Stresnya Guru Yoga

“Saya setres!”
“Masak guru yoga stres. Yang benar saja. Kenapa sih? Utang belum lunas?”
“‎Ada murid di kelas. Dia cepat sekali bisa.”
“Bagus dong. Senangnya punya murid cepat bisa!”
“Masalahnya…”
“Apa?”
“Dia bisa pose susah itu cuma sekali coba.”
“Su‎sah seberapa?”
“Handstand…”
“Oh iya ya. Itu memang susah.”
“Padahal aku saja masih latihan dan harus pakai bantuan dinding.‎”
“Ya bagaimana lagi. Terima saja kenyataannya.”
“Kenyataan apa? Kalau bokong dan pahaku besar sampai susah angkatnya?! Aku sudah yoga 23 tahun, masak dikalahin anak bau kencur yang belum juga lahir saat aku mulai yoga?! Sakit rasanya tahu!”
“‎Ya, tapi kan kamu sudah lebih pengalaman. Harusnya bisa legowo.”
“Iya sih. Tapi gimana ya, tetep aja rasanya gimana gitu kalau ga bisa di depan kelas padahal yang baru masuk kelas aja bisa.”
“Itu namanya kamu belum jadi guru yoga.”
“Maksudnya?!”
“Cuma jadi instruktur aja. Kasih instruksi.”
“Oh.”
“Mestinya? Aku bingung.”
“Kamu justru harus mau mengakui kehebatan muridmu itu. Jangan mau mencuri perhatian di kelas untuk diri sendiri. Kamu guru, bukan model. Malah kamu harus bangga kalau ada murid yang lebih hebat daripada kamu.”
“Ok… hmm.”
“Kan kamu jadi terpacu untuk belajar terus juga.”
“Masalahnya itu…”
“Apa?”
“Aku udah capek belajar.”
“Bukannya passion kamu?”
“Males baca dan ‎ngapalin lagi…”

4 Comments

Filed under fiction, yoga

4 responses to “Stresnya Guru Yoga

  1. uci duck himura

    pak pur,saya stress murid saya anak anak ada yang nangis hihi

  2. Instrukturnya kompetitif banget sih. Padahal kan nggak papa kalau muridnya lebih maju.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s