Ini Bedanya Orang Korea dan Orang Indonesia dalam Urusan Keamanan Data Elektronik

Semua orang di gerai penjual ponsel besar itu memandang‎ nanar pada kami berdua sore tadi. Bukan saya yang berbuat onar, atau melakukan perbuatan kriminal dan tidak beradab. Teman saya si orang Korea itu juga tidak. Ia hanya tidak bisa memahami mengapa data finansial sepeka nomor kartu kredit dan akhir masa berlaku kartu kreditnya di‎catat oleh pihak penjual.

Drama berawal saat orang Korea yang sebut saja dengan Ryu itu mengajak saya masuk ke gerai ponsel pintar di pusat perbelanjaan. Ia mau beli satu ponsel lagi. “Saya mau beli satu lagi yang lebih jelek untuk nomor Indonesia buat menghubungi kalian bulan depan. Yang bagus sudah ada,” terangnya sambil melirik Samsung Galaxy seri teranyar di genggamannya. Sepuluh juta harganya, kata dia. Kami berkeliling, bertanya-tanya tentang spesifikasi, harga, dan kemampuan ponsel dipakai di seluruh dunia. Nokia, tidak. Samsung, sudah ada. Smartfren, cuma lokal di Indonesia. Maklum Ryu sangat aktif menjelajah dunia. ‎Konon, ia sudah menjejakkan kaki di 35 negara.

Karena pengalaman bepergian yang sering itulah ia juga menjadi sangat waspada. Setelah mengalami kejadian pembobolan kartu kredit di Thailand karena kecerobohannya membiarkan data kartu kreditnya begitu saja pada pihak penjual barang atau jasa, tingkat kewaspadaannya makin tinggi dalam setiap transaksi.

Ia memilih Huawei layar sentuh yang harganya cuma Rp1,2 juta itu. Tak punya uang tunai, ia keluarkan kartu kredit itu.

Semuanya tampak normal, wajar dan mulus. Pegawai tersenyum. Saya dan Ryu senang menerima hadiah gantungan kunci dari mereka.

Kartu kredit digesekkan dan begitu keluar kertas hasil transaksi, si pegawai yang tampak tenang itu meminta tanda tangan Ryu.

Air muka Ryu berubah murka. Nada suaranya meninggi. Ia sungguh gusar tatkala menemukan pegawai itu mencatat nomor kartu kredit dan akhir masa berlakunya di bukti transaksi yang disimpan pihak penjual.

“Ini ilegal!” suaranya menggelegar. Dalam bahasa Inggris, ia mengoceh tentang bagaimana ia sudah bepergian dan menggunakan kartu kredit di mana-mana tetapi baru kali ini ia mendapati datanya dicatat tanpa persetujuannya.

Pegawai itu menjawab pelan,”Ini untuk catatan kami, pak.” Saya sebagai penerjemah menyampaikan itu pada Ryu. Ia tetap tak terima.

“Bagaimana kalau data kartu kredit saya bocor dan disalahgunakan?!! Siapa yang mau tanggung jawab?? Tidak boleh dicatat!” ia geram dan mencoret-coret catatan nomor kartu kredit tadi dengan harapan agar data kartu kreditnya aman.

‎Pegawai itu memanggil bala bantuan. Seorang wanita yang mungkin supervisornya maju dan ikut menyaksikan. Mukanya keruh. Beberapa pegawai mengelilingi kami. Suasana toko berubah mencekam. Sedikit mencekam.

“Saya mau bicara dengan atasan kalian! Customer service! Cepat!” Sejurus wanita tadi beranjak masuk.

“‎Bapak, ini sudah SPO (standard operational procedure) kami jika bertransaksi dengan kartu kredit di sini,” terang si pegawai. Dan selama ini tak ada yang mempermasalahkan. Karena bodoh atau abai atau percaya sekali? Entahlah.

Ryu bersikeras tindakan pencatatan itu ilegal dan sama sekali tak bisa diterima.

‎Hanya ada dua opsi, kata seorang pegawai pada kami, pembelian dibatalkan atau memakai opsi pembayaran lain. Ryu memilih membatalkan.

“Maaf pak, gantungan kuncinya juga dikembalikan ya,” kata si pegawai malang itu lirih. Ryu yang masih menggenggam gantungan kunci itu menyadarinya dan membuka tangannya lalu melempar lembut hadiah itu ke meja pamer gawai. Ekspresi wajahnya seperti orang jijik.

Kami melenggang dari toko yang menggunakan brand besar dan terkenal itu tanpa ‎membawa apapun kecuali pengalaman: jangan percayakan data-data keuangan Anda dengan mudah pada orang lain.

Saat kami beberapa langkah jauhnya dari toko tadi, saya teringat dengan peretasan massal pada sejumlah pihak penerbit kartu kredit di Korea. Saya bertanya apakah itu juga yang mendasari kekhawatirannya. Tentu saja, ia berujar. Kalaupun tidak diretas besar-besaran, bisa saja kartu kreditnya dibobol dalam jumlah yang samar karena begitu kecil dan remeh tetapi dilakukan secara teratur oleh para peretas atau pihak yang tak bertanggung jawab. Dan kalau bukti transaksi sudah begitu meyakinkan karena kecerobohan sendiri, bagaimana bisa bank mengatakan Anda bebas dari penagihan? Anda tetaplah yang harus membayar tagihan itu.

Leave a comment

Filed under miscellaneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s