Bulu Mata Unta

Jeong-a tak sengaja menatap mata saya saat kami berempat mengantre di Titihan Samirono selama 1 jam lebih siang itu. Tiba-tiba ia berceletuk dalam bahasa Korea. Saya tak paham dan meminta Jeong-hyeon menerjemahkannya pada saya. Bahasa Korea saya minim dan bahasa Inggris Jeong-a sangat kurang. Jeong-a juga tak pernah belajar bahasa Indonesia.

Jeong-hyeon berpikir sejenak dan kemudian berkata,”Your eye lashes are long.

Jeong-a kemudian seolah mengeluh. “Kalau kami wanita Korea mau mendapatkan bulu mata seperti itu, kami harus membeli maskara dan memakainya secara teratur,” begitu kira-kira dari bahasa tubuh dan mimik mukanya.

Jeong-a mungkin tidak tahu, saya pernah membenci bulu mata yang seperti unta ini. Bahkan suatu saat saya memangkas bulu mata ini hingga hampir gundul. Saya berharap ia tak lagi tumbuh terlalu panjang.

Omong-omong tentang bulu mata unta, pernahkah Anda mengamati bulu mata binatang gurun itu? Panjang sekali bukan? Sangat lentik. Mungkin, pikir saya, Jeong-a harus lebih iri pada unta-unta di gurun daripada iri pada saya. Bulu mata unta-unta itu lebih dahsyat, seperti kipas yang bergerak tatkala berkedip. Saat berpikir seperti itu, saya bertanya,”Apakah nenek moyang saya pernah hidup di gurun? Karena saudara-saudara kandung saya tak punya bulu mata seperti ini.” Aneh.

Saya tidak iri dengan unta-unta itu. Saya iri dengan rambut-rambut di janggut Jeong-hyeon.

Saat kami berada di bus menuju tempat makan malam, Jeong-a meminjam iPhone saya dan membuka peramban Opera yang saya instal. Ia membuka Google Korea, lalu meminta saya mencari cara agar ia dapat mengetik hangeul atau aksara Korea di ponsel. Saya atur jenis masukan bahasa papan ketiknya dan ia mengetik selama beberapa saat di tengah perjalanan ke pusat perbelanjaan di malam itu.

Google Translate menjadi jembatan komunikasi saya dan Jeong-a. Ia mengeluhkan bagaimana anak-anak ini tidak tahu berterima kasih karena ia sudah susah payah mengatur acara dan perjalanan agar mulus tak terkendala.

Jeong-a pusing dan stres karena anak-anak yang ia harus atur itu ingin keluar malam juga. Ke klub malam dan minum-minum sambil menari hingga pagi. Padahal besoknya mereka harus mengikuti bootcamp.

Ia meminta solusi agar tidak stres mengatur anak-anak ini. Dan saya katakan melalui Google Translate:” Berikan saja pil tidur.”

Kami tergelak bersama-sama. Jeong-a mengetikkan sesuatu:”Firing.” Ia takut dipecat atasannya sehabis memberi mereka pil tidur.

Leave a comment

Filed under miscellaneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s