Bagaimana Entrepreneurship Merusak Yoga

Dengan meluasnya kampanye entrepreneurship sebagai cara menciptakan lapangan kerja baru akhir-akhir ini, rasanya semakin berkurang drastis saja jumlah bidang kehidupan yang relatif bebas darinya. Entrepreneurship selalu dijagokan sebagai solusi masalah bangsa, setidaknya itu yang kerap saya dengar dan baca. Karena bangsa ini sudah harus lebih mandiri dalam penciptaan lapangan kerja di dalam negeri, kata mereka. Saya sepakat, apalagi setelah tahu betapa mengerikannya pengaruh pengiriman tenaga kerja kurang terdidik ke mancanegara. Bangsa ini seperti bangsa penjual manusia budak, dan ironisnya semua itu dilakukan secara sah di mata hukum dan yang terjadi dari tahun ke tahun hanyalah pembiaran massal. Akan tetapi, tidak banyak yang cukup peduli atau berani blak-blakan membahas tentang sisi gelapnya. Seorang polisi yg ingin menguak mafia perdagangan manusia misalnya malah dikabarkan mendapatkan pertentangan.

Saya sepakat harus ada cara-cara baru untuk mencari nafkah selain dari mengabdikan diri sebagai karyawan sebuah korporasi sebagaimana yang dilakuk‎an miliaran orang di atas bumi ini, termasuk saya sendiri. Dan entrepreneurship adalah salah satunya.

Namun, sejauh apa entrepreneurship sepatutnya bisa masuk dalam bidang-bidang yang sebelumnya (di awal perkembangannya) dianggap sakral, personal, spiritual, magis dan sosial seperti yoga? Sampai taraf mana para pelaku industri yoga perlu mengendalikan diri agar tidak melanggar batas-batas yang memang kabur dan senantiasa bergerak dinamis itu?

Saya teringat saat siang itu kami berada dalam ruangan bersama sekumpulan orang. Seseorang tanpa malu-malu menanyakan kapan ia bisa “balik modal”.‎ Suaminya – sang pemodal – yang sudah mengucurkan dana untuk mengikuti berbagai pelatihan dan workshop yoga nan mahal itu membombardirnya dengan pertanyaan yang pedas: “Kapan ijazah yoga itu bisa menghasilkan uang, mama?! Ngajarnya jangan gratis terus.”

Terasa miris. Cukup akal memang jika ada kalkulasi semacam itu apalagi bagi mereka yang mengandalkan yoga sebagai sumber mata pencaharian utama dan satu-satunya. Sudah berinvestasi uang sebesar itu, ditambah lagi pengorbanan waktu dan tenaga serta pikiran yang begitu besar. Siapa yang mau rugi dengan hanya belajar saja tapi tak bisa menghasilkan secuil uang sekalipun juga?

Namun, ada sebuah suara yang menjerit dalam nurani. Apakah ini boleh? Apakah ini tak berlebihan? Apakah ini dapat diterima?

(Sumber foto: Uci)

1 Comment

Filed under yoga

One response to “Bagaimana Entrepreneurship Merusak Yoga

  1. uci duck himura

    balik modalnya gak secepat bisnis bakul mie ayam pak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s