Menjajal Layanan Uber di Jakarta (1)

Sebuah brand yang unggul tidak selalu disambut baik semua pihak. Makin berada di atas angin, sebuah brand juga bisa mendapatkan makin banyak sambutan dan ‘sambitan’ (kritik -red). Demikian juga dengan layanan transportasi mobil pribadi mirip taksi, Uber, yang digagas Travis Kalanick. Jika Anda mengikuti perkembangan Uber di negeri Paman Sam dan negeri-negeri lain, Anda mungkin tahu maksud saya.

Terlepas dari semua itu, sejak pertengahan tahun ini, Uber memang sudah memulai layanannya di Jakarta. Dan meskipun sudah ada rentang waktu sekitar 4 bulan sejak Agustus 2014, Uber belum banyak dikenal warga Jakarta terutama daerah niaga dan bisnis di Sudirman Central Business District (SCBD), area yang menjadi tempat beroperasinya layanan ini.

Putik (bukan nama asli) adalah salah satunya. Saat saya menyebut layanan Uber, ia memicingkan mata sambil bertanya,”Apa itu?” Putik tipikal generasi millenial, yang masih muda (pertengahan 20-an), kelas menengah, dan melek teknologi. Di tangannya tergenggam smartphone terkini. Akan tetapi, ia lebih memilih taksi burung biru yang menjadi penguasa pasar di Jakarta. Maklum, ia menggunakan voucher taksi dari kantornya. Dengan menggunakan Uber yang biayanya dibebankan secara otomatis ke kartu kredit, Putik akan kesulitan meminta reimburse (penebusan biaya) dari kantor. Dalam kasus Putik, voucher taksi yang biasa diberikan berbagai korporasi bagi karyawan yang bertugas menjadi solusi yang memudahkan, karena karyawan tak perlu menyediakan uang tunai. Perusahaan akan membayarkan ongkos yang tertera di voucher yang bisa ditulis tangan.

Hari itu saya teringat dengan Uber dan memutuskan mencoba layanannya. Setelah sekian lama, saya baru mencobanya, karena seperti Putik, saya masih memiliki banyak moda transportasi alternatif. Ada ojek, lalu juga ada layanan taksi burung biru yang juga bekerjasama dengan perusahaan tempat saya bekerja. Saya memang memilih tidak membeli kendaraan bermotor apapun di Jakarta. Saya bukan tipe orang yang banyak berkelana, apalagi jika tidak ada agenda yang jelas. Ditambah dengan kacaunya jalan-jalan Jakarta yang menjadi sumber frustrasi jutaan orang dan keengganan saya menghabiskan waktu senggang untuk mencuci dan merawat seonggok benda dari logam (lebih baik saya membaca buku, menulis dan bersantai), saya lebih memilih menggunakan moda transportasi umum yang meski lebih mahal tetapi membebaskan saya dari kewajiban-kewajiban penguras waktu dan energi seperti mengurus BPKB, STNK, SIM, atau ketakutan-ketakutan saat dihadang polisi lalin, sakit kepala saat kemacetan yang mendera. Saya relatif bisa bebas dari semua itu.

Saya juga bukan bagian dari banyak orang di Jakarta yang memilih mencicil kendaraan bermotor demi ‘kenyamanan dan kecepatan’. Dalam satu kesempatan, Dahlan Iskan pernah berteori mengenai revolusi sepeda motor yang menurutnya mampu menyejajarkan kalangan menengah bawah dengan mereka yang lebih kaya raya dalam hal kecepatan mobilisasi berkegiatan. Inilah suatu era saat masyarakat bawah bisa sama cepatnya dengan mereka yang berada di atas, kata Dahlan. Ia juga mengajukan hipotesis mengenai alasan mengapa angka penjualan sepeda motor makin melonjak pasca kenaikan BBM (yang tentu diiringi naiknya konsumsi BBM). Karena dengan biaya transportasi umum yang relatif makin mahal, seseorang sudah bisa menggunakan anggaran transportasi umumnya itu untuk mencicil kendaraan bermotor roda dua! “Dengan uang Rp700.000 untuk biaya angkot, saya bisa langsung ambil sepeda motor dan mencicilnya Rp600.000 sebulan dalam waktu tiga tahun, sepeda motor itu menjadi milik saya. Sementara yang naik angkot, tetap saja naik angkot. Yang mencicil sepeda motor dalam waktu 3 tahun sudah punya sepeda motor yang nilainya paling tidak Rp12 juta. Dia punya aset! Yang naik angkot tidak [punya aset – pen],”terang mantan menteri BUMN era SBY itu panjang lebar. Saya sepakat untuk tidak sepakat. Dengan kata lain, saya sepakat itu benar, tetapi saya lebih memilih alternatif pembelian aset selain kendaraan bermotor, yang tidak sesuai dengan selera dan gaya hidup saya saat ini. Entah nanti. Namun, mengingat saya lebih cenderung ke gerakan penekanan dampak pemanasan global, saya akan berpikir dan menimbang lebih panjang saat harus membeli kendaraan bermotor.

Karena itulah, Uber memiliki peran dalam memperkaya pilihan moda transportasi bagi orang-orang kelas menengah bahkan bawah sekalipun seperti saya yang belum memiliki hasrat membeli kendaraan bermotor dan lebih memilih kenyamanan (sangat nyaman bahkan karena mobil-mobil Uber biasanya kendaraan pribadi mewah) serta aspek kepraktisan dalam mobilisasi sehari-hari tanpa direpotkan dengan tanggung jawab sebagai pemilik kendaraan yang kerap cemas di tengah digelarnya operasi Zebra atau Lilin.

Saya pun memutuskan mengunduh aplikasinya di iPhone. Untuk menggunakan Uber, saya harus memasukkan nomor kartu kredit. Saya mencoba memasukkan nomor kartu debit saya karena alasan iseng semata. Dan ditolak oleh server Uber. Akhirnya, saya masukkan juga nomor kartu kredit Bank Mandiri saya. Diterima seketika itu juga. Kemudian seperti aplikasi mobile lain, saya juga harus memverifikasi nomor ponsel agar komunikasi suara dan teks (SMS) lebih lancar dengan sang sopir sewaan. Masukkan kode verifikasi yang berupa 4 digit angka itu dan Anda siap menggunakan layanan Uber.

Siangnya saya hendak menuju kawasan Sudirman. Saya harus tiba pukul 2 di sebuah tempat. Pukul 1 kurang 10 menit, saya mencoba memesan kendaraan dari Uber dulu. Saya buka aplikasi dan mulai menentukan “pickup location” (lokasi penjemputan) kemudian juga “destination” (tujuan). Dari penentuan itu, kemudian Uber akan mengeluarkan estimasi atau taksiran biaya transportasi. Dalam pemesanan saya ini, taksirannya Rp30.000 sampai Rp34.000. Di bawahnya, Uber menyertakan sangkalan (disclaimer) “Fares may vary due to traffic, weather, and other factors. Estimate does not include discounts or promotions.” Saya ‘tap’ layar di tombol “call UberBlack” tetapi muncul notifikasi “Sorry for the delay. We had some trouble connecting, but should have you moving shortly. Try again or sign out.” Apakah ini karena masalah jaringan Internet yang lambat? Saya kurang tahu. Yang pasti ini agak sering terjadi tetapi bukan masalah besar.

Sebuah ikon mobil berwarna hitam tertampil di aplikasi Uber, menandakan ada satu mobil armada mereka yang sudah siap siaga menjemput saya. Ada juga estimasi waktu mencapai titik lokasi penjemputan. Nama dan foto wajah si sopir itu pun tertampil di bawah. Namanya Bara Priadi, mobil yang ia kendarai Mercedes-Benz S-Class. Rata-rata bintang yang sudah ia kantongi 4,7. Di Uber, setiap pengemudi memang diberikan skor kualitas layanan. Jangan sampai sopir mendapatkan bintang 1 atau 2. Minimal 3. Lebih baik lagi 4 atau bahkan 5. Kalau tidak, mereka harus siap diskors 7 hari dari pekerjaannya.

Sejurus seseorang dengan nomor telepon asing menghubungi saya. Saya angkat. Rupanya Bara, katanya,”Pak, maaf saya baru saja mau makan siang. Bagaimana kalau bapak minta yang lain dulu?” Saya jawab,”Baiklah.” Saya maklum karena saya sendiri saat dihubungi juga sedang memasukkan beberapa suapan terakhir dari soto ayam yang saya pesan.

Kemudian saya memanggil mobil lainnya. Saya mendapati pengemudi lain bernama Kamid, yang masih 9 menit dari lokasi saya berada. Ia menggunakan Toyota Innova. Memang tidak semewah yang sebelumnya tetapi bukan masalah bagi saya. Kamid memiliki rata-rata perolehan bintang yang lebih baik, yaitu 5. Bagaimana bisa sesempurna itu? Saya tahu jawabannya kemudian setelah turun dari mobil itu.

Kamid menelepon saya setelah saya selesai bersantap siang dan berdiri di dekat jalan. Sebelumnya ia menelepon meminta arahan lokasi. Dalam beberapa menit, saya mendapati seseorang dengan mobil Toyota Innova dan wajah yang mirip dengan foto tadi. Ia menebak-nebak, karena saya belum mengunggah foto ke profil Uber saya. Ia masih ragu hingga saya memastikan bahwa sayalah yang memesan mobilnya.

Masuklah saya dan dimulailah perjalanan selama 20 menit dari Karet Pedurenan hingga ke Sudirman. Bukan jarak yang begitu jauh. Dekat saja. Tetapi karena cuaca begitu panas, rasanya akan lebih nyaman duduk di mobil berpendingin udara daripada angkot dan bus Kopaja yang gerahnya buka  kepalang.

Kamid seorang pria berkeluarga yang berusia 32 tahun bulan depan. Setelah saya masuk, ia menepi dari bahu jalan. Di dasbornya, terlihat sebuah iPhone hitam, dan di layar aplikasi Ubernya terlihat nama saya. Ia mengecas smartphone tersebut, yang ternyata bukan miliknya. Itu fasilitas Uber, kata Kamid. Ponselnya sendiri – yang ia simpan di antara kedua pahanya – tidak semahal itu.  Ia mungkin tidak tahu risiko infertilitas yang dipicu sinyal radio jika meletakkan ponsel sedekat itu dengan bagian tubuh yang vital tetapi bukan masalah, karena toh ia sudah punya 1 anak.

Tidak seperti taksi burung biru, mobil layanan Uber adalah mobil pribadi. Sopirnya tak memakai seragam. Mereka juga tidak menggunakan alat komunikasi radio dengan operator yang memberitahu jika ada pelanggan. GPS tak ada, hanya smartphone yang memandu mereka.

“Tadi dari selatan ya, pak?” saya membuka percakapan karena saya melihatnya dari jl. HR Rasuna Said. Ia menjawab dengan ramah,”Iya tadi kebetulan dari sana macet. Lagi keliling-keliling aja.”  Saya duduk di bangku depan di sebelah kirinya. Saya hendak duduk di belakang tetapi mengurungkan niat karena saya ingin bercakap-cakap.

“Biasanya kerja apa, pak?” tanya saya lagi.

“Saya sopir ekspedisi, pak.”

“Ini lagi libur atau bagaimana?” saya ingin tahu. Di benak saya, Kamid adalah pemilik mobil ini. Atau penyewa setidaknya, kemudian ia mendaftarkan diri ke Uber. Begitu asumsi saya. Saya salah.

“Nggak, pak. Ini sudah habis kontrak dan ada pengurangan karyawan dan armada. Yang dicari yang punya SIM B1 umum.”

“Oh, bapak nggak punya ya?”

“Kalau saya B1 polos, pak.”

Saya bertanya-tanya arti B1 polos dalam hati. Saat masuk rupanya mereka tidak mewajibkan SIM B1 umum, setelah mereka tahu pajak untuk SIM B1 umum dikenai pajak lebih murah dari yang ‘preman’ jadi diutamakan yang umum. “Jadi plat mobil yang sekarang ya plat mobil kuning semua,”terangnya. Saya mencoba mencerna makna ‘preman’ tadi. Apakah itu artinya membuat SIM dengan cara ‘nembak’ alias instan dengan cara menghubungi oknum dalam agar lebih cepat? Saya ingat dengan penuturan suami dan anak ibu kos saya yang membuat SIM C lebih cepat. Dua SIM cukup bayar Rp1,2 juta. Masing-masing Rp600 ribu. Untuk prosedur biasa bisa memakan waktu 6 bulan katanya tetapi harganya jauh lebih murah, sekitar seperempat tarif pembuatan instan. Tidak ada ruang untuk yang ingin cepat tetapi taat hukum dan aturan. Hanya ada dua: cepat tetapi ‘melanggar’ prosedur, atau lambat tetapi taat prosedur. Uang menentukan prioritas layanan. Seperti bank yang memberikan layanan prima bagi nasabah prioritasnya. Tetapi masalahnya, ini layanan publik, bukan komersial.

“Tahu dari mana Uber ini?” tanya saya.

“Dari teman. Dari Internet juga. Ya, cari-cari, pak. Ya namanya lowongan kerja. Yang penting bisa kerja gitu, pak,” ungkapnya.

Kamid tidak segan berbagi bagaimana ia bisa menjadi pengemudi Uber. Jika di negeri asalnya para pemilik mobil sendiri yang mengendarai mobil Uber, di Jakarta metodenya lain. Mungkin setidaknya untuk saat ini. Apakah karena kesulitan menarik minat para pemilik mobil yang menganggur di garasi untuk menyewakan mobil mereka? Saya kurang tahu tetapi Kamid berkata Uber telah menyediakan segalanya. Baik iPhone dan mobil sudah ada. Ia hanya tinggal menyetir.

“Baru berapa bulan kerja di Uber, pak?” selidik saya.

“Waduh, saya saja baru mulai kerja hari ini!” jawabnya. Itulah mengapa ia masih mendapat skor sempurna, karena seorang ibu yang menuju ke kedutaan Belanda sebelum saya mungkin sudah berbaik hati memberikan skor bintang 5 padanya. Ibu itu baik hati, apalagi kata Kamid, ia sedikit membuat kesalahan. Karena belum terbiasa memakai iPhone, jarinya menyentuh layar saat aplikasi terbuka dan entah kenapa ada sedikit kesalahan soal tarif. Ia meminta maaf dan si penumpang itu memakluminya. “Kepencet trip-nya jadi dia kena cas. Saya telepon atasan saya,’Pak, maaf ini ada trebel (maksudnya ‘trouble‘).

“Kemarin dua hari saya ikut tes sambil lihat video cara kerjanya. Setelah paham dan lulus tes, saya dipanggil kembali.”

“Tes apa?” saya terus menggali informasi.

“Ya… ringan sih sebenarnya,” jawabnya dengan agak berat, terdengar agak menimbang-nimbang pilihan kata yang tepat.

“Biasalah tentang pelayanan konsumen. Bagaimana agar tidak komplain. Beda dari yang di pabrik. Diusahakan kami dapat bintang dari pelanggan antara 4-5. Tapi kami tidak boleh minta.”

“Memang kalau dapat di bawah bintang 3 bisa diberhentikan atau dapat penalti?” tanya saya lagi.

“Ya, bisa di-skorsing 7 hari.”

Obrolan kami tiba-tiba berbelok menjadi lebih personal. Dari peran penyelidik, kini saya yang menjadi terselidik. Kami bertukar informasi usia, asal daerah, latar belakang keluarga, pendidikan.

“Kalau bapak tahu jalan ke tempat tujuan?” ia sekonyong-konyong bertanya.

Apakah ia tak tahu tempat tujuan saya? Ternyata sama saja dengan sebagian sopir taksi burung biru yang hampir buta rute di dalam Jakarta, batin saya.

“Saya kalau [daerah] kota, baru ini,” ia mencoba menjelaskan. Kamid menerangkan mengapa ia sampai kurang paham dengan daerah Sudirman.

Sebelumnya ia bekerja sebagai sopir perusahaan ekspedisi outsourcing. Ia mengaku hanya melewati jalan-jalan protokol, tidak sampai menelusuri jalur-jalur tikus dan gang.

Mobil Toyota Innova kami meluncur ke jalan protokol Sudirman. “Belok kiri, pak,” kata saya begitu kami berada di depan Sampoerna Strategic Building. Kami perlahan menuju ke Senayan dengan kecepatan rata-rata 30-40 km/ jam. Kondisi lalu lintas saat itu pun masih agak lancar. Kami bersiap untuk melewati bottleneck di depan kampus Unika Soegijapranata.

Leave a comment

Filed under entrepreneurship

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s