perbedaan. Sebuah cara pandang yang bijak, apalagi dari dua dunia yang berbeda, yang jika membahas perbedaan akan tidak ada habisnya. Dengan memilih menemukan persamaan, kita akan lebih mampu bersikap optimis.

Anies juga menyinggung sedikit mengenai pemberitaan akhir-akhir ini mengenai kontroversi usulan doa di kelas. Ia sebenarnya mengusulkan tidak hanya berdoa tetapi juga diikuti dengan bernyanyi lagu-lagu yang mencerminkan semangat cinta tanah air dan lagu daerah sebelum memulai kegiatan belajar.

Band Ten To Five yang digemari sekali oleh Rahma, sahabat saya di universitas dulu juga hadir menyemarakkan acara. Mereka melantunkan aransemen apik lagu daerah dari Jawa yang konon digubah Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Karena ruangan ini dipenuhi dengan orang-orang kreatif, kegiatan di dalamnya juga sama sekali tidak lazim. Kami semua – termasuk Anies – harus pasrah Tulus Wibawanto dari 21 Steps mengajak kami menggerakkan badan. Entah apa yang dipikirkan Anies saat ia bersama seisi ruangan harus meniru gerakan-gerakan konyol yang dicontohkan Tulus. Ia mewajibkan jari jemari kami ‘ngetril’ seperti bencong sambil sedikit berjongkok, lalu menggoyang pinggul secara atraktif dengan kedua tangan di belakang kepala sembari diiringi lagi “I Feel Good.” Saya menyesal tidak berpaling ke belakang dan mengambil foto Anies saat ia meniru semua kegilaan tadi.

Tibalah acara intinya, sebuah sesi curah gagasan (brainstorming) yang dibagi dalam beberapa kelompok seperti kesehatan, pendidikan, wirausaha, dan lain-lain. Kami bertemu dengan sejumlah komunitas lainnya yang ikut berfokus di bidang kesehatan seperti Komunitas Sobat Diabet, Komnas Pengendalian Tembakau dan Good Life Society. Sederhananya, kami dipersilakan memberikan pandangan singkat mengenai masalah-masalah dalam kesehatan yang masih perlu dipecahkan dan juga memberikan usulan solusinya.

Sebagai komunitas, kami sadar sepenuhnya bahwa ini tidak akan mendatangkan keuntungan komersial instan – jikalau memang ada. Tetapi bahkan kami pun tidak sepatutnya mengharapkan hal semacam itu, karena dari ekspektasi akan datang kekecewaan. Dan karena hanya berlandaskan kesukarelaan dalam bekerja, komunitas pun bersifat sangat cair. Hal ini terlihat dari jumlah peserta acara, yang tadinya banyak sekali kemudian berkurang begitu sesi curah gagasan selesai. Ada sebagian yang cuma mampir. “Tetapi terima kasih untuk semua yang tinggal, karena Anda semua volunteer sejati…,”Anies mengapresiasi.

IMG_5013.JPG

IMG_5014.JPG

Leave a comment

Filed under health, save our nation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s