Perbedaan New Journalism dan Investigative Journalism

Sebelum membandingkan keduanya, ada baiknya mencari tahu makna masing-masing istilah. Dijelaskan dalam britannica.com, New Journalism merupakan sebuah gerakan sastra Amerika di tahun 1960-an dan 1970-an yang mendorong pembentukan batas-batas baru dalam lingkup jurnalisme tradisional dan penulisan nonfiksi. Aliran tersebut menggabungkan riset jurnalisme dengan teknik-teknik penulisan fiksi dalam pelaporan berita mengenai kejadian nyata. Sejumlah tokoh yang dianggap berperan sebagai pionirnya ialah Tom Wolfe, Truman Capote dan Gay Talese.

Dalam aliran New Journalism (selanjutnya disebut NJ), seorang penulis diharapkan ‘menenggelamkan diri’ dalam subjek yang ditulisnya. Bahkan jika perlu hidup di dalamnya sambil mengumpulkan fakta dan melakukan riset mendalam dalam bentuk wawancara dan pengamatan langsung. Maka dari itu, tulisan yang menerapkan aliran ini akan sangat berbeda dari artikel-artikel jurnalisme konvensional di surat kabar besar. Kita bisa menemukan gaya jurnalisme ini di laman GQ.com, New York Herald Tribune, majalah Esquire, The New Yorker dan sejumlah majalah terkemuka lainnya di AS.

Ciri lain yang menonjol ialah saat mewawancarai tokoh, misalnya, wartawan memposisikan diri sebagai lawan bicara yang setara. DI dalam tulisan, wartawan memberikan berbagai deskripsi yang apik mengenai karakter si tokoh secara lengkap dalam penyajian detil-detil remeh namun humanis. Bahkan detil kejadian yang sebenarnya bukan mengenai tokoh itu pun, jika akan memberikan latar belakang yang komplit mengenai jati diri si tokoh, akan disertakan tanpa ragu. Hasilnya Anda akan membaca sebuah tulisan yang panjang, tampak bertele-tele tetapi menghibur, seolah membaca sebuah surat pribadi yang ditujukan hanya untuk Anda dari seorang teman. Sangat personal. Dari sinilah, kita bisa memahami bahwa anggaran untuk menulis sebuah artikel dalam aliran NJ sungguh besar dan waktunya relatif lebih lama. Teman-teman subjek itu

Sementara itu, Investigative Journalism (selanjutnya disebut IJ) memiliki makna yang kurang lebih adalah sebuah proses jurnalisme yang bercirikan adanya pendekatan yang kritis, subjek yang penting, inisiatif sendiri, riset mandiri, analisis mandiri dan eksklusivitas, demikian jelas jurnalis Nil Hanson dalam bukunya Grävande Journalistik (sumber di sini). Menurut asosiasi Investigative Journalism VVOJ, IJ merupakan jurnalisme yang mendetil (thorough) dan kritis. Kritis berarti jurnalis tak hanya menyajikan berita yang sudah ada. Jurnalis harus berjuang untuk menciptakan berita yang seandainya ia berpangku tangan tidak akan bisa muncul. Bentuknya bisa penciptaan atau penemuan fakta baru atau reinterpretasi atau korelasi fakta yang sudah ada dan beredar luas. Mendetil artinya seseorang membuat upaya besar dalam hal kuantitatif (dalam bentuk riset, berkonsultasi dengan banyak sumber, dan sebagainya) atau kualitatif (formulasi pertanyaan baru, penggunaan pendekatan baru, dan lain-lain). Ada 3 jenis IJ: penyibakan skandal, ulasan kebijakan atau fungsi pemerintahan, perusahaan dan lembaga lain, dan menarik perhatian publik pada masalah-masalah sosial, ekonomi, politik dan budaya.

Keduanya memiliki perbedaan mendasar dalam hal metode reportorial dan tujuan penulisan. Dalam UNESCO Global Casebook, Mark Lee Hunter menyatakan bahwa inti NJ adalah pengamatan yang lekat. Reporter dalam pendekatan NJ dibolehkan memberikan interpretasi pribadi mereka atau reaksi personal mereka terhadap isu yang ditulis. Anda bisa menemukan ini dalam karya Hunter S. Thompson. Alih-alih menggunakan sumber lain untuk mengatakan sesuatu untuk ditulis, reporter bisa menuliskan pendapatnya sendiri. Seorang pewarta bisa berimajinasi dan
bermain-main dengan kata-katanya untuk memperindah dan memperkaya tulisan. Kelemahannya pemikiran reporter bisa dianggap ‘mencemari’ subjek tulisan yang sebetulnya. Di sinilah bedanya IJ dan NJ. IJ tidak memperbolehkan ‘keliaran’ semacam ini merasuk dalam tulisan. Singkatnya, kata Hunter, si penulis bukan yang terpenting. Subjeklah yang lebih krusial dan pantas mendapat sorotan lebih banyak.

IJ tidak menggunakan pendekatan pengamatan tetapi invasif, menyerang. Jurnalis harus proaktif, tidak menunggu dan duduk mengamati hingga bahan berita itu terbuka secara otomatis tetapi ia harus mau bekerja keras membukanya. Ia harus mau turun ke lapangan, “memungut artefak dan menganalisisnya”, kata Hunter.

Tujuan IJ dan NJ juga berbeda. NJ ingin agar para pembacanya menyaksikan dunia dalam sebuah perspektif baru. Sementara IJ ingin mendorong para pembacanya untuk bertindak dalam cara yang baru.

Leave a comment

Filed under journalism

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s